Keputihan Juga Bisa Menyerang Balita


Penyakit keputihan ternyata tidak saja menyerang perempuan dewasa, tetapi juga bayi dan anak-anak. Waspadai jika anak perempuan Anda suka menggaruk-garuk alat kelaminnya karena gatal, terlebih jika di celana dalamnya terlihat ada cairan keruh berwarna kekuningan.

"Banyak orangtua yang tidak menyadari anaknya menderita keputihan. Padahal, bila penyakit itu dibiarkan berlarut-larut, bisa menimbulkan komplikasi karena infeksinya meluas hingga ke kelenjar-kelenjar dalam kelamin dan organ reproduksi lain," kata dokter spesialis kulit dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (FKUI/ RSCM), dr Tina Wardani Wisesa, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (14/4). Pada kesempatan itu dr Tina didampingi dr Hanny Nilasari dan dr Shaznaz Nadia Yusharyahya.

Dr. Tina menjelaskan, keputihan adalah semua cairan yang keluar dari vagina selain darah. Dalam bahasa kedokteran, gejala itu disebut fluor albus, leukorrhea, vaginal discharge, atau awam sering menyebutnya pektai. Keputihan dibedakan menjadi dua, yaitu keputihan fisiologi atau normal dan patologis atau penyakit. "Jadi, tidak semua keputihan adalah penyakit. Pada anak pun, keputihan normal juga bisa terjadi. Untuk itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui indikasinya," tutur dr Tina.

Ia menyebutkan, adanya indikasi keputihan bisa dilihat dari jumlah cairan, warna, bau, dan konsistensi atau kekentalan. Pada keputihan normal, jumlah cairannya sedikit. Sedangkan keputihan penyakit, jumlahnya lebih banyak. Warnanya pun berbeda. Jika putih jernih adalah keputihan normal, sedangkan jika berwarna kuning, cokelat, kehijauan, bahkan kemerahan merupakan keputihan penyakit.

"Dicium dari baunya, pada keputihan normal, bau yang ditimbulkan tidak menyengat dan khas. Pada keputihan penyakit, bau yang ditimbulkan bisa asam, amis, atau bahkan busuk. Jika dilihat dari kekentalan, pada keputihan normal cairan yang keluar biasanya agak lengket, sedangkan pada keputihan penyakit, cairannya bisa cair atau putih kental seperti kepala susu," tuturnya.

Dr Hanny menambahkan, ada dua hal yang menjadi faktor pendorong keputihan, yaitu faktor endogen dari dalam tubuh dan faktor eksogen dari luar tubuh yang keduanya saling memengaruhi. Pada bayi atau anak, yang menjadi penyebab keputihan adalah kelainan pada lubang kemaluan. Misalnya, faktor endogen (sawar kulit) atau permukaan kulit sebagai pintu masuk mikroorganisme karena masih sangat tipis dan rentan serta mudah mengalami peradangan.

Dua Faktor Penyebab

Faktor penyebab lainnya bisa karena bibir luar kemaluan balita belum berkembang, lemaknya masih tipis, dan menyebabkan lubang kencing maupun lubang kemaluan (vestibulum) belum terlindungi maksimal. Ini juga memudahkan terjadinya peradangan. Kemaluan belum ditumbuhi rambut, yang pada orang dewasa berfungsi sebagai pelindung.

"Letak lubang kemaluan pada bayi dan anak juga masih sangat dekat dengan anus, sehingga mudah terkontaminasi oleh bakteri dari anus maupun iritasi akibat feses (kotoran)," tuturnya.

Hal lainnya adalah pH atau keasaman vagina cenderung netral dan basa (alkalis). Ini memudahkan bakteri berkembang biak walau sulit bagi jamur yang lebih suka keadaan asam-seperti yang sering dijumpai pada wanita dewasa.

"Hingga usia dua bulan, kadar hormon estrogen yang terbawa dari ibu masih tinggi. Keadaan ini memengaruhi jumlah cairan vagina. Pada anak prapubertas, peningkatan kadar hormon estrogen terjadi lagi sehingga memengaruhi peningkatan produksi cairan yang melapisi dinding vagina," katanya.

Jika dilihat dari faktor luar atau eksogen, lanjut dr Hanny, dibedakan menjadi dua, yakni yang disebabkan oleh infeksi dan noninfeksi. Untuk infeksi, bisa disebabkan oleh bakteri (Haemophilus influenzae, Shigella eischeria coli, Chlamydia trachomatis, dan sebagainya), jamur (candida), parasit (Trichomonas vaginalis, Oxyuris enterobius vermicularis), dan cacing kremi.

Sedangkan faktor noninfeksi, bisa disebabkan masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak. Pada bayi, hal ini biasanya terjadi apabila kapas atau tisu yang dipakai untuk membersihkan kotoran ada yang tertinggal. Sementara pada anak, benda asing yang masuk biasanya pasir karena anak-anak suka duduk dan bermain di manik-manik, biji-bijian, atau bubuk krayon.

"Akibatnya terjadi peradangan pada vulva (lubang luar vagina) atau pada liang vagina yang kemudian menimbulkan keputihan," katanya.

Tidak Bersih

Kebiasaan lainnya adalah cebok yang tidak bersih. Anak bayi dan batita biasanya masih diceboki, sehingga sisa kotoran yang tertinggal bisa dibersihkan secara saksama. Namun, setelah agak besar, biasanya anak sudah malu dan orangtua pun menganggapnya bisa cebok sendiri. Padahal, mungkin ceboknya tidak bersih benar. Akibatnya terjadi infeksi yang menyebabkan keputihan.

"Daerah sekitar kemaluan lembap. Misalnya, setelah buang air kecil, daerah kemaluan anak tidak dikeringkan secara saksama sehingga celana dalamnya basah dan menimbulkan kelembapan di sekitarnya. Ditambah sisa air seni yang dapat menyebabkan iritasi dan gatal, sehingga nantinya muncul reaksi keputihan," ujarnya.

Pada anak usia 5 sampai 10 tahun, lakukan pengecekan kebersihan alat kelamin dan anggota badannya paling tidak seminggu dua kali. Pada usia ini, anak paling rentan mengalami keputihan karena ia sudah tidak mau diceboki, sementara keterampilan merawat organ kelaminnya belum dikuasai benar.

Kesalahan yang banyak dilakukan orangtua yang menimbulkan keputihan adalah menaburkan bedak terlalu banyak pada daerah kelamin bayi dan anak usai mandi atau berganti popok. Sebab, serbuk bedak itu merupakan benda asing yang dapat menimbulkan keputihan.

"Jika ingin membedaki lipatan kulit di sekitar paha, tolong alat kelaminnya ditutupi dengan tangan agar tidak ada serbuk bedak yang masuk," kata dr Hanny memberi saran.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian orangtua adalah meminta pada anak untuk tidak menahan apabila ingin buang air kecil akibat keasyikan bermain. Akibatnya, air kencing menetes sedikit-sedikit yang membuat daerah itu rawan iritasi, lembap, dan gatal. "Karena gatal, maka anak menggaruk daerah vagina dengan tangan yang kotor. Akibatnya, bibit penyakit di tangan pindah ke vagina dan menyebabkan keputihan," katanya.

Jika bayi buang air besar, kata dr Hanny, jangan hanya dibersihan dengan menggunakan tisu atau kapas basah. Biasakanlah menggunakan air bersih yang mengalir dengan menggunakan sabun bayi. Setelah itu, keringkan dengan handuk, beri bedak di sekitar lipatan paha agar bayi nyaman dan bersih.

Dengan memahami gejala, penyebab, dan pencetus keputihan pada bayi dan anak, lanjut dr Hannya, kejadian keputihan bisa dicegah agar tidak terulang. Jika ditemukan ada gejala, orangtua perlu segera membawa anaknya ke dokter agar bisa diketahui secara pasti penyebab keputihan.

Di RSUP Cipto Mangunkusumo, jumlah kasus keputihan pada anak usia 5-12 tahun tercatat rata-rata 10 penderita per tahun. Sejauh ini, tim medis dari RS itu lebih banyak menangani anak penderita keputihan yang dirujuk dari pusat krisis terpadu dengan dugaan sebagai korban pelecehan seksual. "Perlu diwaspadai kemungkinan adanya pelecehan seksual pada anak yang keputihan dengan penyebab infeksi menular seksual," ujar dr Hanny menandaskan.
2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates