Konversi penggunaan minyak tanah ke gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) yang dilakukan bersamaan dengan kebijakan pengurangan subsidi minyak tanah secara bertahap di berbagai daerah menyisakan permasalahan yang cukup pelik bagi para pengusaha dan perajin batik di tanah air. Belum siapnya infrastruktur industri kerajinan batik untuk beralih ke gas LPG dan belum tersedianya peralatan kompor gas yang sesuai dengan kebutuhan industri kerajinan batik telah menimbulkan kendala serius yang merepotkan dan membebani likuiditas para perajin.

Para perajin batik yang selama ini sudah terbiasa selama puluhan tahun menggunakan kompor minyak tanah dalam kegiatan membatik, khususnya pada saat proses pembubuhan malam/lilin baik dengan canting (pada pembuatan batik tulis) maupun dengan cap (pada pembuatan batik cap), tidak serta merta dapat beralih ke kompor gas LPG. Sementara itu, ketersediaan minyak tanah di pasar sudah mulai berangsur menghilang bahkan di beberapa daerah pasokan minyak tanah sudah mulai langka. Akibatnya, harga minyak tanah pun terus melambung tinggi hingga mencapai belasan ribu rupiah per liter. Kondisi ini menjadi beban baru bagi para perajin batik, karena mereka harus tetap menggunakan kompor minyak tanah sebelum tersedianya kompor gas LPG yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Para perajin batik sendiri sebetulnya tidak keberatan dengan pelaksanaan konversi minyak tanah ke gas LPG. Asalkan mereka dapat tetap menjalankan kegiatan membatiknya dengan baik, aman dan nyaman serta tidak menimbulkan masalah baru baik berupa kelangkaan gas atau menimbulkan beban berupa kenaikan biaya produksi batik.  

Masalahnya pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas LPG itu tidak segera dapat diadaptasikan dengan kebutuhan kompor gas LPG untuk kegiatan usaha membatik. Kondisi inilah yang menjadi perhatian sekaligus keprihatinan Komarudin Kudiya, seorang pengusaha batik yang sukses dan cukup terkenal di Kota Kembang, Bandung. Untuk mendapatkan solusinya pengusaha batik yang lebih akrab dipanggil dengan panggilan Komar ini selama dua bulan menelateni pembuatan desain kompor gas LPG yang sesuai dengan ke’butuhan untuk pekerjaan membatik.

Ide untuk menciptakan desain kompor gas yang sesuai kebutuhan industri kerajinan batik itu muncul setelah melihat kenyataan bahwa kompor gas yang berada di pasaran saat ini (termasuk kompor gas yang dibagikan secara gratis oleh pemerintah dalam rangka program konversi penggunaan minyak tanah ke gas LPG) sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan para perajin batik. Sebab, dari sisi bentuk maupun ukurannya sangat tidak sesuai dengan kebutuhan perajin batik. Selain diameter kompornya yang kurang lebar, juga penyebaran panasnya kurang merata serta efisiensi pembakarannya rendah.

Untuk mendapatkan rancangan kompor gas yang sesuai dengan kebutuhan perajin batik, Komar melakukan beberapa kali percobaan agar diperoleh kompor gas yang semburan apinya tidak terlalu besar namun panasnya merata, hemat dalam penggunaan gasnya, mudah pengoperasiannya serta mudah untuk memperbanyaknya. Selama melakukan percobaan pembuatan kompor, ia bekerja sama dengan pembuat oven kue untuk membuat berbagai alternatif dimensi kompor yang sesuai.

Kriteria utama yang diperhatikan Komar dalam membuat rancangan kompor gas adalah aman (tidak meledak), nyaman dalam pengoperasiannya dan hemat dalam penggunaan bahan bakarnya. Karena itu, kompor gas untuk membatik ini menggunakan burner yang khusus yang diameternya lebih besar (tidak sama dengan kompor dapur). Demikian juga regulator, valve dan pemantiknya yang tidak sama dengan regulator, valve dan pemantik yang digunakan pada kompor dapur.

Kompor gas untuk membatik hasil rancang bangun Komar sudah ditawarkan kepada Yayasan Batik Indonesia untuk dicoba di sejumlah perajin batik. Yayasan Batik Indonesia sendiri sudah membeli beberapa unit kompor gas karya Komar untuk kemudian dibagikan kepada para perajin batik di daerah. Demikian juga Yayasan Batik Jawa Barat sudah membeli beberapa unit untuk kemudian dibagikan kepada para perajin batik di Cirebon dan Tasikmalaya.

Sementara itu, sejumlah pengusaha dan perajin batik di Pekalongan seperti Batik Wirokuto telah membeli sejumlah kompor gas karya Komar. Ia sendiri mempersilakan siapa saja untuk memperbanyak (meniru) kompor gas ciptaannya agar dapat berguna bagi masyarakat banyak. Untuk itu, Komar sengaja tidak mempatenkan desain kompor gas batiknya supaya masyarakat bisa memanfaatkannya dengan cara memproduksi atau memperbanyak sendiri. Ia bahkan mengharapkan ada orang lain yang mau memperbaiki atau meningkatkan kinerja kompor ciptaannya demi membantu masyarakat perajin batik.

“Kami sendiri hanya memproduksi kompor gas batik ini untuk kebutuhan sendiri dan kami tidak punya niat untuk terjun ke industri pembuatan kompor gas. Sebab, kami ini pengusaha batik dan kami ingin tetap fokus dalam menggeluti usaha batik,” kata pemilik usaha batik ‘Batik Komar’ ini.

Spesifikasi kompor gas batik hasil ciptaan Komar yang kini mulai diproduksi, diantaranya memiliki tinggi yang disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya 15 cm. Lebar diameter kompor 35 cm karena loyang tembaga untuk keperluan proses pengecapan (dengan lilin/malam) lebar diameternya sekitar 40 cm. Dengan cara itu panas api yang dihasilkan dari kompor gas diharapkan bisa merata ke seluruh loyang. Di tengah-tengah kompor diberi dua pembatas dengan ketinggian sekitar 5 cm yang berfungsi untuk menahan panas sehingga panas api bisa menyebar secara merata ke seluruh loyang. Dengan panas yang merata, kondisi lilin akan konstan (stabil). Inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh para perajin batik selama proses pembatikan.

Regulator dan burner kompor gas batik ini diciptakan sedemikian rupa agar tidak menyemburkan api terlalu kencang. Diameter burner dibuat lebih lebar dengan ukuran 6 cm agar panas yang dihasilkan lebih merata. Sementara itu, posisi valve, selang tabung gas diatur sedemikian rupa agar aman dan nyaman dalam penggunaannya. “Kami mengharapkan kompor gas batik ini bisa menjadi solusi bagi para perajin batik di seluruh tanah air dalam memenuhi kebutuhan kompor gas untuk membatik,” tutur Komar.

Beberapa kelebihan kompor gas batik rancangan Komar dibandingkan dengan kompor minyak tanah untuk membatik diantaranya lebih mudah digunakan, hemat bahan bakar gas, lebih bersih (tidak berasap), lebih ramah terhadap lingkungan, suhu lebih terkendali dan stabil.

Untuk memproduksi kompor gas batik ini ia mengeluarkan dana sekitar Rp 400.000 per unit dan di pasaran dijual dengan harga sekitar Rp 450.000 per unit. Namun, menurut Komar, kalau kompor gas batik ini diproduksi massal maka harga jualnya bisa lebih rendah, mungkin sekitar Rp 250.000-an per unit.

BATIK KOMAR
Jl. Sumbawa No. 22 Bandung 40113
Telp. (022) 4237688, (022) 4210720, Fax. (022) 4237688
e-mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
website: www komarbatik com

sumber: Karya Indonesia Magaz

loading...