Kelainan psikiatrik nampaknya lebih sering diderita oleh para usia lanjut dibanding usia muda. Hasil penelitian di Amerika mengungkapkan bahwa 25% jenis obat yang digunakan para usia lanjut adalah golongan psikotropika

Penyakit psikiatris pada usia lanjut tidak hanya akibat menuanya organ-organ tubuh dan penyakit-penyakit sistem serebrovaskuler, tetapi juga akibat tekanan hidup atau gangguan somatik yang lain.

Dalam penggunaan obat, para usia lanjut lebih sering menghadapi problema, hal ini disebabkan kecenderungan menggunakan obat secara bersamaan akibat majemuknya jenis penyakit yang diderita. Keadaan fisiologi tubuh para usia lanjut telah mengalami kemunduran sehingga farmakokinetik dan farma kodinamik obat mengalami perubahan. Demikian pula dengan kondisi patologik dan interaksi obat yang banyak berperan pada usia lanjut. Oleh sebab itu para usia lanjut mempunyai risiko dua kali lebih tinggi untuk mendapatkan efek samping maupun interaksi obat.


Perubahan Fisiologis dan Farmakokinetis pada Usia Lanjut

Perubahan fungsi fisiologis tubuh erat hubungannya dengan meningkatnya usia. Hal ini berpengaruh terhadap perubahan farmakokinetik obat baik absorpi, distribusi maupun eliminasi obat.

Absorpsi
Absorpsi obat pada usia lanjut hanya sedikit mengalami perubahañ, dengan demikian efeknya terhadap farmakokinetik obat tidak dapat ditentukan. Perubahan biasanya terjadi pada peningkatan pH lambung yang dapat rnenambah kelarutan dan ionisasi beberapa obat, juga dapat mengurangi pengrusakan beberapa obat. Namun sampai saat ini belum terbukti hal ini dapat mempengaruhi absorpsi obat.

Distribusi
Nilai distribusi obat psikotropika mengalami perubahan pada usia lanjut. Diketahui bahwa pada usia lanjut terjadi pengecilan massa tubuh dan penyusutan cairan tubuh. Cairan tubuh total menurun dan 25% pada usia 20 tahun menjadi 18% pada usia 60 tahun. Sebaliknya jumlah lemak tubuh meningkat dan 10% pada usia 20 tahun menjadi 24% pada usia 60 tahun. Dengan demikian konsentrasi obat yang larut dalam air meningkat sedang obat larut lemak kadarnya menurun. Jumlah serum albumin menurun sekitar 15­25% pada usia lanjut yang menyebabkan jumlah obat total dalam sirkulasi dan aktivitas farmakologiknya meningkat.

Eliminasi
Biotransformasi obat-obat psikotropika terutama berlangsung di hepar. Telah diketahui bahwa umumnya berat hepar para usia lanjut telah mengalami penurunan, demikian pula dengan aliran darah hepar yang menurun sebesar 40-45%. Hal ini terutama berpengaruh pada obat-obat yang kecepatan biotransformasinya bergantung pada aliran darah hepar, Seperti imipramin, desipramin, amitriptilin dan nortriptilin yang mengalami perpanjangan waktu paruh obat (t½ plasma).

Pada usia lanjut juga telah terjadi penurunan klirens yang berhubungan dengan penurunan fungsi organ eliminasi. Klirens obat tidak hanya berhubungan dengan t½ plasma tetapi ditentükan pula oleh volume distribusi obat. Hal ini terlihat pada antidepresan trisiklik, bila volume distribusi tetap atau berkurang maka t½ plasma ákan memanjang disertai dengan penurunan klirens. Akibatnya kadar obat dalam plasma meningkat sampai dua kali.

Pengaruh meningkatnya usia pada biotransformasi obat tidak seragam. Hal ini bergantung pada jalur enzim metabolisme hepar. Pada usia lanjut nampak bahwa obat-obat yang mengalami biotransformasi oleh enzim mikrosom hepar, kecepatannya menurun. Sedangkan yang non mikrosom tetap.


Keadaan Mental Emosional pada Usia Lanjut

Ada tiga jenis keadaan mental abnormal yang sering diderita usia lanjut: depresi, demensia dan delirium. Ketiga keadaan di atas -seringkali terjadi tumpang tindih (bersamaan). Depresi merupakan kelainan mental yang paling sering diderita oleh para usia lanjut karena mempunyai berbagai alasan psikososial sebagai pencetus. Sècara biologik penurunan jumlah neurotransmitter aminergik yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas monoaminoksidase merupakan dasar terjadinya depresi. Manifestasi depresi pada usia lanjut mirip dengan yang teijadi pada penderita gangguan jiwa umumnya, seperti kemundüran sosial, kebingungan, hipokondria berat, rasa khawatir berlebihan dan hostilitas. Sebenarnya ciri-ciri tersebut lebih disebabkan oleh sindroma otak organik daripada oleh depresi.

Demensia diderita oleh lebih kurang 10% para usia tanjut. Perubahan patologiknya mirip dengan penyakit Alzheimer. Perubahan yang paling dini terjadi pada fungsi kognitif berupa kerusakan pada bagian memori singkat. Perubahan tingkah laku ditandai dengan iritasi, labilitas emosi, penurunan motivasi, inisiatif dan kebersihan diri. Demensia reversibel dapat terjadi akibat kesalahan pengobatan maupun pembedahan. Usia lanjut yang menderita rasa takut dan ansietas dapat diobati dengan benzodiazepin sehingga tidak memerlukan antipsikotik yang walaupun lebih poten tetapi bahaya efek sampignya lebih besar.

Delirium ditandai dengan meningkatnya kecemasan, tremor, kebingungan, halusinasi visual dan gangguan tidur. Sebaliknya penatalaksanaan didasarkan pada penyebabnya.


Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan

  • Apakah penyakit yang diderita dapat menampakkan gejala kelainan jiwa.
  • Apakah obat yang digunakan dapat menimbulkan gejala efek samping psikiatrik.
  • Apakah penderita mempunyai riwayat gangguan psikiatrik, kalau ya bagaimana evaluasi pengobatannya.
  • Apakah penderita mempunyai riwayat kelainan neurologik, ginjal, hepar atau riwayat penyakit lainnya yang dapat meningkatkan efek samping obat terutama pada usia lanjut.
  • Apakah penderita menunjukkan gejala kambuh dari penyakit.psikiatrik.
  • Apakah penderita mempunyal dasar deirium/demensia.
  • Apakah ada bukti-bukti mengenai penurunanfungsi sintesa hepar seperti penurunan serum albumin atau penurunan fungsi ginjal seperti penurunan klirens kreatinin.
  • Interaksi apakah yang mungkin terjadi bila psikotropika digunakan bersama obat lain.


Petunjuk Penggunaan

Variasi biologik dan patologik usia lanjut sangat luas. Oleh. sebab itu pada penggunaan obat psikotropika, walaupun dimulai dengan dosis rendah diikuti dengan kenaikan dosis secara bertahap, pada akhir terapi besar dosis mungkin 30-50% lebih tinggi dan dosis umumnya. Bila perbaikan telah dicapai, terapi dilanjutkan selama 1­2 bulan, kemudian dosisnya diturunkan perlahan-lahan selama beberapa bulan. Dosis pemeliharaan diberikan sebesar 1/3 ­ 1/2 dosis terapi untuk menghindari timbulnya efek samping. Bila timbul efek samping pengobatan dihentikan.

Penggunaan antiansietas seperti benzodiazepin dapat menimbulkan efek yang cukup besar pada susunan saraf pusat karena meningkatnya sensitivitas target organ pada usia lanjut, disamping terjadi penyimpangan disposisi obat. Penggunaan semua jenis benzodiazepin secara berulang akan diakumulasi sampai derajat tertentu, sehingga dapat menyebabkan: sedasi berlebih, berkurangnya gairah seks dan berkurangnya tingkat energi secara umum. Gejala-gejala tersebut dapat dianggap bukan sebagai gejala akibat penggunaan benzodiazepin tetapi merupakan proses normal pada usia lanjut.

Efek samping lain yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan benzodiazepin pada depresi ataü demensia ringan/subklinis, karena diperkirakan dapat memperberat keadaan dan sering menimbulkan florid delirium.

Efek samping sebenamya dapat dikurangi dengan mengatur dosis dan frekuensi pemberian sesuai dengan waktu paruh obat. Derivat benzodiazepin yang mempunyai waktu paruh panjang, seperti: flurazepam, diazepam, klordiazepoksid, klorazepat, prazepam dan halozepam dianjurkan diberikan dalam dosis kecil dengan interval pemberian yang panjang. Derivat dengan waktu paruh pendek, seperti: oxazepam, lorazeparu dan aiprazolam juga memerlukan pengurangan dosis walaupun tidak banyak berpengaruh pada usia lanjut. Sedativa­hipnotika sering pula digunakan oleh usia lanjut dengan indikasi gangguan pola tidur. Biasanya terapi diberikan bila gangguan tidur cukup serius, dalam hal ini perlu dilakukan evaluasi selama pengobatan.


Kesimpulan

Perubahan farmakokinetik obat yang dialami para usia lanjut perlu diperhatikan, mengingat hubungan yang sangat erat dengan risiko efek samping maupun interaksi obat terutama dalam penggunaan psikotropika.
  • Tiga jenis keadaan mental yang sering terjadi pada usia lanjut yaitu: depresi, demensia dan delirium. Ketiganya dapat terjadi tumpang tindih (bersamaan).
  • Besar dosis psikotropika yang digunakan untuk para usia lanjut perlu lebih diperhatikan mengingat variasi biologik dan patologik pada usia lanjut sangat kompleks. Dosis awal dimulal dengan dosis rendah diikuti dengan kenaikan secara bertahap, walaupun dosis akhir dapat 30­50% lebih tinggi dari dosis umumnya.
  • Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan diperhatikañ dalam penggunaan psikotropika oleh usia lanjut seperti. gejala psikiatrik dan penyakit, efek samping obat tertentu yang dapat berupa gejala psikiatrik, riwayat penderita baik penyakit maupun keadaan fungsi organ penting seperti hepar, ginjal dan lain-lain.
  • Hal penting yang juga perlu rnendapat perhatian yaitu interaksi yang mungkin terjadi bila psikotropika digunakan bersama dengan obat lain.


Ellen Wijaya
Pusat Penelitan dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
loading...