Biasanya 1 dari 4 penderita sindrom nefrotik adalah penderita dengan usia > 60 tahun. Namun secara tepatnya insiden dan prevalensi sindrom nefrotik pada lansia tidak diketahui karena sering terjadi salah diagnosa. Apabila penyebab dari penyakit ini adalah penyakit sistemik maka dapat ditemukan gejala klinis sesuai dengan penyebabnya. Pada lansia dengan Diabetes melitus sering dihubungkan dengan kelainan glomerulus yang mengakibatkan sindrom nefrotik pada lansia.

Etiologi

Penyebab sindrom nefrotik pada dewasa adalah:

a. Glomerulonefritis primer (sebagian besar tidak diketahui sebabnya)

  • Glomerulonefritis membranosa
  • Glomerulonefritis kelainan minimal
  • Glomerulonefritis membranoproliferatif
  • Glomerulonefritis paskastreptokok


b. Glomerulonefritis sekunder

  • Lupus eritematosus sistemik
  • Obat (penisilinamin, kaptopril, AINS)
  • Neoplasma (kanker payudara, kolon, bronkus)
  • Penyakit sistemik yang mempengaruhi glomerulonefritis (DM, amiloidosis)


Manifestasi Klinik

Gejala utama yang ditemukan adalah:

  • Proteinuria > 3,5 g/hari
  • Hipoalbuminemia < 30 g/l
  • Edema generalisata. Terutama jelas pada kaki, namun dapat ditemukan edema muka, asites dan efusi pleura
  • Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia
  • Hiperkoagulabilitas, yang akan meningkatkan resiko trombosis vena dan arteri
  • Lipiduria (lemak bebas, sel epitel bulat yang mengandung lemak/oval fat bodie's, torak lemak).


Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaan urin dan darah untuk memastikan proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperlipidemia. Diperiksa fungsi ginjal dan hematuria. Biasanya ditemukan penurunan kalsium plasma. Diagnosis pasti melalui biopsi ginjal.

Komplikasi:

  • Gagal ginjal akut,
  • Trombosis,
  • Infeksi dan
  • Malnutrisi.


Penatalaksanaan

  • Tentukan penyebabnya (biopsi ginjal pada seluruh orang dewasa)
  • Penatalaksanaan edema

Dianjurkan untuk tirah baring dan memakai stoking yang menekan, terutama untuk pasien lanjut usia. Hati-hati pada pemberian diuretic, karena adanya proteinuria berat dapat menyebabkan gagal ginjal atau hipovolemik. Harus diperhatikan dan dicatat keseimbangan cairan pasien, biasanya diusahakan penurunan berat badan dan cairan 0,5-1 kg/hari. Dilakukan pengawasan terhadap kalium plasma, natrium plasma, kreatinin dan ureum. Bila perlu diberikan tambahan kalium. Diuretik yang biasanya diberikan adalah diuretic ringan, seperti tiazid atau furosemid dosis rendah, dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan. Garam dalam diet dan cairan dibatasi bila perlu. Pemberian albumin i.v hanya diperlukan pada kasus-kasus refrakter, terutama bila terjadi kekurangan volume intravaskular atau oliguria.

  • Memperbaiki nutrisi

Dianjurkan pemberian makanan tinggi kalori dan rendah garam. Manfaat diet tinggi protein tidak jelas dan mungkin tidak sesuai karena adanya gagal ginjal, biasanya cukup dengan protein 50-60 g/hari ditambah kehilangan dari urin.

  • Mencegah infeksi

Diberi antibiotik profilaksis, terutama terhadap infeksi pneumokok.

  • Pertimbangkan obat antikoagulasi

Dilakukan pada pasien dengan sindrom nefrotik berat, kecuali bila terdapat kontraindikasi. Tetapi (biasanya warfarin) dipertahankan sampai penyakitnya sembuh.

  • Penatalaksanaan penyebabnya

Pada dewasa tidak sama seperti anak-anak diberi terapi steroid sebagai penegakan diagnosis, kelainan minimal hanya menjadi penyebab yang mendasarinya.

Pada lansia penggunaan prednisolon jangka pendek diketahui dapat memperlambat terjadinya gagal ginjal terminal dan terapi kombinasi antara klorambusil dan prednison cukup efektif untuk pengobatan sindrom nefrotik. Penanganan penyakit ini pada lansia biasanya secara simtomatis, penggunaan diuretik dan membatasi asupan natrium. Hal lain yang juga penting adalah penyakit sistemik yang mendasarinya harus diobati.

 

Prognosa

Prognosis dari sindrom nefrotik biasanya 50% menjadi gagal ginjal terminal, 25% fungsi ginjal baik, namun masih terdapat hasil pemeriksaan urin yang tidak normal dan 25% relaps spontan.

 

#ebooks

loading...