Umumnya kalau kita beternak, produk hewan yang diternakkan adalah yang punya hasil komersial macam telur atau ayam, daging domba, atau susu sapi. Namun, yang terjadi di Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, agak aneh. Di sana banyak penduduk yang beternak nyamuk untuk "dipanen" jentik-jentiknya.

Semula saya bingung juga, kok nyamuk diternakkan. Bukankah seharusnya dibasmi? Tetapi setelah mendapat cerita mereka, saya jadi mengerti.

Untuk beternak nyamuk, mereka mengisi tempurung kelapa, potongan bambu, dan kaleng-kaleng bekas dengan air hujan. Wadah berair tadi diletakkan di tempat-tempat teduh yang merupakan tempat favorit bagi nyamuk Aedes aegypti bersarang.

Beberapa minggu kemudian di dalam airnya akan ada jentik-jentiknya. Lalu? Ya dipanen. Namun, bukan untuk dijual, melainkan air dan jentik-jentik tadi dibuang di tanah kering. Kata mereka, dengan cara begitu mereka dapat mengontrol populasi nyamuk penyebab demam berdarah itu. Nyamuk-nyamuk itu tidak lagi berkembang biak di tempat-tempat yang tidak mereka ketahui. Akhirnya, angka kejadian demam berdarah bisa ditekan.
 
#dari: intisari
 
Dulu, di Sintang juga (di Simpang Lima Baning), waktu demam ikan louhan, saya sempat pula beternak jentik nyamuk di dalam kaleng atau botol air minum untuk memberi makan ikan louhan yang masih kecil-kecil.
Tapi tidak banyak menghasilkan jentik nyamuk, tapi kalau tidak dipelihara, wah bukan main banyaknya nyamuk penyebab demam berdarah itu.
loading...