Anemia pada Lansia

Anemia sebenarnya bukanlah merupakan diagnosa akhir dari sesuatu penyakit akan tetapi merupakan hasil dari berbagai gangguan dan hampir selalu membutuhkan evaluasi lanjutan atau boleh juga dikatakan bahwa anemia merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit dasar. Ada juga yang mengatakan bahwa anemia merupakan ekspresi kompleks gejala klinis suatu penyakit yang mempengaruhi mekanisme patogenesis gangguan eritropoesis (produksi eritrosit), perdarahan, atau penghancuran eritrosit.

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).

Insidensi anemia bervariasi tetapi diperkirakan sekitar 30% penduduk dunia menderita anemia, dimana prevalensi tertinggi berada di negara–negara sedang berkembang.

1. Definisi anemia

Seseorang dikatakan menderita anemia apabila konsentrasi hemoglobin pada orang tersebut lebih rendah dari nilai normal hemoglobin yang sesuai dengan jenis kelamin dan umur dari orang tersebut. Oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO: World Health Organization) telah ditetapkan batasan anemia yaitu untuk wanita apabilah konsentrasi hemoglobinnya di bawah 12 gr/dL (7,5 mmol/L) dan untuk pria apabila konsentrasi hemoglobinnya di bawah 13 gr / dL (8,1 mmol / L).

2. Klasifikasi anemia

a. Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi eritrosit

Anemia berdasarkan morfologi eritrosit dibagi atas: mikrositik–hipokromik (MCV < 80 fl, MCHC < 30 g/l), normositik–normokromik (MCV 80–100 fl, MCHC 30 – 35 g/l) dan makrositik–normokromik (MCV > 100 fl, MCHC > 35 g/l).

Keterangan:

MCV : Volume korpuskuler rata–rata
MCHC : Konsentrasi hemoglobin korpuskuler rata–rata

b. Klasifikasi anemia berdasarkan berat–ringan

Anemia berdasarkan berat ringannya dibagi atas 3 tingkatan yaitu ringan, sedang, dan berat.

 


c. Mekanisme terjadinya anemia

Ada beberapa mekanisme untuk terjadinya anemia, yaitu:

  1. Kehilangan darah, misalnya perdarahan,
  2. Menurunnya umur hidup sel darah merah (eritrosit), misalnya anemia hemolitik,
  3. Kelainan pada pembentukan sel darah merah (eritrosit), misalnya kelainan sintesis hemoglobin,
  4. Berkumpul dan dihancurkannya eritrosit di dalam limpa yang membesar,
  5. Meningkatnya volume plasma, misalnya kehamilan, splenomegali.


d. Tanda dan gejala anemia berdasarkan berat–ringannya anemia

Manifestasi gejala dan keluhan anemia tergantung dari beberapa faktor antara lain:

  1. Penurunan kapasitas daya angkut oksigen dari darah serta kecepatan dari penurunannya,
  2. Derajat serta kecepatan perubahan dari volume darah,
  3. Penyakit dasar penyebab anemianya,
  4. Kapasitas kompensasi sistem kardiopulmonal.


Adapun tanda dan gejala anemia yang dijumpai berdasarkan berat–ringannya anemia adalah sebagai berikut:


 

e. Hubungan anemia dengan lansia

Anemia merupakan salah satu gejala sekunder dari sesuatu penyakit pada lansia. Anemia sering dijumpai pada lansia dan meningkatnya insidensi anemia dihubungkan dengan bertambahnya usia telah menimbulkan spekulasi bahwa penurunan hemoglobin kemungkinan merupakan konsekuensi dari pertambahan usia. Tetapi ada 2 alasan untuk mempertimbangkan bahwa anemia pada lansia merupakan tanda dari adanya penyakit, yaitu:

  • Kebanyakan orang–orang lansia mempunyai jumlah sel darah merah normal, demikian juga dengan hemoglobin dan hematokritnya,
  • Kebanyakan pasien – pasien lansia yang menderita anemia dengan hemoglobin < 12 gr / dL, penyakit dasarnya telah diketahui.


Prevalensi anemia pada lansia adalah sekitar 8–44%, dengan prevalensi tertinggi pada laki–laki usia 85 tahun atau lebih. Dari beberapa hasil studi lainnya dilaporkan bahwa prevalensi anemia pada laki–laki lansia adalah 27–40% dan wanita lansia sekitar 16–21%.

Sebagai penyebab tersering anemia pada orang–orang lansia adalah anemia penyakit kronik dengan prevalensinya sekitar 35%, diikuti oleh anemia defisiensi besi sekitar 15%. Penyebab lainnya yaitu defisiensi vitamin B12, defisiensi asam folat, perdarahan saluran cerna dan sindroma mielodisplastik.

Meningkatnya perasaan lemah, lelah dan adanya anemia ringan janganlah dianggap hanya sebagai manifestasi dari pertambahan usia. Oleh karena keluhan-keluhan tersebut di atas merupakan gejala telah terjadinya anemia pada lansia. Selain gejala–gejala tersebut di atas, palpitasi, angina dan klaudikasio intermiten juga akan muncul oleh karena biasanya pada lansia telah terjadi kelainan arterial degeneratif. Muka pucat dan konjungtiva pucat merupakan tanda yang dapat dipercayai bahwa seorang lansia itu sebenarnya telah menderita anemia.

Pada lansia penderita anemia berbagai penyakit lebih mudah timbul dan penyembuhan penyakit akan semakin lama. Yang mana ini nantinya akan membawa dampak yang buruk kepada orang–orang lansia. Dari suatu hasil studi dilaporkan bahwa laki–laki lansia yang menderita anemia, resiko kematiannya lebih besar dibandingkan wanita lansia yang menderita anemia. Juga dilaporkan bahwa lansia yang menderita anemia oleh karena penyakit infeksi mempunyai resiko kematian lebih tinggi.

Penelusuran diagnosis anemia pada lansia memerlukan pertimbangan klinis tersendiri. Dari evaluasi epidemiologis menunjukkan walaupun telah dilakukan pemeriksaan yang mendalam, ternyata masih tetap ada sekitar 15–25% pasien anemia pada lansia yang tidak terdeteksi penyebab anemianya.

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates