Vitamin D dapat mempengaruhi berbagai kondisi kesehatan, dengan demikian, dapat mempengaruhi risiko kematian. Dengan menggunakan pooled data dari uji klinis acak terkontrol, peneliti melakukan analisis data pasien individual (individual patient data, IPD) dan penelitian metaanalisis untuk menilai kematian di antara subyek penelitian yang secara acak menerima vitamin D saja atau vitamin D dengan kalsium.

Melalui pencarian literatur secara sistematis, peneliti mengidentifi kasi 24 buah penelitian acak terkontrol di mana vitamin D diberikan secara tunggal atau bersamaan dengan kalsium yang melaporkan data kematian. Dari 13 penelitian dengan masing-masing lebih dari 1000 subyek penelitian, delapan penelitian dimasukkan ke analisis IPD. Dengan regresi Cox terstratifikasi, peneliti menghitung risiko kematian selama 3 tahun menggunakan terapi dalam suatu analisis intention-to-treat. Peneliti juga melakukan metaanalisis atas data semua penelitian.

Hasil: Data dari 80.528 pasien (86,8% wanita) dengan median usia 70 (rentang interkuarti 62-77) tahun. Vitamin D dengan atau tanpa calcium menurunkan kematian sebesar 7% (hazard ratio 0,93; 95% CI 0,88-0,99).

Kendati demikian, vitamin D tunggal tidak mempengaruhi kematian, namun risiko kematian berkurang jika vitamin D diberikan bersamaan dengan calcium (hazard ratio 0,91; 95% CI 0,84-0,98). Number needed to treat vitamin D plus calcium selama 3 tahun untuk mencegah satu kematian adalah 151. Penelitian metaanalisis lain (24 penelitian dengan 88.097 subyek penelitian) memperlihatkan hasil serupa, yaitu kematian berkurang dengan pemberian vitamin D plus calcium (odds ratio 0,94; 95% CI 0,88-0,99), namun tidak dengan pemberian vitamin D saja (odds ratio 0,98; 95% CI 0,91-1,06).

Peneliti menyimpulkan bahwa vitamin D bersama calcium menurunkan kematian orang usia lanjut, sementara data tidak mendukung efek pemberian vitamin D tanpa calcium.

#cdk

loading...