Sudahkah anda mendengar nama ikan jelawat. Mungkin untuk sebagian besar masyarakat kita belum banyak mengenal ikan air tawar ini. Ikan jelawat tidak lain merupakan ikan air tawar asli dari sungai-sungai pedalaman Kalimantan.

Seperti di Sintang, Kalimantan Barat, ikan jelawat ini sangat mudah ditemui karena sudah banyak dibudidayakan menggunakan keramba.

Oleh karena asal ikan ini dari pedalaman sungai Kalimantan, sangat lazim jika ikan ini tidak sepopuler ikan air tawar lainnya, seperti gurame, ikan mas dan lainnya. Padahal, ikan ini tidak kalah kalau dilihat dari segi rasa dan kandungan gizinya. Justru yang menjadi kelebihan ikan jelawat ini tidak berbau amis layak ikan lainnya.

Melihat kondisi ini, Endi Thio yang merupakan putra daerah menjadikannya peluang untuk berbisnis ikan jelawat khususnya di Jakarta. Maklum saja, setelah putus asa berhenti pekerjaan sebagai marketing disebuah perusahaan di Jakarta. Ternyata ikan jelawat ini memberikan harapan baru sebagai sumber nafkahnya.

Memang tidak semudah dibayangkan untuk memperkenalkan ikan jelawat ini kepada konsumen di Jakarta. Meskipun pamor ikan jelawat ini sudah melambung di Malaysia dan Singapura, sebagai bagian dari menu bersantap. "Ikan ini nikmat jika dikukus atau digoreng," jelas Endi.

Selain faktor belum akrab ditelinga konsumen, rupanya ikan ini sedikit mempunyai kelemahan di durinya. Duri ikan jelawat terkenal cukup besar dan menyebar, berbeda ikan bandeng yang durinya rapat-rapat. Alhasil sedikit menurunkan selera pelanggan untuk mengkonsumsi ikan ini. "Selain belum dikenal, duri ikan ini kadang menyurutkan orang untuk membeli," papar Endi.

Endi pun tidak patah arang, berbekal pengalaman. Mulai tahun 2007, ia pun mulai merintis ikan jelawat cabut duri ini. Pasar pun merespon dengan baik produk ikan jelawat cabut duri milik Endi. Pesanan pun mulai mengantri. Baik perorangan sampai tingkat restaurant meliputi wilayah Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). "Ikan ini cocok untuk restaurant kelas menengah karena ukurannya besar dan sedikit mahal," katanya.

Lambat laun pun omzet penjual ikan jelawat cabut duri meningkat. Satu ekor ikan jelawat cabut duri yang beratnya 1 kg lebih, di hargai antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Coba, jika dibandingkan ikan jelawat biasa yang tidak dicabut durinya, harga berkisar Rp 30 ribuan. Perbulan, Endi mengaku mampu menjual ikan jelawat cabut duri sebanyak setengah ton. Dengan omzet sekitar Rp 25 juta.

Diakui oleh Endi, sebenarnya angka penjualan ikan jelawat cabut duri miliknya masih dapat didongkrak lagi. Dilihat dari potensinya, peluang pasar masih terbuka lebar. Beberapa permintaan dan pesanan terpaksa ditolak oleh karena keterbatasan kapasitas produksi ikan jelawat cabut duri. "Ada yang mengajak untuk ekspor, tetapi saya belum mampu menyediakan ikan dalam satu kontiner yang minilam ada 12 ton ikan," keluhnya.

Proses produksi ikan jelawat cabut duri cukup panjang. Mulai dari pemotongan dan pembersihan ikan. Belum lagi untuk proses pencabutan duri. Memang dibutuhkan keahlian tersendiri dalam mencabut duri ikan jelawat. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit sampai 30 menit untuk mencabut duri satu ekor ikan jelawat, itu untuk yang sudah mahir. Bagi pemula tidak kurang membutuhkan waktu satu jam untuk satu ekor ikan.

Sejauh ini, Endi mengklaim sebagai satu-satu pengusaha ikan jelawat cabut duri di Jakarta. Ia pun sampai saat ini masih harus berjuang sendiri untuk memproduksi ikan jelawat cabut duri di rumahnya di bilangan Kedoya, tanpa tenaga kerja bantu.

Kendala terbesar yang dihadapi Endo, selain kemampuan kapasitas produksinya. Yakni persoalan pasokan ikan jelawat yang harus didatangkan dari pedalaman sungai Kalimantan. Butuh proses panjang dan memakan biaya besar untuk mendatangkan ikan jelawat bisa sampai di Jakarta.

Ia pun mulai merancang untuk membangun tempat produksi cabut duri di Kalimantan untuk menghemat waktu dan biaya pengeluaran. "Secepatnya akan membangun tempat pemotongan sekaligus mencabut duri ikan di Kalimantan, ini baru membeli freezer untuk di sana," tegasnya.

#kontan

loading...