Pernahkah Anda mengalami radang tenggorokan dalam jangka waktu yang panjang? Pernahkah Anda mengalami demam tinggi yang tak kunjung sembuh? Mungkin bagi sebagian orang kedua penyakit ini adalah hal yang biasa, tapi tidak begitu faktanya. Radang tenggorokan dan demam rematik merupakan sebuah awal yang buruk jika tidak segera ditangani karena kedua penyakit ini dapat memicu penyakit lain yang lebih berbahaya. Penyakit jantung rematik merupakan sebuah penyakit yang berawal dari infeksi radang tenggorokan biasa yang kemudian menjalar hingga menyebabkan kerusakan pada daerah jantung.

Rheumatic Heart Disease (RHD) atau yang biasa disebut dengan penyakit rematik jantung (PRJ) merupakan salah satu bentuk penyakit jantung. Penyakit jantung rematik merupakan suatu kondisi dimana jantung mengalami kerusakan permanen pada bagian katup juga bagian otot yang disebabkan oleh infeksi demam rematik. Kerusakan pada bagian katup jantung akan membuatnya menjadi lebih sempit atau pun membuatnya mengalami kebocoran, dan kerusakan ini bersifat permanen. Katup yang biasa mengalami kerusakan pada kasus jantung rematik adalah katup mitral atau stenosis katup mitral, yaitu suatu kondisi dimana katup mitral mengalami penyempitan yang menyebabkan tertahannya aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kanan.

Pada kasus stenosis katup mitral darah tidak dapat dialirkan keluar jantung, sedangkan pada kasus insufisensi katup mitral atau kondisi dimana terjadi kebocoran pada katup mitral, justru terjadi keadaan sebaliknya. Pada kasus insufisensi katup mitral, katup yang terdapat pada ruang antara atrium kiri dan ventrikel kiri tidak dapat menutup dengan rapat akibatnya sebagian darah terpompa menuju ke aorta dan sebagiannya lagi akan kembali ke ventrikel kiri jantung. Keadaan ini sebenarnya tidak akan memperlihatkan kasus yang serius namun apabila didiamkan saja hingga terdengar irama jantung yang tidak beraturan maka keadaan tersebut dapat memungkinkan timbulnya jantung rematik atau lebih parahnya lagi gagal jantung.

Katup jantung ini mengalami kerusakan karena suatu bakteri yang menginfeksi radang turun dan menginfeksi jantung. Bakteri streptokokus tipe A atau bakteri streptococcus pyogenes, adalah merupakan bakteri penyebab demam rematik. Secara etiologi jantung rematik terjadi karena adanya gangguan pada sistem imun ( sistem kekebalan tubuh) atau terjadi karena adanya reaksi autoimun yang disebabkan oleh bakteri streptokokus tipe A.

Demam Rematik

Demam rematik biasa menyerang bagian jantung, sendi, otak, dan jaringan kulit. Demam rematik sendiri sebenarnya adalah sebuah kumpulan dari gejala-gejala klinik. Gejala dari demam rematik sendiri dapat bervariasi tergantung pada organ yang terserang. Gejala-gejala ini biasa muncul pada jangka waktu satu hingga enam minggu setelah seseorang terinfeksi bakteri streptokokus tipe A. Penyakit demam rematik banyak menyerang usia muda mulai dari umur 5 hingga 15 tahun. Mereka yang biasa terserang demam rematik biasanya tinggal di daerah dengan sanitasi buruk, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, dan akses sarana kesehatan sulit. Gejala dari demam rematik sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gejala kardiak (jantung) dan non kardiak.

Gejala kardiak pada penderita jantung rematik sebagai berikut:

  • Infeksi dan Peradangan Jantung. Kondisi ini merupakan sebuah komplikasi yang paling sering terjadi dan salah satu yang paling serius terjadi pada penderita demam rematik. Hampir sekitar 50 persen penderita radang rematik mengalami infeksi. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah sesak napas, dada terasa tidak nyaman, nyeri dada, bengkak atau edema, batuk saat berbaring atau ortopnea.
  • Karditis. Penyakit karditis sendiri adalah sebuah peradangan jantung yang ditandai dengan adanya bising jantung atau terjadinya takikardia, yaitu sebuah kondisi dimana jantung berdetak lebih dari 100 kali per menit.
  • Murmur Jantung. Sebuah gejala dimana jantung mengeluarkan suara bising yang disebabkan oleh gangguan katup jantung atau yang disebut insufisiensi jantung.
  • Gagal jantung kongestif. Gagal jantung ini dapat terjadi karena gangguan katup jantung yang parah atau dapat pula terjadi karena miokarditis, yaitu kondisi dimana terdapat peradangan pada bagian tengah jantung, tepatnya pada lapisan dinding bagian tengah jantung yang disebut mikoardium.
  • Perikarditis. Perikardium adalah lapisan berbentuk kantong yang melapisi jantung. Perikarditis adalah sebuah kondisi dimana terjadi peradangan dan infeksi pada bagian perikardium. Perikardium sendiri berfungsi untuk menjaga letak jantung dan membantu kerja jantung.

Gejala non kardiak pada penderita demam rematik akut adalah:

- Poliartritis
Poliartritis adalah sebuah kondisi dimana terjadi peradangan pada persendian. Gejala ini umumnya terjadi pada tahap awal demam rematik. Terjadi hampir 70 hingga 75 persen pada pasien penderita rematik. Pada awal gejala radang sendi atau artritis terjadi pada sendi- sendi besar bagian bawah atau ekstremitas bawah seperti lutut dan engkel, kemudian merambat ke bagian atau ekstremitas atas seperti siku dan pergelangan tangan. Gejala yang ditimbulkan dari radang sendi adalah sendi terasa panas, bengkak, sakit, dan pergerakan menjadi terbatas. Gejala ini biasa terjadi pada 12 hingga 24 jam dan dapat bertahan paling lama 2 hingga 6 hari. Obat yang dapat diberikan untuk mengurangi rasa sakit adalah aspirin. Poliartritis biasa terjadi pada remaja dan orang dewasa muda.

- Khorea Sydenham
Biasa disebut juga dengan nama Khorea Minor atau St. Vance, biasanya menginfeksi 15 persen penderita demam rematik. Kondisi ini biasanya menginfeksi bagian syaraf sentral, membuat penderitanya mengalami perlambatan, gerakan menjadi tidak terkoordinasi dengan baik, dan mempengaruhi emosi penderita. Gejala ini dapat menjadi lebih buruk apabila penderita demam reumatik sering bangun dalam keadaan stress. Gejala ini juga berakibat pada labilnya emosi seseorang. Gejala yang ditimbulkan dari Khorea Sydenham antara lain adalah tulisan menjadi jelek apabila sudah parah tulisan tidak dapat dibaca sama sekali, perasaan gugup berlebih, sering menyeringai, berbicara secara tertahan dan kadang meledak- ledak. Gejala ini sering kali membuat gangguan pada otot-otot halus.

- Erithema marginatum
Sebuah gejala yang hanya dapat terjadi pada kasus penyakit demam reumatik. Erithema marginatum termasuk dalam gejala minor dan terjadi pada 5 persen penderita demam reumatik. Gejalanya adalah ruam tidak gatal, kemerahan pada satu bagian tubuh yang menjalar mengelilingi kulit. Gejala ini biasa terjadi di bagian batang tubuh dan tungkai bagian atas, juga muka. Biasanya gejala ini berdiameter 2,5 cm. Erithema marginatum biasa terjadi pada tahap awal demam reumatik terutama yang berkaitan dengan penyakit karditis.

- Nodul subkutan
Gejala Nodul subkutan biasanya hanya terjadi pada kasus penderita jantung reumatik khronik. Biasanya hanya 5 persen penderita yang terserang. Nodulus atau benjolan biasa muncul pada bagian persendian seperti ruas jari, lutut, dan pergelangan kaki. Tetapi tidak menutup kemungkinan muncul pada bagian kulit kepala dan bagian atas tulang belakang. Benjolan ini bervariasi mulai dari 0,5 sampai 2 cm, tidak ada rasa sakit atau nyeri, dapat digerakkan, dan akan menghilang dengan cepat. Nodul subkutan hanya muncul selama beberapa minggu dan hanya muncul pada penderita karditis.

  • Tromboemboli atau penyumbatan saluran pembuluh darah, biasa terjadi karena komplikasi dari gangguan katup jantung.
  • Anemia hemolitik kardiak. Pecahnya sel darah merah yang disebabkan karena bergesekan dengan katup jantung yang terinfeksi. Bisa juga peningkatan jumlah trombosit yang pecah.
  • Aritmia atrium. Terjadi karena adanya pembesaran pada atrium kiri karena adanya gangguan pada katup mitral menyebabkan gangguan pada irama jantung.
  • Pneumonia rematik. Gejalanya mirip dengan pneumonia karena infeksi.
  • Demam hingga di atas 39 derajat.
  • Nyeri perut.
  • Mimisan atau epistaksis.

Gejala kardiak pada penderita jantung rematik adalah:

  • Prikarditis atau peradangan pada jantung. Suatu komplikasi serius dan terjadi pada 50 persen kasus penderita demam rematik. Gejalanya adalah sesak napas, dada nyeri dan sakit, bengkak, dan batuk.
  • Gangguan irama jantung.
  • Gagal jantung.
  • Radang selaput jantung.

 

Tanda-tanda dari demam rematik:

  • Nyeri sendi
  • Radang sendi
  • Demam
  • Dada terasa nyeri
  • Kelelahan
  • Ruam
  • Radang jantung
  • Radang saraf
  • Jantung berdetak kencang
  • Muncul bercak merah di kulit
  • Ada benjolan kecil di bawah kulit
  • Sering pingsan

Untuk penyakit demam rematik biasanya hanya berlangsung paling lama selama satu bulan. Untuk penanganannya sendiri dapat dilakukan di rumah dengan memberikan antibiotik atau obat untuk meredakan peradangan dan nyeri. tetapi apabila kasus demam rematik yang dialami parah mungkin rujukan rumah sakit diperlukan. Untuk seseorang yang sudah pernah mengalami demam rematik tidak menutup kemungkinan jika penyakit ini akan kembali lagi di masa yang akan datang. Dan apabila demam rematik datang lagi maka dapat menambah parah risiko terjadinya kerusakan jantung permanen.

Pemberian antibiotik dalam jangka panjang dapat mengurangi dan mencegah terjadinya kerusakan pada jantung. Jantung yang sudah mengalami kerusakan akan sangat sulit untuk dapat dipulihkan seperti semula. Apabila kondisi pasien sudah parah maka kelelahan dan napas pendek-pendek akan menjadi semakin sering terjadi. Jika tidak segera ditangani komplikasi seperti gagal jantung dan stroke mungkin terjadi.

Penyebab dan Gejala Jantung Rematik yang Terjadi Setelah Demam Rematik

Saat tubuh terkena infeksi pada bagian tenggorokan maka sistem imun kita akan bekerja untuk membasmi bakteri tersebut. Tetapi terkadang saat sistem imun berusaha untuk membunuh bakteri tersebut secara tidak sengaja menyerang dan merusak bagian tubuh lain seperti jantung dan persendian. Apabila sistem imun menyerang jantung maka akan menyebabkan katup jantung membengkak dan menimbulkan jaringan parut pada katup jantung atau yang biasa disebut dengan valve.

Gejala yang ditimbulkan saat mengalami jantung rematik:

  • Pusing
  • Dada terasa sakit
  • Kelelahan
  • Napas menjadi pendek

Meskipun jantung rematik disebabkan oleh peradangan pada bagian tenggorokan namun tidak menutup kemungkinan jika beberapa faktor seperti berikut dapat menambah kemungkinan terjadinya jantung rematik:

  • Faktor genetik. Jumlah HLA atau antigen limfosit manusia yang tinggi dapat memicu timbulnya jantung rematik. HLA yang tinggi ketika berinteraksi dengan alloantigen sel B akan menunjukan sebuah reaksi yang dikenal dengan sebutan antibodi monoklonal yang bersifat reumatik atau menimbulkan rasa rematik.
  • Umur. Jantung rematik banyak menyerang anak pada usia 5 hingga 15 tahun dengan angka penderita tertinggi adalah pada umur 8 tahun. Kejadian ini tidak ditemukan pada usia di bawah 5 tahun dan di atas 20 tahun. Penelitian ini berhubungan dengan kasus infeksi streptococcus pada usia anak sekolah.
  • Gizi. Kandungan gizi dan pola hidup sehat menjadi salah satu faktor yang dapat memicu munculnya jantung rematik.
  • Ras. Golongan etnik dan ras juga diketahui menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya jantung rematik. Menurut penelitian orang berkulit hitam lebih besar kemungkinannya untuk terserang jantung rematik daripada mereka yang memiliki kulit putih. Tetapi faktor lingkungan tempat pasien hidup dapat juga menjadi penyebab munculnya jantung rematik.
  • Jenis kelamin. Menurut penelitian jenis kelamin perempuan lebih mudah terserang jantung rematik dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki. Tetapi perbedaan jenis kelamin ini tidak dapat dijadikan patokan karena terkadang perbedaan jenis kelamin ini dapat terjadi sesuai dengan gejala penyakit atau manifestasi tertentu.
  • Reaksi autoimun. Belum dapat dipastikan kebenarannya, tetapi menurut penelitian dimana ditemukannya kesamaan pada polisakarida bagian dinding sel streptococcus beta hemolitikus grup A dengan glikoprotein pada katup dapat menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit miokarditis dan valvulitis atau peradangan katup jantung pada demam rematik.

Diagnosa untuk Penyakit Jantung Rematik

Elektrokardiogram (EKG). Mendeteksi adanya gangguan yang menyebabkan ritme jantung tidak beraturan, aritmia, dan gangguan lainnya dengan menggunakan gambaran impuls listrik jantung. Fungsi EKG jantung untuk:

  • Menentukan hipertrofi
  • Melihat apakah terdapat gangguan miokard
  • Membantu diagnosis spesifik disritmia
  • Membantu diagnosis perikarditis atau efusi pericard
  • Mengetahui efek obat- obatan terhadap penyakit kardiovaskular
  • Melihat apakah ada gangguan elektrolit atau metabolik

Ekokardiografi. Menggunakan efek suara untuk mengetahui apakah jantung berfungsi degan benar. Tes ini akan dapat menggambarkan ukuran, denyut, dan kondisi katup jantung.

Tes pencitraan, sepert tes X-ray, MRI scan jantung (magnetic resonance imaging), atau CT scan jantung. Prosedur untuk melihat ukuran jantung dan mengetahui apakah jantung masih berfungsi dengan baik dan juga untuk memeriksa kondisi katup jantung. Dilakukan untuk mengetahui apakah ada pembesaran jantung pada penderita jantung lemah.

Pemeriksaan fisik.

 

Pengobatan Medis Jantung Rematik

Pemberian obat sebagai salah satu jalan untuk mengobati Pengobatan tradisional untuk penyakit jantung rematik adalah dengan memberikan obat-obatan seperti anti biotik dan anti radang. Pemberian obat seperti penicillin secara oral atau benzathine penicillin G juga dapat diberikan. Tetapi untuk pasien yang menderita alergi terhadap obat- obatan tersebut dapat juga dengan memberikan obat seperti erythromycin atau golongan cephalosporin. Untuk obat anti radang sendiri yang dapat diberikan adalah cortisone dan aspirin.

Pengobatan seperti terapi diet jantung dapat juga dilakukan. Diet jantung sendiri adalah sebuah teknik diet untuk memberi asupan nutrisi tanpa harus membebani kinerja jantung, yaitu dengan cara mencegah atau menghilangkan timbunan garam dan atau air. Ada pun syarat seseorang dapat melakukan diet jantung adalah:

  • Energi yang cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal.
  • Protein yang cukup, yaitu 0,8 gram per kg berat badan.
  • Lemak sedang, yaitu 25 hingga 30 persen dari kebutuhan energi total atau 10 persen berasal dari lemak jenuh dan 15 persen berasal dari lemak tidak jenuh.
  • Vitamin dan mineral yang cukup.
  • Diet rendah garam, yaitu 2 hingga 3 gram garam per hari.
  • Mengkonsumsi makanan yang mudah dicerna.
  • Menghindari makanan yang menimbulkan gas.
  • Mengkonsumsi cukup serat untuk menghindari konstipasi.
  • Cairan yang cukup 2 liter per hari.
  • Bila belum mencukupi kebutuhan gizinya dapat mengkonsumsi makanan enteral, parentereal, atau suplemen gizi.

 #sumber: internet

loading...