Susu sebagaimana bahan pangan hewani lainnya yang dikenal kaya dengan kandungan gizi, tingkat konsumsinya semakin meningkat di seluruh dunia. Antara tahun 1997/1998 hingga tahun 2030, konsumsi susu dan produk olahannya di negara-negara berkembang konsumsinya diperkirakan akan meningkat dari 45 kg menjadi 66 kg per kapita dan di negara-negara maju meningkat dari 212 kg menjadi 221 kg per kapita.

Selain susu, konsumsi pangan hewani lainnya juga akan meningkat. Konsumsi daging setiap tahunnya di negara-negara berkembang akan meningkat dari 25,5 kg menjadi 37 kg per kapita, sementara di negara-negara maju akan meningkat dari 88 kg menjadi 100 kg per kapita. Untuk telur, konsumsi akan meningkat dari 6,9 kg menjadi 8,9 kg di negara-negara berkembang dan di negara-negara maju meningkat dari 13,5 kg menjadi 13,8 kg per kapita.

4 Sehat 5 Sempurna

Selain mengandung kalsium, susu juga mengandung hampir seluruh dari zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Pada pedoman gizi empat sehat lima sempurna (4S 5S), yang pertama kali dicetuskan oleh ”Bapak Gizi Indonesia” yaitu Prof. Poerwo Sudarmo pada tahun 1950-an, susu dikategorikan sebagai bahan pangan yang dapat menyempurnakan.

Konsumsi susu secara nyata memacu perbaikan mineral tulang pada wanita remaja. Wanita berusia 12 tahun yang mengonsumsi dua gelas susu dengan kadar lemak rendah setiap hari mempunyai peningkatan yang sangat besar pada kepadatan dan massa tulang, akan tetapi tidak menambah berat massa lemak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Susu mempunyai peranan penting untuk mencegah osteoporosis. Susu adalah sumber kalsium dan fosfor yang sangat penting untuk pembentukan tulang. Kalsium dan fosfor dari susu lebih mudah dicerna, hal ini terutama dihubungkan dengan adanya kasein yang merupakan protein utama susu, yang dapat membantu meningkatkan daya serap kalsium.

Dari laporan USDA, hampir 9 dari 10 remaja wanita dan 7 dari 10 remaja pria di Amerika Serikat tidak cukup mengonsumsi kalsium, sedangkan dalam periode pembentukan tulang optimal pada umur 9 hingga 18 tahun (remaja) dianjurkan asupan kalsium sebesar 1300 mg per hari, setara dengan empat gelas susu, keju atau yoghurt setiap hari. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa susu dan produk olahannya adalah sumber kalsium yang terbaik, dan para peneliti menemukan bahwa remaja yang mengonsumsi susu atau produk olahannya mempunyai tulang lebih kuat dan status gizi yang lebih baik.

Berbagai faktor, seperti genetik dan lingkungan (gizi dan aktivitas fisik) mempengaruhi kesehatan tulang dan risiko terhadap osteoporosis. Di antara faktor gizi, kecukupan konsumsi kalsium adalah faktor yang penting pada seluruh tahap kehidupan. Usia muda adalah saat untuk memaksimalkan kemampuan genetis dalam pencapaian massa puncak pertumbuhan tulang, dan usia lanjut adalah saat untuk memelihara massa tulang dan meminimalkan kehilangan massa tulang seiring dengan bertambahnya usia.

 

Kurangi Resiko Osteoporosis


Selain kalsium terdapat zat gizi lain seperti protein, fosfor, magnesium, potasium, seng, vitamin A dan D yang juga membantu menjaga kesehatan tulang. Walaupun banyak para peneliti lebih menitikberatkan penelitiannya pada zat gizi tunggal, akan tetapi fakta menunjukkan bahwa mengonsumsi zat gizi secara alami dari pangan yang kaya zat gizi seperti susu dan produk olahan lainnya dapat memperbaiki status mineral tulang dan membantu mengurangi risiko terjadinya osteoporosis.

Berdasarkan hasil penelitian, pemberian susu sebanyak 708 ml (3 kali sehari) dan jus buah selama 12 minggu pada dua kelompok remaja putra yang sedang mengikuti pelatihan olahraga , menunjukkan bahwa kelompok yang diberi susu secara nyata memiliki asupan kalsium dan kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada kelompok yang diberi jus buah. Pada remaja wanita, menunjukkan bahwa pemberian minuman susu juga secara nyata dapat meningkatkan kepadatan tulang, akan tetapi tidak menambah berat badan atau lemak tubuh.

Wanita yang mengonsumsi sedikit susu pada masa anak-anak dan remaja mempunyai massa tulang yang berisiko tinggi tehadap kerapuhan saat dewasa. Wanita berumur 20 – 49 tahun, yang sewaktu kecil mengonsumsi susu kurang dari satu gelas sehari, mempunyai kandungan mineral tulang yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang mengonsumsi susu lebih dari satu gelas sehari. Diketahui bahwa remaja wanita yang mengonsumsi susu mempunyai kepadatan tulang yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak atau hanya sedikit mengonsumsi susu.

Kandungan kalsium pada susu dan beberapa produk olahannya

  • Susu segar : 143 mg / 100g

Produk Olahan :

  • Susu skim : 123 mg / 100g
  • Yoghurt, non-fat : 199 mg / 100g
  • Keju Cheddar : 729 mg / 100g
  • Keju Amerika : 443 mg / 100g
  • Keju Cottage : 61 mg / 100g


Wanita usia remaja yang meningkatkan asupan kalsium untuk memenuhi kecukupan yang dianjurkan dengan mengonsumsi lebih banyak susu, keju dan yoghurt pada menu makanan mereka, memperlihatkan peningkatan kepadatan tulang dibandingkan dengan wanita yang hanya mengonsumsi makanan secara normal.

Peningkatan asupan susu atau produk olahannya juga ternyata tidak berhubungan dengan peningkatan lemak tubuh.

loading...