Pusat Antar Universitas (PAU) Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil membuat produk baru berupa permen yang terbuat dari rayap kayu kering. 

Penemuan ini seakan menghilangkan kesan bahwa binatang ini tidak selamanya membawa petaka bagi manusia karena ulahnya menggerogoti kayu di sejumlah bangunan dan gedung. 

Dengan komposisi kandungan gizi yang terdapat dalam serangga yang biasa dianggap hama perusak ini, disertai cara pembuatan dan penambahan berbagai aroma, dipastikan permen ini akan digemari masyarakat, ujar pakar rayap IPB, Prof Dr Ir Dodi Nadika, Kamis. 

Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa rayap kayu kering `cryptotermes cyno-cepphalus light` mengandung protein yang cukup tinggi yaitu sekitar 14,2 persen dari bobot basah tubuh atau 55,7 persen dari bobot kering tubuh. 

Selain itu, katanya, rayap jenis ini juga mengandung karbohidrat 10,2 persen dan lemak 25,2 persen terhadap bobot kering tubuh. 

Atas dasar potensi kandungan gizi yang dimiliki rayap jenis ini, dan ditunjang oleh kenyataan bahwa di beberapa daerah pedesaan rayap jenis ini biasa dikonsumsi masyarakat, maka mendorong pihak PAU-IPB mencoba mencari manfaat dari rayap. 

"Rayap jangan dimusuhi, tetapi dijadikan kawan dan dimanfaatkan," sambungnya. 

Dipilihnya permen sebagai komoditi yang dijadikan produk yang memanfaatkan rayap, menurut dia, karena makanan jenis ini termasuk yang disukai seluruh lapisan masyarakat. 

Dari berbagai jenis permen yang beredar di pasaran saat ini, terdapat produk jenis permen yang khas dan ternyata cukup menarik yaitu jenis permen jelly yang terbuat dari sari buah-buahan. 

"Hanya sebagian besar permen jenis ini masih diimpor dari sejumlah negara. Ada pula sebenarnya permen buatan dalam negeri, namun sampai saat ini belum ada yang menyamai mutu produk luar, terutama dalam rasa dan tekstur," tuturnya. 

Hal itu yang mendorong konsumen cenderung memilih produk impor, walaupun harganya mahal. 

"Atas dasar inilah kemudian muncul pemikiran alangkah menariknya apabila dapat dibuat jenis permen yang diperkaya dengan nutrisi berupa protein rayap," tandasnya. 

Pembuatan Tidak Sulit 

Pembuatan permen berprotein rayap ini tidak sulit. Yang harus dilakukan adalah membuat pekatan protein dan pembuatan formulasi permen. Proses pembuatan pekatan protein ini dimulai dengan penghancuran tubuh rayap, disusul dengan pemisahan proteinnya melalui metoda pengaturan pH dan pengendapan. 

Pekatan protein tersebut dicampur dengan HFS (sirup fruktoa tinggi) dan kemudian dimasak pada suhu 70-100 derajat celcius. "Ke dalam campuran ditambahkan gelatin, dan selanjutnya dilakukan proses penghilangan busa, pendinginan dan pencetakan," ujarnya. 

Menurut Dodi, permen rayap yang berhasil dibuat PAU-IPB ternyata sangat menarik penampilannya, bukan saja karena bentuk dan ukurannya yang beraneka ragam serta unik, tetapi juga karena warnanya yang dibuat meriah. 

Rasanya pun dapat disesuaikan dengan selera konsumen atau permintaan pasar. "Aroma asli sang rayap sebagai bahan dasar dapat dikendalikan melalui penambahan `flavoring agent," sambungnya. 

Dikatakan, pemanfaatan rayap menjadi permen jelas sangat menarik. Bukan saja karena dapat menunjang upaya pengendalian hama perusak kayu, tetapi juga karena merupakan proses nilai tambah. 
Dari organisme perusak yang secara ekonomis tidak berharga, diubah menjadi bahan makanan yang bergizi dan berpenampilan menarik, sehingga sesuai bagi konsumen menengah ke atas.

Hanya saja, yang menjadi tantangan sekarang, sudah siapkah untuk membudidayakan rayap dalam skala komersial, demikian Dodi Nadika. 
 
sumber: bogor, antara 
loading...