Bandung identik dengan sejuta makanan nan nikmat bagi pecinta kuliner. Bandung juga telah menjadi surga fesyen bagi penikmat busana murah ala factory outlet.

Maka, jika suatu saat Anda pergi ke Bandung, cobalah beberapa makanan baru di sana. Sudah bukan zamannya kalau datang ke Bandung hanya karena ingin makan bakmi di Jalan Kejaksaan atau Lotek Kalipah Apo. Salah satu makanan baru di Bandung adalah perkedel bondon. 
 
Bondon dalam bahasa Sunda berarti ‘wanita malam yang masih muda belia’. Makanan ini disebut perkedel bondon karena primadona yang pulen ini nongolnya baru menjelang tengah malam di sebuah warung Jalan Kebonjati, masuk emplasemen stasiun lama Bandung. 

Warungnya sendiri sudah buka sejak pukul 21.00. Jualannya standar. Nasi dengan lauk ayam, gepuk (empal), tahu, dan tempe. Menjelang tengah malam, mulai muncul antrean di depan warung. Jangan heran kalau melihat beberapa abang becak ikut antre. Mereka adalah joki yang berdiri di antrean untuk orang-orang yang memesan mereka agar datang lebih dulu. 

Konon, model antrean seperti ini sering terjadi di BreadTalk dan J.Co Donuts, dan ini adalah marketing gimmicks untuk membuat jualannya laku. Begitu Anda lolos dari antrean dan mendapat beberapa potong perkedel bondon yang panas, maka rasanya sebetulnya tidak beda-beda amat dengan perkedel-perkedel kentang lainnya. Semua perkedel panas akan memberi sensasi rasa yang sama, yaitu crispy dan renyah di luar dan pulen di dalam karena kentangnya ditumbuk sampai halus. Rasa asin yang berlebih juga tidak terasa ketika makanan masih panas, malah meningkatkan cita rasanya. 

Harga sepotong perkedel bondon Rp 600. Murah-meriah! Popularitas tidak membuat mereka pasang harga semau perut sendiri. Satu hal yang boleh dibilang unik tentang perkedel bondon adalah cocolannya. Perkedel dicocol pakai sambal terasi.

#sumber: suara karya, 2007


loading...