Buat orang yang tinggal di sekitar hutan jati pasti tidak asing dengan nama binatang yang satu ini, ‘Enthung”. Enthung sesungguhnya merupakan kepompong dari ulat pohon jati yang hendak jadi kupu kupu. Ulat - ulat ini memakan daun jati yang sedang menghijau hingga habis sehingga tinggal kerangka daunnya. Ulat yang sudah bersiap jadi kepompong biasanya akan turun ke tanah untuk siap - siap bermetamorfosa menjadi kepompong. Nah kepompong inilah yang orang - orang sekitar menyebutnya sebagai enthung.

Enthung biasanya menempel di bawah serakan sampah ataupun daun jati yang jatuh ke tanah. Bahkan ada beberapa di antaranya yang terpendam di bawah tanah. Musim enthung biasanya datang setahun sekali beberapa saat setelah datangnya musim hujan. Enthung berwarna coklat tua sampai kehitaman dengan ukuran panjang kira - kira 2 cm. Konon enthung mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi.

Pada saat datang musim enthung, orang sekitar akan berbondong - bondong ke hutan untuk mencari si enthung ini. Ada beberapa orang memanfaatkannya sebagai pakan burung berkicau, tetapi kebanyakan orang memanfaatkannya untuk di konsumsi. Bagi orang yang sudah biasa memakannya, akan mengatakan enthung ini sangat lezat bila dimasak dengan cara digoreng atau ditumis dengan beberapa bumbu. 

Tapi bagi yang tidak biasa jangan coba - coba. Bagi sebagian orang, enthung bisa menyebabkan alergi berupa gatal - gatal di sekujur tubuh, orang jawa biasa menyebutnya ‘biduren’.  Gatal-gatal ini dengan mudah dapat diobati dengan obat anti alergi dari toko obat atau apotek.

Sampai sekarang enthung masih cukup diminati, jika telah tiba musim enthung banyak orang mencarinya untuk kemudian dijual, harganya juga lumayan untuk sekedar membeli kebutuhan dapur.

#dari internet

loading...