Remaja yang suka nonton film biru, jelas bukan sedang belajar seks. Tetapi sedang merusak dirinya sendiri.

Setelah malamnya saya mimpi gituan, saya tanya sama ortu apa artinya dan mengapa saya mimpi kaya gitu. Tapi mereka Cuma bilang ya udah, kamu harus pandai menjaga diri dan jangan dekat-dekat kalau ngobrol sama cewek," cerita Sofyan, siswa SMU negeri di Jakarta, ketika memperoleh kesempatan menjadi berbicara pertama dalam talkshow Pendidikan Seks Remaja di Lingkungan Keluarga, antara harapan dan kenyataan Sabtu (12/10) lalu.

Lagi-lagi soal seks remaja. Topik yang satu ini memang menarik untuk terus kita ulas dengan tujuan baik. Sebab tak semua remaja mendapat kesempatan mengeluarkan uneg-unegnya soal seks kepada orang yang tepat. Alih-alih, apa yang kita ketahui menjadi salah. Jadi kita remaja yang terjerumus.

Sofyan contohnya. Ia memiliki ortu yang susah diajar berbicara soal seks. Setiap kali ditanya, jawabannya bukan sekali memperjelas, malah semakin membingungkan. Beruntung ia masih bisa mengendalikan dirinya dengan mencari pengetahuan yang benar di luar rumah. Jika tidak, pertanyaan yang butuh segera jawaban dan pertimbangan itu akan terus ada dipikirannya. Hingga suatu hari ketika gejolaknya tak bisa dibendung lagi, ia bisa nekat melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya. Sofyan mungkin lebih beruntung karena berani bertanya ke ortu, rekannya Luciana, malah mengaku tak berani bertanya soal seks ke bokap/nyokap. "Tanya ke ortu malu sih," katanya. Pendidikan seks diperoleh Luci (begitu siswa kelas 2 SMU swasta Jakarta ini biasa di panggil) dari guru BP di sekolah. Tapi ia tetap tidak puas karena apa yang ingin diketahuinya Cuma diberi sedikit.

Beruntunglah suatu hari Luci bertemu dengan Yayasan Pelita Ilmu (YPI). Disini ia mulai menggali informasi seputar seks dan segala bahannya. Luci mulai tahu kalau seks bebas bisa menularkan beragam penyakit. Saat itulah ia mulai bertekad untuk mulai berhati-hati dalam bergaul.

Memang kata Nunik, wakil ortu yang ikut berbicara pada talkshow tersebut, ortu terkadang risih bila ditanya soal seks oleh anak-anaknya. Apalagi kalau diminta penjelasan secara detail. Tapi bila tak utuh, si anak bisa salah tanggap. Serba salah deh pokoknya.

"Bagaimana dong caranya menghadapi ortu kalau kayak gini? Apalagi pakai acara marah-marah dan curiga segala" kata Wulan dalam sesi tanya jawab bersama psikolog Ieda Poernomo Sigit Sidi.

"Jangan berkecil hati" kata bu Ieda. Pertama-tama, kamu nggak boleh menyalahkan orang tuamu kalau mereka nggak mau menjawab panjang lebar. Mereka itu bukannya nggak mau, tapi nggak siap. Nah, kamu bisa mencari tahu diluar rumah, tentu kepada orang yang tepat. Misalnya apa yang dilakukan Luci dengan mendatangi guru BP di sekolah atau yayasan bergerak di bidang seks remaja. Hidup ini penuh alternatif. Jadi jangan cepat menyerah kalau kamu tidak menemukan apa yang kamu ingin ketahui," kata bu Ieda.

Tabu, memang begitulah ketika seks dibicarakan. Buat orang awam, seks pastilah dianggap nggak jauh dari cara-cara berhubungan badan. Padahal, kata bu Ieda, semua itu tidak benar. Misalnya, remaja yang menonton filem bokep(film biru) jelas bukan sedang belajar seks. Tetapi justru sedang merusak dirinya.

Pendidikan seks sebetulnya adalah belajar mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku yang benar untuk menghindari hal-hal negatif dari aktifitas seks itu sendiri. Mengapa pendidikan ini seolah lebih khusus buat remaja, sebenarnya, kata Bu Ieda pendidikan seks mengenal usia. Namun secara psikologis remaja memiliki emosional yang labil. Karena itu pengetahuan seks yang benar sangat dibutuhkan demi perkembangan psikologis yang baik. Nah, orang yang paling ideal memberi penjelasan seks ini adalah orang yang paling dekat dan orang yang paling perduli dengan remaja. Orang tersebut adalah ortu. "Agar informasi itu lebih tepat mengena kalian yang perempuan hanyalah pada ibu, dan yang laki-laki pada ayah. Masa tanya sama ibu," terang Ieda.

Idealnya lagi, kata Bu Ieda, pendidikan seks mulai dikenalkan pada anak saat anak berusia tiga tahun, mereka sudah muncul kelakuannya. Bila belum mencapai usia tiga tahun, biasanya anak-anak tak membedakan apa yang dilihatnya. Laki-laki sama saja dengan perempuan.

Kesalah pahaman juga sering terjadi pada remaja putri yang menganggap haid sebagai suatu yang hina. Mereka sering menilai darah haid sebagai darah kotoran. "Secara anatomi tak ada darah yang kotor. Kalau jatuh ditempat yang tak semestinya itu baru namanya mengotori. Jadi jangan kecil hati kalau haid, justru harus bersyukur," jelasnya

Umumnya kata Ieda, haid pertama pada wanita terjadi pada usia antara sembilan hingga sepuluh tahun. Yang mempengaruhinya adalah gizi yang baik, bukan karena genit lantas haid.

Camkanlah, bahwa yang pertama bisa menolong kita dari berbagai keluhan seks adalah diri kita sendiri. Sejauh mana kita bisa meminta pertolongan dan terbuka pada orang lain. "Jangan biarkan dirimu larut dalam persoalan. Ceritakanlah pada orang tua atau datang langsung pada orang yang kalian percayai," kata Bu Ieda. Jika ia sendiri sudah dikenali, insya Alloh penyimpangan seks bisa terhindari.

Jangan lupa kalau libido sedang naik, sebaiknya carilah kegiatan lain agar konsentrasi pikiran tidak kepada seks. Setiap orang mempunyai kebiasaan sendiri-sendiri dalam mengalihkan hasrat seksualnya.

#republika

loading...