PENDAHULUAN

Membicarakan hal ikhwal seksual sering menimbulkan asosiasi pikiran tertentu yang merupakan dampak atau konsekuensi/aspek psikososial perilaku seksual (penyelewengan ekstramarital, seks premarital, seks sebelum waktunya dan sebagainya ).

Di antara pelbagai jenis disfungsi seksual pada pria dan wanita, yang paling umum adalah kesulitan ereksi (erectile dysfunction), yaitu pria tidak dapat berereksi (mengalami ereksi penis) atau bisa ereksi tapi lemah sehingga tidak dapat melakukan coitus secara memadai dan mengakibatkan keluhan pada wanita mitra seksnya. Usaha menyembuhkan gangguan / disfungsi ini dapat mengatasi sebagian besar (tidak seluruh) masalah yang dihadapi pasangan seks (suami isteri). Salah satu alasan menggunakan zat atau bahan/obat untuk fungsi seksual adalah anggapan bahwa kemampuan/potensi seksual dapat ditingkatkan dengan meminum obat/zat tersebut. Apa yang dibahas dalam makalah ini mencakup hal ikhwal seks yang berlaku segala umur tetapi terutama ditujukan untuk kelompok individu yang mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi seksual.

BATASAN

• Perilaku seksual adalah manifestasi aktivitas seksual yang mencakup baik hubungan seks (intercourse; coitus; cohabitatio) maupun masturbasi.

• Dorongan / nafsu seksual adalah minat/niat seseorang untuk memulai atau mengadakan hubungan intim (sexual relationship).

• Kegairahan seksual (Sexual Excitement) adalah respons tubuh terhadap rangsangan seksual. Ada dua respons yang mendasar yaitu myotonia (ketegangan otot yang meninggi) dan vasocongestion (pengisian pembuluh darah dengan cairan) terutama pada alat kelamin (Belliveau Richter, 1970).

• Disfungsi (psiko) seksual adalah gangguan respons fungsi seksual. Pada pria : kegagalan yang menetap atau berulang, sebagian atau keseluruhan, untuk memperoleh dan atau mempertahankan ereksi sampai terselesaikannya aktivitas seksual. Pada wanita: kegagalan yang menetap atau berulang, baik sebagian atau secara keseluruhan, untuk memperoleh dan atau mempertahankan respons lubrikasi vasokongesti sampai berakhirnya aktivitas seksual.

Ada 6 jenis kelainan fungsi seksual (sexual dysfunction):

1. Sexual desire disorder

    * Hypoactive sexual desire
    * Sexual aversion disorder
    * Hyperactive sexual desire

2. Sexual arousal disorder

    * Erectile disorder (impotence)
    * Frigidity, lack of vaginal lubrication

3. Orgasm disorder

    * Premature,delayed or lack of ejaculation (pria)
    * Anorgasmia (orgasmic dysfunction) (wanita)

4. Sexual pain disorder

    * Vaginismus (wanita)
    * Dispareunia (pria dan wanita)

5. Unspecified Sexual Dysfunction

    * Orgasmic anhedonia
    * Mastubatory pain
    * Autoerotic asphyxiation

6. Lain-lain

    * Postcoital dysphoria
    * Nymphomania

Sekitar 70% disfungsi seksual (tak termasuk erectile dysfunction disorder) disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan (psikologis), terapi terutama berupa psikoterapi dan latihan behavioral.Obat-obat hanya berperan fasilitatif atau adjunctive, hanya digunakan pada kasus tertentu.

Organ seks manusia yang terlibat dalam hubungan intim bukan hanya alat kelamin kedua jenis manusia (penis dan vagina); penghayatan erotis melibatkan juga bagian atau organ tubuh lain, bahkan yang fungsinya sangat berlainan sekalipun (anus).
 

PENGARUH OBAT TERHADAP FUNGSI / PERILAKU SEKSUAL

Sudah berabad lamanya orang mencari obat/makanan yang dapat meningkatkan / menambah / memperbaiki kemampuan atau kenikmatan seksualnya (“obat kuat"). Beberapa zat / obat / makanan telah disebut-sebut memiliki khasiat aphrodisiac disebut sex enhancers tetapi perlu diketahui bahwa penggunaan saat tertentu dapat justru mengakibatkan berkurangnya kemampuan bahkan juga kenikmatan seksual, selain efek samping lain. Penelitian-penelitian sampai hari ini belum dapat menemukan obat yang dapat meningkatkan kemampuan seksual seseorang, tanpa batas, bekerja pada siapa saja.

Penggunaan obat/zat untuk maksud ini tidak hanya pada orangorang dewasa saja tetapi sejalan dengan meluasnya gangguan penggunaan zat, makin banyak dijumpai orang-orang muda, remaja yang terlibat dalam eksperimen menggunakan obat-obat untuk menunjang perilaku seksualnya, suatu hal yang sebetulnya tidak wajar atau tidak diperlukan.

Penggunaan obat dalam kaitannya dengan perilaku seksual manusia dapat terjadi dalam beberapa keadaan. Dalam keadaan normal dapat dijumpai pada pria yang mulai lanjut usia, yang fungsi dan kemampuan seksnya telah mulai berkurang/mundur, misalnya minum kopi beberapa saat sebelum melakukan aktivitas seksual dapat membantu meningkatkan kemampuan seksualnya. Demikian juga beberapa zat/bahan lain yang mengandung kafein (coklat, kakao). Mereka yang sering gugup bila berhadapan dengan 1awan jenisnya dapat dibantu dengan obat penenang dalam dosis tertentu, tetapi jika dosis ini  dilampaui maka yang terjadi justru kemunduran kemampuan.

Mereka yang kurang yakin mengenai kemampuan seksualnya, merasa rendah diri atau malu, kadang-kadang juga menggunakan obat atau minuman beralkohol. Seorang wanita yang menyadari perbuatannya adalah terlarang, tetapi tak berdaya menolaknya, dapat meminum sejenis pi1 tidur untuk membius dirinya sesaat sebelum berkencan, agar tidak merasakan penderitaan (merasa tertekan karena malu)

ketika melakukan hubungan yang terlarang itu. Remaja yang menga1ami hambatan atau penyimpangan dalam perkembangan psikoseksualnya dapat bereksperimentasi dengan obat-obatan untuk mendapatkan perasaan mantap dalam hal seksual. Seseorang yang dorongan seksnya terlalu besar sehingga sulit dikendalikan kadang-kadang meminta pertolongan dokter untuk mendapatkan obat penekan nafsu seks.

Demikian juga isteri atau suami yang kewalahan melayani permintaan teman hidupnya dalam hal seks, mungkin secara diam-diam meminta pertolongan dokter atau dukun agar diberi obat pelemah seks untuk partnernya itu. Obat-obat yang digunakan bukan hanya yang tergolong dapat merangsang atau menekan seks saja, melainkan juga obat yang sebetulnya untuk penyakit jantung misalnya vasodi1atansia atau obat untuk infeksi alat kemaluan, atau salep pelicin. Bahaya yang dapat timbul selain penyalahgunaan dan atau ketergantungan zat / obat, dapat berupa efek samping obat yang dipakai (insomnia, gastritis, impotensi, tekanan darah rendah, reaksi psikotik, radang saluran kemih dan sebagainya).

Ada sejumlah besar obat, baik yang harus diresepkan maupun yang dapat dibeli bebas, mempunyai pengaruh terhadap fungsi seksual manusia. Penelitian mengenai hal ini masih amat terbatas sehingga tidak banyak diketahui tentang peranan sesungguhnya obat-obat tersebut dalam pengaturan fungsi seksual manusia.

Berikut daftar obat-obat nonpsikotropik atau nonpsikoaktif, yang dapat mempengaruhi fungsi seksual manusia.

A. Obat-obat Antihipertensi

Dapat menurunkan libido dan fungsi seks

1. Diuretika

    * thiazide
    * ethacrynic acid
    * furosemide
    * spironolactone

2. Non-diuretika

    * alpha-methy1dopa
    * guanethidine
    * hydralasine
    * reserpine
    * propranolol.
    * nimodipin
    * penghambat ganglion: pentolinium,mecamy1amine


B. Hormon

    * androgen : testosteron
    * anti androgen: estrogen
    * cyprosterone acetate
    * medroxyprogesterone acetate/MPA
    * kortikosteroid
    * prednison,
    * prednisolon


C. Psikotropika ( bahan psikoaktif)

1. Sedatif dan hipnotik

    * Meprobamate : Medicar®
    * Benzodiazepin: Chlordiazepoxide (Librium®); Diazepam (Valiurn®); Alprazolam; Clobazam dan sebagainya)
    * Barbiturat (Luminal®, Pentothal®, Nembutal® dan sebagainya)
    * Methaqualone

2. Antipsikotika

    * Phenothiazine (Largacti1®,Melleril®,Stelazine®)
    * Haloperidol (Haldol®, Serenace®)
    * Monoamine-Oxidase Inhibitor (MAO-I): (Aurorix®)
    * Tricyclic Antidepressants (TCAs)
    * Lithium Carbonate (Priadel®; Theralite®)
    * Anticholinergics (Cimetidine; Clofibrate; L-Dopa)

3. Alkohol/minuman beralkohol

4. Nikotin (tembakau, sigaret)

5. Marijuana (gelek, ganja, hasish, cimeng)

6. Opioid (heroin)

7. Amfetamin (MDMA, Ecstasy)

8. Kokain

9. Halusinogen (LSD/acid, mushroom)

 

SEKS DAN ALKOHOL

Alkohol dosis rendah dapat meningkatkan fungsi dan perilaku seksual, tetapi dalam dosis tinggi dan lama akan menimbulkan disfungsi seksual, bahkan kemandulan. Faktor kepribadian atau kondisi mental mereka yang sedang dalam suasana jiwa gembira, dengan minum alkohol akan bertambah gembira, tetapi jika dalam suasana murung, malah akan makin murung, fungsi seksnyapun akan makin buruk.

SEKS DAN NIKOTIN

Pada mereka yang tidak terbiasa merokok, mengisap rokok sebelum coitus mungkin akan memperburuk fungsi/perilaku seksualnya akibat intoksikasi nikotin. Banyak perokok mengisap rokok dulu sebelum melakukan hubungan intim karena sudah terbiasa dan karena nikotin memberikan sedikit rangsangan , sedikit menyegarkan (nikotin mempunyai sifat stimulan).

SEKS DAN MARIJUANA

Pemakaian sekali-sekali mungkin dapat meningkatkan fungsi seks dan fantasinya; dan seperti alkohol, bersifat melancarkan (to facilitate). Penggunaan kronis, sama seperti heroin/opioida akan menurunkan fungsi seks atau menyebabkan kemandulan karena menurunkan kadar hormon testosteron dalam darah. Sebagian pemakai menceritakan kenikmatan seks yang meninggi jika sebelum coitus mereka mengisap ganja. Sebagian lagi tidak merasakan efek tersebut.

SEKS DAN OPIAT/OPIOIDA

Dosis rendah dan sekali-sekali dapat memperlambat ejakulasi, dosis tinggi dan kronis akan menyebabkan kemandulan dan penurunan fungsi seks karena menyebabkan penurunan testosteron serum. Wanita pecandu banyak yang menggunakan seks untuk mendapatkan uang pembeli heroin atau dimanfaatkan secara seksual oleh pria pengedar atau pacarnya yang ketergantungan heroin.

SEKS DAN OBAT ANTIDEPRESAN

Obat-obat antidepresan dapat menyebabkan kesulitan orgasme pada wanita dan kesulitan ejakulasi pada pria; yang merupakan efek samping utama. Ini terjadi misalnya pada antidepresan trisiklik seperti clomipramine, imipramine, amitriptyline, dan lebih jarang oleh desipramine, amoxapine dan nortriptyline. Untuk golongan MAO-I, tersering oleh phenelzine. Pargyline, isocarboxazid dan tranylcypromine kurang menyebabkan disfungsi seksual.

Untuk golongan antidepresan atipikal: trazodone menyebabkan anorgasmia/inhibisi ejakulasi sertraline menyebabkan kelambatan ejakulasi, dan fluoxetine menyebabkan kesulitan orgasme atau orgasme spontan. Cyproheptadine dapat memulihkan disfungsi ejakulasi/orgasme akibat antidepresan.

Antidepresan diperlukan dan efektif untuk disfungsi seksual yang merupakan gejala depresi. Vilaxazine dan trazodone dilaporkan lebih efektif daripada yang lainnya untuk memperbaiki ereksi dan minat seksual pada pasien depresi.

Antidepresan juga efektif untuk sexual phobia dan premature ejaculation. (yang terakhir ini memanfaatkan efek samping antikholinergik) untuk ini yang tersering dipakai adalah imipramine, walaupun yang lain juga bisa termasuk MAO-Is. Clomipramine terkenal karena mempunyai efek paradoksal : menginduksi atau menghambat orgasme wanita.

SEKS DAN LITHIUM

Laporan hanya sedikit terutama menurunkan dorongan seks dan menyebabkan disfungsi ereksi.

SEKS DAN ANTIPSIKOTIKA

Efek antipsikotika terhadap fungsi seks sulit dipastikan, karena beberapa faktor harus dipertimbangkan. Terhapuskannya gejala psikotik dapat memperbaiki fungsi seks secara keseluruhan. Pada pasien skizofrenia memang sudah terdapat penurunan fungsi seksual sebelum onset psikosis. Efek sedatif (dan berkurangnya mobilitas/pergerakan sebagai efek samping ekstrapiramidal) cenderung mengurangi aktivitas /perilaku seksual.

Kesulitan seksual yang paling sering ditimbulkan oleh obat antipikotika adalah hambatan ejakuIasi yang paling parah oleh Thioridazine (Melleril®) dan Chlorpromazine/CPZ (Largacti1®, Promactil®). Chlorprothixene (Taractane®) dan Trif1uoperazine (Stelazine®) kurang menyebabkan hambatan ejakulasi. CPZ dapat menghapuskan kesulitan ejakulasi akibat thioridazine.

Begitu juga chlorprothixene dapat mengeliminir kesulitan ejakulasi/orgasme akibat chlorpromazine. Trif1uoperazine malah dapat menimbulkan ejakulasi spontan pada satu kasus. Keterlambatan ejakulasi terjadi pada dosis rendah. Hambatan ejakulasi total terlihat pada dosis thioridazine 25- 600 mg sehari.Tampaknya ada kesamaan di antara pria dan wanita dalam hal efek samping fungsi seksual akibat medikasi antipsikotika. Pada kebanyakan kasus, disfungsi seksual dialami satu sampai dua minggu sesudah medikasi antipsikotika pada semua kasus, fungsi seksual kembali normal dalam ± 3 hari penghentian medikasi.

SEKS DAN STIMULANSIA DAN KOKAIN

Perlu dipertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut :

1. Pada pecandu amfetamin dapat dijumpai insidens yang lebih tinggi kasus kepribadian antisosial, skizoid dan paranoid (Ellinwood, 1967) juga cenderung terdapat insidens problem identitas seksual yang lebih tinggi (Mott,1972)

2. Perubahan-perubahan nafsu seks akibat penggunaan amfetamin tampaknya berhubungan erat dengan penyesuaian seksual (sexual adjustment) yang sudah ada :

a. Mereka yang sexually inhibited menga1ami pengurangan inhibisi .

b. Mereka yang terlibat praktek seksual atipikal mengalami peningkatan perilaku (misal sadomasochisme dan incest yang ekstrim).

Efek samping seksual stimulansia sangat bervariasi, kadang-kadang agak saling bertentangan. Dapat terjadi peningkatan dan penurunan nafsu seks, ereksi spontan dan impotensi. Baik dosis dan lamanya pemakaian, cara pemakaian (mode of use), riwayat kehidupan seks individu, setting sosial dan bahkan harapan si pemakai merupakan faktor-faktor yang menentukan. (Piemme,1976). Dosis rendah akan memperlancar, dosis tinggi akan menghambat perilaku seksual.

Berkurangnya inhibisi akibat pemakaian stimulansia dapat meningkatkan dorongan seks dan kenikmatan. Euphoria dan perasaan mengambang/melayang (floating sensation) akibat pemakaian stimulansia dapat meningkatkan atau mengimitasi pengalaman orgasme (Siegel, 1982a, Hollister , 1975). Baik pemakai pria maupun wanita ternyata menunjukkan partisipasi yang lebih sering dalam praktek-praktek seksual atipikal (exhibitionisme, promiscuity, sado-masochism dan incest).

Efek samping seksual tersering : keter1ambatan atau inhibisi ejakulasi. Tampaknya ada perbedaan mencolok dalam sikap pria dan wanita pemakai stimulansia: para pemakai pria berpandangan positif terhadap seks, sedangkan para pemakai wanita lebih banyak berpandangan negatif dan tidak puas (Ellinwood & Rockwell, 1975; Gossop, Stern, Connel 1974; Greaves, 1972, Knapp, 1972).

SEKS DAN BUSPIRON (Buspar®)

Buspiron mernpengaruhi sistem neurotransimter serotonergik, dopaminergik dan noradrenergik (McEvoy, 1990). Pasien disfungsi seksual yang memperoleh buspiron maksimum 60 mg/hari sampai 4 minggu menunjukkan perbaikan fungsi seksual.

SEKS DAN FENFLURAMIN

Obat ini bersifat anti obesitas, anorektik dan mendepresi SSP, meningkatkan pelepasan serotonin dan menghambat ambilan kembali serotonin (McEvoy,1990). Dapat menurunkan dorongan/nafsu seks pada dosis 120 mg/hari (Hughes, 1971) dan 240 mg/hari (Sroule, 1971), mungkin karena efek sampingnya (disforia, perut kembung, kramp perut, konstipasi dan anxietas (O'Keane & Dinan, 1991). Impotensi dilaporkan oleh Hollingsworth & Amatruda (1969). Stevenson & Solyom (1990) melaporkan dua kasus dorongan seks meninggi (dosis 60 mg/hari) pada dosis 120 mg/hari pasien mengalami preokupasi seks terus menerus, yang berkurang dan 1enyap sesudah 7 hari penghentian obat ketika obat diberikan lagi, libido meningkat lagi dalam 4 hari.

SEKS DAN LSD. (halusinogenik, serotonin agonist dan antagonist, norepinephrine blocking, dopamine agonist.)

Pada pasien dengan kelainan psikoseksual, LSD 25-100 mcg. seminggu selama 2 bulan dapat meningkatkan fungsi seksual (MacCal1um, 1968).

SEKS DAN ANKSIOLITIK

Bensodiazepin dapat bermanfaat untuk mendatangkan keadaan relaks yang diperlukan untuk aktivitas seksual tetapi juga dapat mengganggu respons seksual karena itu harus diberikan secara hati-hati, dimulai dengan dosis rendah, disesuaikan dengan kebutuhan dan dihentikan segera setelah cara lain sudah dikuasai oleh pasien. Jika disfungsi seksual rnerupakan bagian dari gangguan cemas, pemberian anti anksietas harus menuruti prinsip pengobatan neurosis.

Alprazolam yang dikenal bermanfaat untuk serangan panik ternyata lebih efektif dibandingkan antianksietas lain untuk mengurangi sexual phobia atau anticipatory anxiety selama coitus.

SEKS DAN BARBITURAT

Barbiturat kadang-kadang digunakan o1eh sex therapist untuk hipnosis agar mengatasi hambatan psikologis pasien dalam hal seks. Harus ada informed consent dan hati-hati agar terhindar dari tuntutan hukum. Kadang-kadang digunakan juga pada kasus vaginismus untuk mendatangkan tidur sehingga dapat dilakukan dilatasi vagina, tetapi jarang efektif dan dapat menimbulkan trauma psikologis lebih lanjut.

PENUTUP

Walaupun telah ratusan tahun lamanya mencari dan menggunakan obat atau bahan untuk meningkatkan potensi / kemampuan seksual, masih sedikit data hasi1 penelitian yang terkontrol baik dan objektif. Menggunakan obat-obatan untuk maksud tersebut tanpa panduan dokter dapat mendatangkan bahaya. Penanggulangan gangguan fungsi ereksi diharapkan dapat membantu pasangan seks untuk melakukan coitus secara memadai.

Sumber: Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005

loading...