Setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda-beda pada saat mengetahui dirinya HIV positif. Beberapa reaksi yang dibahas di sini adalah reaksi yang normal terjadi pada saat seseorang mengalami tekanan mental/stres yang besar. Seseorang mungkin bisa berubah dari satu respon ke respon berikutnya sampai akhirnya sampai pada situasi menerima hasil tersebut, atau perasaan mereka akan tetap berubah-ubah. Suatu hari mereka merasa sangat menolak hasil dan kesepian, di hari lain mereka merasa penuh harapan dan kekuatan. Hari lain merasa depresi/tertekan, hari berikutnya merasa marah.

Beberapa rekasi tersebut antara lain :

Syok (shock)

Bagaimanapun seseorang mempersiapkan diri, adalah sangat mengejutkan untuk menerima kenyataan dirinya sudah terinfeksi HIV. Orang tersebut mungkin merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pada saat seperti ini sangat baik bila  orang tersebut didampingi seseorang yang sangat mereka percaya.

Penolakan hasil/penyangkalan (denial)

Pertama kali mereka mungkin tidak bisa percaya bahwa mereka mengidap HIV/AIDS. Kadang-kadang mereka berpikir bahwa dokter melakukan kesalahan atau menyangkal karena merasa masih sehat. Tidak mempercayai hasil adalah tekanan yang kuat pada orang yang kebigungan untuk melindungi dirinya dari AIDS itu sendiri. Menghadapi mereka dengan keadaan demikian, jangan marah atau bersikap tidak sabar. Cobalah untuk menjelaskan kembali pengertian pengidap HIV/AIDS, ini adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah penolakan hasil.

Marah-marah

Seseorang mungkin marah-marah setelah mengetahui dirinya positif HIV. Hal ini seringkali dijumpai dan bisa terjadi mereka menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain yang telah menularkan HIV pada dirinya. Kadang-kadang seseorang bahkan menyalahkan Tuhan.

Perasaan marah memang normal, tetapi ini tidak membantu menyelesaikan masalah, karena fokus mereka adalah menyalahkan orang lain (marah kepada penular HIV) dan menyalahkan diri sendiri (merasa bersalah), daripada mengambil tindakan yang positif. Berbicara dengan seseorang (orang yg paling dipercaya, atau oranga yang megerti masalah) dapat membantu mengurangi perasaan ini dan membantu mereka untuk menerima situasi yang ada.

Kemarahan adalah reaksi yang sulit untuk diatasi, terutama bila kemarahan tersebut ditujukan kepada diri Anda. Anda harus berusaha untuk mengerti dan tidak menanggapi kemarahan orang tersebut, walaupun memang sangat sulit menerima kemarahan tanpa bereaksi.

Kompromi (bargaining)

Seseorang dengan HIV mungkin mencoba berkompromi dengan dirinya dengan berpikir, misalnya: “Tuhan akan menyembuhkan saya jika saya berhenti menemui Pekerja Seks” atau “Saya akan sembuh, dan penyakit ini akan hilang”. Dalam keadaan ini, orang tersebut perlu dibantu untuk mengatasi perasaan ini dengan memberikan penjelasan/informasi yang benar tentang HIV, mengambil sisi positif mengetahui status HIV secara dini.

Ketakutan

Seseorang dengan HIV/AIDS merasa takut pada beberapa keadaan seperti: rasa sakit, kehilangan pekerjaan, ketahuan orang lain, ditolak masyarakat, meninggalkan keluarga/anak, ketakutan pada kematian.

Ketakutan ini akan berkurang bila mereka dapat berbicara dengan orang yang tahu masalah yang ditakutkan. Pada akhirnya orang dengan HIV/AIDS tahu bahwa mereka takut pada sesuatu yang tidak perlu. Misalnya dengan menunjukkan bahwa tetap ada orang-orang dengan HIV positif, bisa menunjukkan kasih sayang dan kebaikan  pada orang lain daripada merasa ketakutan akan sesuatu yang tidak perlu.

Kesepian

Orang positif HIV sering merasakan ini. Perasaan ini sering datang dan pergi untuk wak-tu yang cukup lama dan sangat tergantung dari adanya dukungan keluarga dan teman-temannya. Siapapun dengan HIV harus sering diingatkan bahwa mereka tidak sendiri, mereka dikelilingi oleh keluarga, teman dan kelompok masyarakat yang peduli pada mereka. Juga perlu diingatkan bahwa banyak juga orang lain yang terinfeksi HIV.

Bantu keluarga dan kelompok masyarakat untuk mengerti bahwa orang dengan HIV/AIDS membutuhkan kebersamaan. Di antara orang-orang yang terinfeksi dapat membentuk kelompok dan menyediakan tempat berbagi dan dukungan satu sama lain.

Menurunnya rasa percaya diri  

Seseorang dengan HIV mungkin berpikir bahwa orang lain melihat dan membicarakan dirinya. Ini membuat mereka ingin sembunyi, kadang-kadang merasa tidak nyaman untuk berteman.

Kita dapat membantu mereka untuk tidak bersembunyi atau merasa tersisih dengan cara mendorong mereka untuk tetap aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan. Ini dapat meningkatkan penerimaan masyarakat dengan menunjukkan pada dunia bahwa orang dengan HIV/AIDS adalah anggota masyarakat yang mempunyai nilai di masyarakat, sama seperti yang lainnya.

Bantulah agar penderita HIV berpikir positif terhadap dirinya dan merasa bangga pada dirinya. Tekankan bahwa mereka masih tetap penting!

Rasa tertekan/depresi

Seseorang dengan HIV mungkin berpikir tidak ada lagi alasan untuk tetap hidup. Mereka merasa tidak berguna, ingin tetap tinggal di rumah, tidak ingin makan, dan tidak ingin berbicara dengan orang lain.

Keadaan depresi dapat membuat seseorang merasa lemah pada tubuh dan pikiran. Kita harus mencoba membantu pengidap HIV mengatasi keadaan ini dan tidak menyerah. Doronglah mereka untuk memakai baju yang bagus, mengunjungi teman-teman, menyibukkan diri dengan kegiatan, membantu orang lain, dan memikirkan keluarga/anak/teman-teman yang masih membutuhkannya.

Penerimaan

Setelah beberapa lama, seseorang dengan HIV biasanya mulai bisa menerima keadaannya. Ini akan membantu membuat mereka merasa lebih baik. Seperti halnya seseorang yang sudah lebih tenang pikirannya, akan mulai memikirkan jalan terbaik dalam menjalani kehidupan. Mereka mungkin akan berpikir: “Apa hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk mengisi sisa hidup saya?”; “Apa makanan terbaik yang dapat membuat saya tetap sehat?’, “Apa rencana saya untuk masa depan anak-anak saya?” dan sebagainya.

Harapan

Kita semua dapat membantu pengidap HIV/Aids agar tetap mempunyai harapan dalam banyak hal, misalnya:
  • Harapan agar mereka dapat panjang umur.
  • Harapan supaya bayi mereka tetap sehat.
  • Harapan bahwa setiap kesakitan akan terobati.
  • Harapan karena mereka dicintai dan diterima apa adanya.
  • Harapan obat yang menyembuhkan akan segera ditemukan.
  • Harapan karena kepercayaan ada kehidupan setelah kematian.

Adalah sangat penting untuk mempunyai harapan. Harapan dapat meningkatkan semangat dan memberikan kekuatan untuk menghadapi situasi yang sulit. Harapan dapat membantu seseorang untuk melawan HIV/AIDS untuk hidup dengan lebih positif dan lebih lama.

Ingat, bila seseorang mempunyai harapan hari ini, adalah mungkin untuk merasa marah ataupun tertekan keesokan harinya. Ini adalah normal. Bahkan orang tanpa HIV/AIDS mengalaminya juga. Yang penting adalah berusaha untuk selalu menghidupkan harapan.

Catatan: Seseorang dengan HIV/AIDS, keluarga, tetangga pengidap, seringkali merasa takut bahwa perasaan negatif seperti dijelaskan di atas akan menjadi sangat kuat. Perasaan-perasaan negatif tersebut tidak dapat, dan tidak seharusnya dihindari. Hal tersebut adalah reaksi normal terhadap krisis. Keluarga, teman, tetangga, dan siapapun yang peduli, dapat membantu mengatasi perasaan ini dengan cara mendengarkan dan membicarakan tentang perasaan negatif tersebut.


edited: Konseling HIV/Aids
loading...