Sewaktu kecil kita pasti sangat senang melihat kunang-kunang, waktu itu binatang kecil tersebut masih sering kita jumpai di sekitar rumah pada malam hari.

Sekarang sangat sulit untuk menjumpai kunang-kunang, apalagi di kota-kota.
Kehadiran kunang-kunang ternyata dianggap sebagai indikator sehat tidaknya lingkungan kita: udara segar, tanah subur dan air jernih alami.

Di Jepang, sudah ada upaya anak-anak untuk melestarikan dan melawan kepunahan kunang-kunang dan ternyata membuahkan hasil yang positif. Mungkin sekarang kunang-kunang sudah tidak betah lagi tinggal di sekitar kita karena lingkungan kita sudah rusak.
 
 
Kupu-kupu si rama-rama
 
Keberadaan satwa seperti rama-rama berhubungan erat dengan tumbuhan inangnya. Jadi bila rama-rama kini semakin sulit ditemukan, khususnya di Jakarta, berarti mengindikasikan makin minimnya tumbuhan inang satwa malam tersebut.

“Satwa seperti rama-rama, memiliki perilaku serupa dengan kupu-kupu. Mereka tak akan hidup tanpa adanya tumbuhan inang,” urai Peggie Djulianti MSc., Phd, peneliti kupu-kupu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Tumbuhan inang sendiri, menurut Peggie, merupakan faktor kunci keberadaan satwa jenis kupu-kupu di satu tempat. Kupu-kupu memanfaatkan proses simbiosis mutualisme di dalamnya. Kupu-kupu memilih tanaman inang tertentu untuk meletakkan telurnya.

Tanaman ini akan menjadi sumber makanan bagi ulat, seperti pada jenis kupu-kupu Papilio polytes, biasanya meletakan telurnya pada daun jeruk. Jadi bilamana daun jeruk satu saat hilang, dapat dikhawatirkan jenis kupu-kupu itu juga bisa punah.

Pada kasus rama-rama yang kini kehadirannya makin minim di Jakarta, juga mengindikasikan makin hilangnya tumbuhan inang satwa ini. Jadi kalau diasumsikan hilangnya rama-rama berkaitan erat dengan makin menyusutnya jumlah tanaman, asumsi tersebut bisa saja dibenarkan. “Padahal beberapa jenis satwa seperti ini, kadang memiliki tiga hingga empat jenis tanaman inang,” ujar Peggy lagi.

Dengan kata lain, apabila satu jenis tumbuhan inang hilang masih ada pengganti yang lain. Namun, bila hingga saat ini jenis rama-rama terus menipis, berarti kemungkinan tiga atau empat jenis tanaman inang satwa ini telah banyak berkurang di Jakarta.
“Yah kalau diidentikan dengan lahan yang makin tidak memadai, jelas akan mengganggu ekosistem binatang ini,” tuturnya.

Menurut Peggie, kemungkinan tanaman inang dari satwa ini merupakan jenis padi-padian dan jagung. Mengingat umumnya jenis kupu-kupu yang bergiat di malam hari memiliki minat pada tumbuhan inang seperti itu. Namun secara tepatnya tumbuhan inang yang menjadi pilihan rama-rama, dia belum dapat memberitahukan hingga tulisan ini dibuat.

Mengenai kepunahan jenis rama-rama, menurutnya, masih belum terlalu mengkhawatirkan. Karena di beberapa tempat seperti Bogor, kadang masih ditemukan jenis satwa tersebut. Meskipun memang diakui, terjadi penurunan penampakan satwa dari waktu sebelumnya.

Rama-rama sendiri dikenal dalam bahasa Inggris dengan nama moth. Rama-rama merupakan jenis serangga, dalam pengkelasan yang dikelompokan kepada order Lepidoptera. Hingga kini orang kadang keliru membedakan antara kupu-kupu dan rama-rama, padahal terdapat perbedaan mencolok di antara keduanya, seperti kondisi sungut pada kepala.

Kebanyakan kupu-kupu mempunyai sesungut berfilamen yang langsing dan berbentuk belantan di hujungnya. Sementara sungut rama-rama lebih terlihat berbulu. Perbedaan lain terletak pada saat beristirahat. Bila kupu-kupu sayapnya terlipat tegak di atas tubuh pada saat beristirahat, sementara rama-rama merentangkan sayap. Kupu-kupu juga kebanyakan aktif di siang hari, sementara rama-rama lebih banyak aktif di malam hari. Orang kadang menjulukinya kupu-kupu malam.

loading...