Survei membuktikan, sebagian besar kalangan profesional, manajer, eksekutif dan pengusaha menghabiskan pendapatan mereka untuk konsumsi. Kalau pola ini dibiarkan, mereka bakal miskin di hari tua. Bukan cuma tubuh yang perlu di-check up, kondisi keuangan kita pun sangat perlu. Siapa tahu, Anda termasuk satu di antara para pengidap penyakit finansial yang kronis. Ini bukan menakut-nakuti. Survei Citibank bekerja sama dengan AC Nielsen belum lama ini menemukan, sebagian besar kalangan professional, manager, executive & businessman (PMEB) yang bergaji Rp 17,9- 20,7 juta per bulan ternyata belum membuat perencanaan keuangan untuk masa pensiun kelak. Hanya 20% dari mereka yang telah melakukannya. Yang sekitar 80% justru berencana membeli mobil baru, merenovasi rumah atau kegiatan konsumtif lainnya.

Temuan survei di atas, meski cukup mengejutkan, sebetulnya hanya semacam penegasan atas salah satu fenomena yang kita saksikan sehari-hari. Mobil-mobil mewah kian hari kian memadati jalanan Jakarta. Pengendaranya, siapa lagi kalau bukan kelompok PMEB yang berpopulasi sekitar 500.000 orang ini. Tak mengherankan, Indonesia menempati peringkat pertama penjualan sedan BMW di Asia. Kelompok ini umumnya juga selalu merasa tidak puas atas rumah real estat yang telah mereka beli dengan susah-payah. Rumah yang dari kacamata umum sudah bagus dan sangat layak huni itu, mereka renovasi habis-habisan sesuai selera pribadi.

Kalau mengandalkan gaji semata-mata, sulit buat mereka menopang gaya hidup seperti itu. Artinya, tak mungkin mereka mengeluarkan duit sebanyak itu dalam bentuk cash. Lubang inilah yang dimanfaatkan bank-bank dan lembaga pembiayaan untuk menyerbu mereka lewat berbagai paket kredit konsumtif.

Mari kita buat hitung-hitungan kasar. Seorang eksekutif yang bergaji Rp 20 juta/bulan, misalnya, membeli mobil BMW seharga (yang termurah) Rp 400 juta. Uang mukanya, taruhlah 20% atau Rp 80 juta, sedangkan yang Rp 320 juta dicicil selama 5 tahun. Kalau bunga cicilan 15% per tahun, berarti sang eksekutif harus mencicil sekitar Rp 9 juta/bulan. Ini baru cicilan mobil. Kalau rumahnya pun nyicil (umumnya memang begitu), katakanlah Rp 3 juta/bulan, sisa pendapatan sang eksekutif tinggal Rp 8 juta. Bisa dibayangkan jika ia masih harus mencicil lagi untuk biaya renovasi rumah.

Tunggu dulu. Itu belum termasuk pengeluaran untuk segala macam barang branded yang menempel di tubuh mereka. Mulai dari celana, kemeja, jas, dasi, sepatu hingga parfum. Malu kan kalau eksekutif berpenampilan lusuh dan tidak wangi. Apalagi, kalau sang eksekutif tak tahan dengan godaan gaya hidup dugem, sehingga ia mesti rajin bertandang ke sejumlah kafe atau resto mahal -- maklumlah, namanya juga profesional atau eksekutif.
 
 
Gaya Hidup Kalangan PMEB Boros
 
Artinya, selama ini sesungguhnya banyak kalangan PMEB yang bergaya hidup boros dan mematok standar hidup terlalu tinggi, jauh di atas kemampuan finansialnya. Karena pendapatan mereka habis dikonsumsi setiap bulan, praktis tak tersisa lagi dana untuk investasi. Bahkan, mungkin perlu dipertanyakan pula, dari mana mereka menyiapkan dana untuk biaya pendidikan anak-anak, serta untuk masa pensiun kelak. Jika gaya hidup seperti ini dipertahankan terus, bukan mustahil kelak di hari tua mereka akan hidup sengsara dan merana (secara finansial, tentu saja).

Nah, kalau hasil financial checkup Anda ternyata seperti atau mendekati gambaran muram di atas, cepat-cepatlah rombak gaya dan standar hidup Anda. Memang, menjadi penyakit di mana-mana bahwa, tanpa terasa, setiap saat kita mendongkrak standar atau gaya hidup seiring dengan meningkatnya pendapatan. Namun, yang sulit dihindari, peningkatan standar atau gaya hidup tersebut biasanya lebih tinggi ketimbang penambahan pendapatan kita. Maka, berlangsunglah pola hidup yang selalu besar pasak daripada tiang.

#dari berbagai sumber
loading...