Masalah seksual pada lansia wanita tidak secara luas dipahami dengan baik seperti pada pria. Masalah pada lansia pria adalah tidak dapat mencapai dan atau mempertahankan ereksi, tetapi begitu ereksi  orgasme akan tercapai tanpa diikuti kesulitan. Sedangkan pada wanita ada tiga tahap yang harus dilewati sebelum terjadi orgasme yaitu desire (libido), excitement (arousal) and wetness (lubrication). Dan kita akan membahasnya satu persatu

a. Tahap Desire (libido)

Dari survey yang dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan bahwa “kurangnya minat pada seks” merupakan masalah seks yang utama pada wanita lansia.  Gangguan tahap ini dapat berupa dorongan seksual hipoaktif, yaitu lenyapnya dorongan seksual ataupun fantasi seksual sehingga tidak bergairah untuk melakukan aktivitas seksual.

Penyebab kelainan ini antara lain:

  • Penyebab organik

Disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormonal yang sering dijumpai pada operasi ovariektomi bilateral, ketegangan pre-haid, pasca persalinan, sindroma pre-menopause dan kemoterapi. Obat-obatan yang juga dapat menjadi penyebab termasuk androgen, antiestrogen (termasuk obat KB), sitotoksika dan psikofarmaka.

  • Penyebab psikis

Penyebab utama hipoaktif seksual nampaknya karena masalah relasi dimana salah satu pasangan tidak merasa intim secara emosial atau dekat dengan pasangan mereka. Insomnia yang menyebabkan kelelahan, serta pengalaman trauma seksual, tabu seks juga dapat mempengaruhi  kelainan ini.


b. Tahap arousal dan lubrication

Gangguan tahap ini merupakan masalah yang paling sering terjadi pada wanita setelah mengalami menopause. Reaksi seksual yang seharusnya terjadi adalah peningkatan aliran darah ke panggul, yang akan menyebabkan terjadinya bendungan dan pembesaran pada jaringan dinding vagina. Klitoris akan mengalami ereksi mini dan dinding vagina akan memproduksi cairan pelumas agar tidak sakit sewaktu penetrasi.

Gangguan tahap ini bertambah buruk apabila disertai dengan diabetes, hipertensi, radioterapi pada tumor pelvis, dan penggunaan anti-estrogen pada pengobatan kanker payudara. Vagina yang kering dan hilangnya elastisitas tidak akan bertambah buruk apalagi sering melakukan aktivitas seksual, dalam hal ini berlaku istilah “use it or lose it”. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian substitusi seperti vaselin, krem estrogen atau testoteron, estrogen oral. Terkadang vitamin E suppositoria juga efektif. 

c. Tahap orgasme

Tahap ini tidak akan terjadi bila terjadi gangguan pada tahap-tahap sebelumnya. Pada beberapa wanita walau tahap-tahap sebelumnya telah dilalui secara lengkap mereka tetap sulit memperoleh orgasme. Kegagalan ini tentu saja dapat memberikan tekanan stres pada wanita tersebut. Selain itu dispareunia juga dapat menghambat terjadinya orgasme.

Terapi seks menyarankan  wanita yang mengalami gangguan orgasme agar mulai berlatih aktif pada dirinya, misalnya dengan masturbasi dapat membantu mereka untuk mengetahui tekanan atau ritme yang seperti apa sehingga dapat mencapai orgasme, kemudian mereka dapat memberitahukannya pada pasangan seksual mereka.

d. Gangguan rasa sakit

Terdapat beberapa gangguan yang menimbulkan rasa sakit, antara lain :

  • Dispareunia, yaitu timbulnya rasa sakit sewaktu bersenggama.  Umumnya rasa sakit ini terjadi di vulva dan 1/3 luar vagina, tetapi ada juga rasa sakit dalam namun jarang terjadi kecuali ada penyakit ginekologi. Dispareunia bisa disebabkan oleh:
- Lubrikasi vagina yang inadekuat,
- Iritasi pada genitalia ekstena,
- Kekeringan pada genitalia eksterna,
- Vulva vaginitis,
- Trauma lokal seperti episiotomi,
- Uretritis,
- Intromission (sudut penetrasi) yang kurang tepat,
- Penyakit anorektal,
- Anomali traktus genitalia wanita.
  • Vaginismus, yaitu vagina mengalami kontraksi bila ada benda yang masuk ke vagina (misalnya penis, jari atau tampon). Biasanya terjadi karena dispareuni, fobia terhadap penetrasi.
  • Berbagai penyakit ginekologi dapat menyebabkan rasa sakit seperti kista Bartholini, abses vagina, dan sebagainya.


Penatalaksanaan disfungsi seksual

Pada dasarnya gangguan fungsi seksual dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis. Gangguan fungsi dapat diatasi sesuai dengan penyebabnya. Akan tetapi hasilnya sangat bergantung pada jenis, penyebab, lama terjadinya dan ada tidaknya penyulit.

Pada prinsipnya tata cara mengatasi gangguan fungsi adalah meliputi konseling seksual, terapi obat/tindakan operatif, terapi nutrisi dan penggunaan alat bantu. Bisa tunggal maupun kombinasi kembali kepada masalah dan keadaan individu.

#ebooks

loading...