Gagal jantung dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak.Gagal jantung adalah keadaan jantung yang tidak mampu menghasilkan curah jantung yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan jaringan metabolisme.

Gagal jantung menyebabkan napas cepat dan distres pernapasan. Penyebabnya meliputi antara lain penyakit jantung bawaan, demam rematik akut, anemia berat, pneumonia sangat berat dan gizi buruk. Gagal jantung dapat dipicu dan diperberat oleh kelebihan cairan.

Menurut Indonesian Pediatric Society (IDAI), gagal jantung pada anak dipicu oleh berbagai faktor, seperti faktor genetic dan faktor lingkungan. Ibu yang terpapar asap rokok, baik secara aktif maupun pasif, mengonsumsi obat-obatan tertentu, infeksi kehamilan, mengidap diabetes mellitus, atau kelainan genetik tertentu, seperti down syndrome, dapat meningkatkan risiko gagal jantung pada anak.

Diagnosis

Gagal jantung pada anak dapat memperlihatkan gejala yang berbeda-beda, tergantung dari kondisi kesehatan jantung itu sendiri. Beberapa gejala gagal jantung pada anak dapat dideteksi dokter sejak lahir, seperti kebiruan pada kulit dan kukunya atau mendengar kelainan bunyi pada jantung. Namun ada juga yang mengetahui gejalanya saat anak tumbuh dan berkembang, seperti berat badan sulit naik atau dengan mengecek saluran nafasnya secara berulang.

  • Takikardi (denyut jantung > 160 kali/menit pada anak umur di bawah 12 bulan; > 120 kali/menit pada umur 12 bulan-5 tahun).
  • Irama derap dengan crackles/ronki pada basal paru.
  • Hepatomegali, peningkatan tekanan vena jugularis dan edema perifer (tanda kongestif).
  • Pada bayi – napas cepat (atau berkeringat), terutama saat diberi makanan; pada anak yang lebih tua – edema kedua tungkai, tangan atau muka, atau pelebaran vena leher.
  • Telapak tangan sangat pucat, terjadi bila gagal jantung disebabkan oleh anemia.
  • Bila memungkinkan ukur tekanan darah. Bila meningkat, pertimbangkan glomerulonefritis akut.
  • Pemeriksan penunjang: darah rutin, foto dada, EKG

Tatalaksana

Penatalaksanaan untuk gagal jantung anak tanpa kondisi gizi buruk adalah sebagai berikut:

Diuretik.
Furosemid: dosis 1 mg/kgBB IV akan meningkatkan aliran urin dalam 2 jam. Jika dosis awal tidak efektif, berikan dosis 2 mg/kgBB dan diulang 12 jam kemudian bila diperlukan. Setelah itu, dosis tunggal harian 1-2 mg/kgBB per oral dianjurkan.

Oksigen. Berikan oksigen bila frekuensi napas = 70 kali/menit, didapatkan distres pernapasan, atau terdapat sianosis sentral.

Beberapa obat yang digunakan dalam gagal jantung seperti di bawah ini, kemungkinan tidak tersedia di rumah sakit. Bila perlu, rujuk pasien ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya.

  • Digoksin
  • Dopamin
  • Dobutamin
  • Captopril

Perawatan penunjang

  • Bila memungkinkan, hindari pemberian cairan intravena.
  • Anak dalam posisi setengah duduk dengan elevasi lengan dan bahu dengan kedua tungkai pasif.
  • Atasi panas badan dengan parasetamol untuk mengurangi kerja jantung.

Pemantauan

Anak harus dipantau oleh perawat sedikitnya setiap 6 jam (setiap 3 jam bila diberikan oksigen) dan oleh dokter sehari sekali. Pantau frekuensi pernapasan dan denyut nadi, ukuran besar hati dan berat badan untuk penilaian keberhasilan terapi. Lanjutkan pengobatan sampai frekuensi pernapasan dan denyut nadi normal dan hati tidak lagi membesar.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Anak terkena Gagal Jantung?

  • Tidak memerlukan pembatasan aktivitas fisik. Tidak timbul keluhan sesak pada saat melakukan aktivitas ringan maupun sedang.
  • Memerlukan sedikit pembatasan aktivitas fisik, sesak timbul bila melakukan aktivitas sedang (misal: naik tangga dengan cepat), sementara saat istirahat atau aktivitas ringan tidak menimbulkan keluhan.
  • Perlu pembatasan aktivitas yang lebih banyak, waktu istirahat tidak ada keluhan, pekerjaan ringan (misal: naik tangga perlahan-lahan) sudah menimbulkan sesak, waktu istirahat sudah timbul keluhan sesak nafas, dan sama sekali tidak memungkinkan melakukan aktivitas.

 #internet

loading...