Artikel Lainnya

Tradisi Yang Berbahaya Bagi Perempuan dan Anak Perempuan



Praktek-praktek budaya tradisional mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat dalam kurun waktu banyak generasi. Setiap pengelompokan sosial di dunia memiliki praktek dan kepercayaan budaya tradisional spesifik, di mana sebagian besar memberi manfaat kepada semua anggota, sementara yang lainnya berbahaya bagi kelompok tertentu, misalnya bagi perempuan. 

Praktek-praktek budaya tradisional yang berbahaya ini termasuk pemotongan alat kelamin perempuan (FGM); memberi makan secara paksa kepada perempuan; perkawinan di usia sangat muda; berbagai hal tabu atau praktek yang menghalangi perempuan mengontrol kesuburan mereka; tabu terhadap gizi dan praktek melahirkan tradisional; mengutamakan (preferensi) anak laki-laki dan implikasinya atas status anak perempuan; pembunuhan bayi perempuan; kehamilan muda; dan harga mas kawin. Meskipun bersifat berbahaya dan melanggar hukum internasional tentang hak asasi manusia, praktek-praktek tersebut tetap berlangsung karena masalah itu tidak dipersoalkan dan dianggap sebagai pancaran moral di mata mereka yang mempraktekkannya. 

Terdapat sejumlah alasan bagi tetap berlangsungnya praktek tradisional yang merusak kesehatan dan status perempuan, termasuk kenyataan bahwa dahulu tidak ada tanggapan baik dari pemerintah-pemerintah atau pun masyarakat internasional yang menentang pengaruh menakutkan dari praktek-praktek tersebut, yang melanggar hak kesehatan, kehidupan, martabat dan integritas seseorang. Masyarakat internasional tetap waspada dalam menanggapi persoalan ini sebagai suatu masalah yang membutuhkan penelitian dan tindakan dari kalangan internasional dan nasional. Praktek berbahaya seperti pemotongan alat kelamin perempuan dianggap sebagai masalah budaya yang sensitif dalam lingkungan perempuan dan keluarga. Sejak lama, Pemerintah dan masyarakat internasional tidak menunjukkan simpati dan pengertian terhadap perempuan yang mengabaikan atau tidak menyadari hak mereka, menahan rasa sakit, menderita bahkan mengakibatkan kematian diri sendiri dan anak-anak perempuan mereka. 


1. Pemotongan Alat Kelamin Perempuan

Pemotongan alat kelamin perempuan (PKW), atau penyunatan perempuan kadangkala secara keliru dipandang sebagai tindakan pembedahan untuk membuang sebagian atau seluruh organ yang paling sensitif dari kelamin perempuan. Hal ini merupakan praktek kuno yang masih berlangsung terus dalam sejumlah masyarakat di dunia, hanya sekedar untuk mengikuti adat-istiadat. PKW merupakan bagian penting dari upacara perpindahan status pada sejumlah masyarakat, sebagai tanda bahwa seorang anak perempuan telah memasuki usia dewasa. Dipercayai bahwa dengan memotong alat kelamin perempuan, maka tingkat seksualnya akan terkontrol; akan tetapi di atas semua itu sebenarnya adalah untuk memastikan keperawanan dan kesucian perempuan sebelum dan sesudah perkawinan. Kenyataannya, PKW mengakibatkan sejumlah komplikasi kesehatan dan masalah psikologis yang tak terjawab, terhadap perempuan dan anak perempuan. Di antara hukum internasional tentang Hak asasi manusia, praktek PKW telah melanggar hak anak atas “penikmatan sepenuhnya standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai,” seperti tercantum dalam Pasal 24 (ayat 1 dan 3) dari Konvensi Hak Anak. 

Asal-usul PKW belum diketahui dengan pasti, akan tetapi catatan membuktikan bahwa praktek tersebut telah dimulai sebelum Kristen dan Islam dipraktekkan dalam masyarakat seperti sekarang ini. Pada jaman Romawi kuno, cincin terbuat dari besi ditusukkan melalui bibir vagina seorang budak untuk mencegah kehamilan; pada abad pertengahan di Inggris, perempuan menggunakan sabuk kesucian yang terbuat dari besi untuk mencegah persetubuhan selama ditinggalkan suami; dari jaman Mesir kuno, tubuh-tubuh yang dimumikan mengungkapkan bahwa telah dilakukan pemotongan dan penjahitan kelamin akibat penyunatan pada jaman Firaun; pada jaman Tsar Rusia, dan juga Inggris, Perancis dan Amerika abad sembilan belas, catatan menunjukkan terjadinya praktek pembuangan klitoris. Di Inggris dan Amerika, PKW dianggap sebagai “obat” terhadap sejumlah penyakit psikologis.

Pengaruh terhadap kesehatan dan kejiwaan 

Pemotongan alat kelamin perempuan membawa pengaruh jangka pendek dan jangka panjang. Pendarahan, infeksi dan rasa sakit yang hebat merupakan akibat yang langsung timbul. Terbentuknya keloid, ketidak-suburan akibat infeksi menghalangi pekerjaan, dan komplikasi kejiwaan merupakan akibat lanjutan. Di wilayah pedesaan di mana pembantu perawat kelahiran tidak terlatih melaksanakan operasi, komplikasi akibat luka dalam dan alat-alat yang sudah terinfeksi, dapat mengakibatkan kematian sang anak. 


2. Keutamaan Anak Laki-Laki dan Pengaruhnya pada Status Anak Perempuan 

Salah satu bentuk utama dari diskriminasi dan salah satu hal yang memberikan pengaruh besar terhadap perempuan adalah preferensi pada anak laki-laki yang diberikan melebihi anak perempuan. Praktek ini menolak untuk memberikan suatu kondisi kesehatan yang baik, pendidikan, hiburan, kesempatan terhadap masalah ekonomi dan hak untuk memilih pasangan kepada anak perempuan.

Pada banyak masyarakat, garis keturunan keluarga dilanjutkan oleh anak laki-laki. Nama keluarga dapat dipastikan terpelihara melalui anak laki-laki. Kecuali pada sejumlah kecil negara (misalnya Etiopia), anak perempuan akan memakai nama keluarga suaminya, lalu membuang nama orangtuanya sendiri. Ketakutan akan kehilangan nama, mendorong keluarga untuk mengharapkan mempunyai anak laki-laki. Beberapa laki-laki mengawini dua atau tiga perempuan untuk memastikan didapatkannya anak laki-laki.

Pendeta, pastor, syekh dan pemimpin agama lainnya adalah laki-laki yang memiliki status tinggi yang sangat dihormati masyarakat, dan peran penting dari laki-laki ini membuat orangtua berharap untuk mempunyai anak laki-laki. Pemimpin agama memiliki keterlibatan yang besar terhadap dipertahankannya preferensi anak lelaki.

Preferensi anak lelaki terwujud baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Kelahiran anak laki-laki disambut dengan perayaan sebagai suatu aset, sedangkan bila yang lahir anak perempuan, hal tersebut dianggap sebagai suatu tanggung jawab (liability), yang akan menghabiskan sumber keuangan. Seperti kata pepatah “memelihara anak perempuan seperti menyirami kebun tetangga.”


3. Pembunuhan Bayi Perempuan 

Bias seksual atau preferensi anak lelaki menempatkan anak perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan sejak kelahirannya. Namun, pada sejumlah masyarakat, khususnya di Asia, parktek-praktek pembunuhan anak perempuan menyebabkan sejumlah anak perempuan tidak pernah hidup sama sekali, yang merupakan pelanggaran terhadap hak yang mendasar untuk hidup yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak. Aborsi, pembunuhan janin dan pembunuhan bayi secara selektif semua terjadi karena anak perempuan tidak dihargai dalam budayanya, atau peraturan ekonomi dan legislatif mengakibatkan hidupnya tidak berarti. 


4. Kawin Usia Muda dan Mas Kawin 

Kawin usia muda merupakan masalah serius lain yang harus dihadapi sejumlah gadis dan bukannya oleh anak laki-laki. Praktek mengawinkan anak perempuan pada usia 11, 12 atau 13 tahun untuk menikah, di mana setelah itu mereka harus mulai melahirkan keturunan, merupakan suatu hal yang menonjol di antara suku-suku tertentu di Asia dan Afrika. Alasan utama dari praktek-praktek ini adalah keperawanan anak perempuan tersebut dan nilai mas kawin. Apabila seorang anak gadis melakukan hubungan seksual, ini merupakan hal yang buruk, sehingga dapat dipastikan bahwa mereka masih perawan pada saat melangsungkan perkawinan; keadaan ini akan meningkatkan status keluarga dan juga besarnya mas kawin yang harus dibayar oleh pihak suami. Dalam beberapa kasus, keperawanan seorang anak perempuan diperiksa oleh kerabat wanitanya. 

Perkawinan anak-anak merampas masa kecil seorang gadis – suatu masa yang penting untuk pertumbuhan fisik, emosi dan kejiwaan. Pada kenyataannya, perkawinan usia muda membawa akibat tekanan emosi yang tinggi saat seorang gadis muda pindah dari rumah orangtuanya ke rumah suami dan kerabatnya. Sang suami, yang jauh lebih tua beberapa tahun darinya, hanya sedikit memiliki pengalaman dengan anak muda. Dengan laki-laki asing inilah si gadis harus membangun hubungan intim secara emosional dan fisik. Dia wajib untuk melakukan persetubuhan, walaupun secara fisik mungkin ia belum sepenuhnya siap. 

Harga mas kawin bagi seorang perempuan adalah nilai tukarnya dengan uang tunai, barang-barang atau bentuk lain yang disepakati, seperti bekerja untuk jangka waktu tertentu. Nilai ini ditentukan oleh keluarga calon pengantin perempuan dan calon mertuanya. Kedua belah pihak harus memperoleh keuntungan dari pertukaran tersebut. Keluarga mertua si pengantin perempuan menghendaki adanya tenaga tambahan dan anak-anak; sedang keluarga pengantin perempuan sendiri menginginkan pembayaran yang dapat memberikan jaminan pada anggota keluarga lainnya. Harga mas kawin akan lebih tinggi apabila keperawanan seorang perempuan telah dipertahankan.


5. Hamil Muda

Kehamilan pada usia muda dapat membawa akibat yang berbahaya baik terhadap ibu muda maupun bayinya. Menurut UNICEF, tidak seorang gadis pun boleh hamil sebelum usia 18 tahun karena secara fisik ia belum siap untuk melahirkan anak. Bayi-bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang berusia di bawah 18 tahun cenderung lahir prematur, dan memiliki kekurangan berat badan; bayi-bayi seperti itu lebih sering meninggal. Resiko pada kesehatan ibu yang muda usia juga lebih besar. Kesehatan yang buruk merupakan hal yang umum terjadi di antara perempuan miskin yang sedang hamil dan menyusui. 


Tindak Kekerasan terhadap Perempuan 

Sebagian besar praktek-praktek di atas merupakan tindak kekerasan terhadap perempuan atau anak perempuan yang dilakukan oleh keluarga atau masyarakat, dan seringkali dimaafkan oleh Negara.

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates