Dalam kehidupan, kita tidak dapat dipisahkan dari gula. Gula diperlukan oleh tubuh dalam membantu proses metabolisme. Rasanya yang manis membuat gula banyak disukai oleh semua orang, tetapi harus diingat bahwa konsumsi gula berlebihan dapat menimbulkan pengaruh yang buruk bagi kesehatan.

Gula telah banyak dikaitkan dengan beberapa masalah kesehatan, misalnya kegemukan, jantung dan lain-lain. Beberapa diantaranya masih merupakan kontroversi dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

1. Gula Menyebabkan Obesitas

Makanan dengan kandungan gula yang tinggi menghasilkan banyak energi (kcalories). Ketika makanan tersebut juga mengandung kadar lemak yang tinggi, maka total asupan energi dan lemak pada tubuh akan meningkat juga. Asupan energi yang melebihi kebutuhan tubuh, turut berkontribusi pada meningkatnya berat badan. Tetapi gula bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan obesitas, dan obesitas pun dapat terjadi meski tanpa asupan gula yang tinggi. Dugaan bahwa makanan manis dapat menstimulasi dan meningkatkan nafsu makan atau makan berlebihan, sampai saat ini belum didukung oleh bukti penelitian.

Membatasi asupan makanan dan minuman yang mengandung banyak gula merupakan cara efektif dalam upaya menurunkan berat badan, terutama bagi orang-orang yang kelebihan kcalories-nya berasal dari gula yang ditambahkan pada makanan / minuman. Mengganti sekaleng cola dengan segelas air setiap hari, misalnya, dapat membantu seseorang menurunkan 1/2 kg berat badan (atau setidaknya tidak menambah berat badannya 1/2 kg) dalam waktu sebulan.

2. Gula Menyebabkan Penyakit Jantung

Makanan yang mengandung tinggi gula dapat meningkatkan lipida darah sehingga menjadi mudah terkena penyakit jantung (lipid meliputi lemak dan kolesterol). Pengaruhnya terutama pada orang yang memiliki respon sukrosa tidak normal dengan sekresi insulin yang tinggi, yang mana hal ini dapat meningkatkan produksi lemak berlebihan. Pada kebanyakan orang, asupan gula yang sedang, tidak akan meningkatkan lipida darah.

Pertimbangkan bahwa penyakit jantung memiliki hubungan yang lebih dekat dengan faktor non makanan, seperti merokok dan genetik. Di antara faktor resiko dari makanan, beberapa, seperti lemak jenuh, lemak trans, dan obesitas, memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan penyakit jantung daripada asupan gula.

3. Gula Menyebabkan Perilaku Menyimpang pada Anak dan Remaja

Gula diyakini dapat menyebabkan perilaku buruk pada anak-anak yang hiperaktif, kenakalan remaja, dan pelanggaran hukum pada orang dewasa. Spekulasi tersebut telah didasarkan pada kisah-kisah pribadi dan belum didukung oleh penelitian ilmiah.

Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hubungan antara gula dan hiperaktivitas atau perilaku menyimpang lainnya.

4. Gula Menyebabkan Ketagihan dan Ketergantungan

Makanan secara umum, khususnya karbohidrat dan gula, tidak menyebabkan ketergantungan / kecanduan seperti yang terjadi pada obat-obatan. Namun beberapa orang menggambarkan diri mereka sebagai memiliki "ngidam karbohidrat" atau menjadi "pecandu gula".

Sebuah teori mengatakan bahwa orang berusaha memenuhi asupan karbohidrat sebagai suatu cara untuk meningkatkan kadar serotonin neurotransmitter otak, yang diyakini dapat meningkatkan suasana hati. Menariknya, ketika orang-orang tersebut memenuhi hasratnya, mereka cenderung makan berlebihan, tetapi persentase energi dari karbohidrat tetap tidak berubah. Alkohol juga dapat meningkatkan kadar serotonin, dan pecandu alkohol yang "ngidam karbohidrat" tampaknya dapat menangani "kesadarannya" dengan lebih baik ketika diberi diet tinggi karbohidrat.

Kemudian "kecanduan" digunakan untuk menjelaskan mengapa menolak makanan sangat sulit dan, kadang-kadang, bahkan mustahil. Tapi "kecanduan" tidak bersifat farmakologis, kapsul zat psikoaktif yang umum ditemukan dalam coklat, misalnya, tidak dapat memuaskan keinginan tersebut.

loading...