Wah.. saya kalau sudah melihat kata sale atau diskon di koran, atau mendapat kiriman sms dari berbagai produsen, apapun itu, maka mata menjadi berubah. Bisa menjadi rada gelap kalau salenya hanya 10% ditambah 5 % lagi dengan menggunakan kartu kredit A atau C. Tetapi itu menjadi sangat gelap kalau ada angka 50% nya yang di blow up lebih besar dari kata-kata rayuannya yang lain. Sampai kadang lupa kalau di sebelah angka 50% masih ada tanda asterixnya. Dan saya malas untuk membacanya. Padahal pengecohannya justru terjadi di tanda asterix itu. Namanya juga sudah gelap. Kata orang Jawa, yo ndak ketok opo-opo.

Suatu hari saya melihat-lihat di butik barang bermerk, harga tasnya lumayan membuat gaji bulanan melayang semuanya. Cuma kok yang ini model tasnya belum saya miliki. Meski secara kasat mata, modelnya nyaris sama dengan tas yang sedang saya pegang saat itu. Dalam keadaan bimbang itu lah, seorang pramuniaganya menghampiri saya dan menyuarakan kalimat yang membuat iman saya makin goyah. Kira-kira begini percakapan penuh godaan itu.

Pramuniaga (si Penggoda): “ Mas, kalau beli tas ini kami berikan diskon 15% langsung. Tetapi hanya berlaku untuk kartu kredit Bank X.”
Saya (si Tergoda): “ Wah…sayang ya, saya nggak punya kartu kredit Bank X.”
Si Penggoda: “ Oh..gitu. Gak masalah. Mas, bisa langsung membuat aplikasinya sekarang dan bisa langsung digunakan.”

Ia kemudian meninggalkan saya sejenak dan kembali dalam waktu sekian menit menyodorkan lampiran pengisian untuk memiliki kartu kredit yang baru. Sebagai yang tergoda, saya langsung mengisi.
Si Tergoda: “ Udah ni, Mbak. Pasti bisa ya langsung digunakan Ini KTP saya.”
Si Penggoda: “ Tentu, Mas. Sebentar saya selesaikan aplikasinya.

Singkat cerita saya keluar dengan menenteng tas baru yang setelah saya pakai, teman-teman saya langsung berkomentar: ” Kok lo beli tas yang sama sih.”  Tentu saya tak peduli, karena merknya beda. Tetapi setelah itu, saya berpikir, setelah punya tas baru, saya memang punya kartu kredit baru, untuk menemani lima kartu kredit lama. Itu berarti membuka peluang untuk berhutang lebih banyak lagi. Apalagi manusia macam saya, yang imannya seperti layangan putus. Kalau sudah begitu tak bisa berpikir waras, kalau fee tahunannya akan bertambah.

Yang lebih buruk lagi, kata diskon atau sale itu juga digunakan untuk barang-barang yang tak bernilai apapun. Yang tak bisa dijadikan investasi. Macam kaos tidur, seprei yang di lemari sudah menumpuk yang dibeli dari sale beberapa bulan lalu, atau tas kulit palsu yang mungkin dalam setengah tahun sudah jebol atau tak menarik lagi untuk dijinjing. Termasuk pernik interior, yang kelihatan gaya dan menarik, tetapi terbuat dari bahan-bahan yang murah. Dan dalam keadaan mata gelap, melihat pernik macam itu, kok tiba-tiba rasanya  pas untuk mempercantik rumah. Padahal sebelum godaan berwujud diskon 20%, perasaan itu tak ada sama sekali. Mungkin rasionalisasi yang menyergap di tengah gelap mata, yang disebut dengan the true emotional buying.

Dua minggu lalu, saat liburan panjang, teman saya mengajak makan siang. Dia memberi pilihan. Mau mengisi perut di hotel Z dengan diskon 50% atau di rumah makan tanpa diskon. Anda tentu bisa menebaknya. Maka kami makan di hotel Z dengan menu Indonesianya yang cihui. Karena diskon itu lah saya makan seperti orang kesurupan. Saya pikir sayang kalau makan seimprit-imprit. Maka setelah dua jam, saya pulang dengan perut begah, dan berhasil melanggar semua cara berdiet saya yang selama ini teratur. Maka benarlah peribahasa, karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Maka gelap mata itu tak ada gunanya. Di tengah kegelapan Anda tak akan bisa melihat apa-apa. Karena tak melihat apa-apa, tentu semua bisa dilanggar tanpa rasa bersalah. Nanti, setelah kejadian semuanya itu, saat terang datang menghampiri dalam bentuk tagihan yang menumpuk, dan hasil laboratorium menunjukkan nilai kolestrol dan kadar gula 2 jam setelah puasa melejit, barulah mata hati mulai melihat dengan jelas, betapa uang itu dihambur dengan imbal hasil yang mengenaskan dan menyesakkan dada.

Maka jangan mau dikecoh dan dibuat ‘gila’. Mereka yang menggoda Anda dengan segala cara tak bisa disalahkan. Emosi itu Anda yang punya dan harus Anda sendiri yang me-manage-nya. Ada kalimat yang nyantol terus di kepala saya, dari sebuah iklan rokok. Bunyinya seperti ini, dan sudah menyindir saya dengan luar biasa. Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.

Nah, setelah acara mencontreng beberapa waktu lalu, sekarang contreng yang satu ini. Mau dewasa, atau mau tua. Menyontrengnya di bilik nurani Anda saja. Tak ada yang melihat, tak ada petugas yang mengawasi. Tetapi setelah menyontreng, dan ternyata Anda dewasa untuk mengakui kalau tidak dewasa dalam me-manage keuangan, saya sarankan untuk mencari the helping hand sesegera mungkin. Danareksa dengan pilihan produknya bisa menjadi tangan yang menolong itu. Saya pastikan, pertolongan yang satu ini tak akan membutakan.

#Samuel Mulia, danareksa online
loading...