Bakteri adalah penyebab utama keracunan makanan. Keracunan makanan oleh bakteri terjadi karena bakteri dalam makanan tersebut mengeluarkan enterotoksin, atau racun, sebagai produk sampingan dari pertumbuhannya. Racun ini sering mengurangi kemampuan penyerapan makanan oleh usus dan menyebabkan sekresi air dan elektrolit yang mengarah ke dehidrasi. Tingkat keparahan gejala keracunan tergantung pada jenis bakteri, jumlah bakteri dan makanan yang dikonsumsi, dan kesehatan individu dan kepekaan terhadap toksin bakteri.

Berikut adalah 6 jenis bakteri penyebab utama keracunan oleh makanan:

1. Salmonella

Gejala keracunan dimulai sekitar 12 - 72 jam setelah makan makanan yang terkontaminasi oleh bakteri salmonella. Biasanya gejala keracunannya berupa demam, yang berlangsung sekitar dua sampai lima hari. Salmonella biasanya ditularkan melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh tinja manusia atau binatang. Kontaminasi ini sebagian besar terjadi disebabkan karena kebiasaan mencuci tangan yang buruk, terutama sebelum memegang makanan.

2. Escherichia coli (E. coli)

Gejala keracunan makanan dari E. coli dan turunannya muncul lebih lambat daripada keracunan yang disebabkan oleh bakteri lainnya. Satu sampai tiga hari setelah memakan makanan yang tercemar, korban mulai mengalami kram perut yang parah dan diare yang biasanya bercampur darah. Diare yang terjadi bahkan sebagian besar berupa darah, sehingga kondisi ini kadang-kadang disebut kolitis hemoragik. Diare berdarah berlangsung dari satu sampai delapan hari, dan kondisi biasanya sembuh dengan sendirinya. Gejala keracunan kadang disertai sedikit demam atau tidak sama sekali.

Makanan yang terkontaminasi E. coli biasanya ditemukan pada daging sapi mentah atau yang dimasakan kurang matang. Susu mentah juga dapat menjadi sumber keracunan makanan oleh E. coli.

3. Campylobacter jejuni

Infeksi yang disebabkan campylobacter jejuni sering disebabkan karena memakan daging ayam yang terkontaminasi, kontaminasi juga dapat bersumber dari air yang tidak bersih dan susu mentah. Gejala keracunan makanan, biasanya termasuk demam dan diare, mulai 2-5 hari setelah mengkonsumsi makanan atau air yang tercemar dengan C. jejuni. Diare mungkin berair dan mungkin juga mengandung darah. Gejala keracunan biasanya berakhir pada tujuh sampai 10 hari.

4. Staphylococcus aureus (Staph)

Staphylococcus aureus menyebar terutama dari pengolah makanan yang terinfeksi bakteri staph pada kulitnya. Selain itu, peralatan pengolah makanan juga dapat menjadi sumber kontaminasi. Hampir setiap jenis makanan dapat terkontaminasi bakteri ini, tapi terutama pada salad, produk susu, kue krim, dan makanan yang disimpan pada suhu kamar. Gejala keracunan makanan biasanya muncul dengan cepat, sekitar 2-8 jam setelah memakan makanan yang tercemar. Gejala seperti biasanya berlangsung hanya 3-6 jam dan jarang lebih dari dua hari. Kebanyakan kasus keracunan sifatnya ringan dan akan sembuh meski tanpa pengobatan.

5. Shigella

Gejala keracunan makanan oleh bakteri Shigella muncul sekitar 36-72 jam setelah memakan makanan yang tercemar. Gejala-gejala yang ditimbulkan shigella sedikit berbeda dari gejala yang ditimbulkan oleh bakteri lain. Selain gejala-gejala keracunan makanan yang umum, sekitar 40% anak yang keracunan berat menunjukkan gejala neurologis. Gejala ini termasuk kejang, kebingungan, sakit kepala, lesu, dan leher kaku. Keracunan ini biasanya berlangsung dalam dua sampai tiga hari.

6. Clostridium botulinum

Clostridium botulinum (umumnya dikenal sebagai botulisme) merupakan bakteri yang dapat membuat keracunan makanan yang mematikan. Sumber botulisme pada orang dewasa biasanya bersumber dari makanan kalengan atau awetan yang rusak. Gejala botulisme pada orang dewasa biasanya muncul sekitar 18 sampai 36 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi.

Tidak seperti penyakit bawaan makanan lainnya, tidak ada muntah dan diare yang berhubungan dengan botulisme. Awalnya, seseorang yang menderita botulisme merasakan lemah, pusing, dan gangguan penglihatan. Gejala berikutnya berupa kesulitan berbicara dan menelan. Racun dari Clostridium botulinum adalah racun neurotoksin yang menyerang sistem saraf, dan bisa menyebabkan kelumpuhan. Jika penyakit tidak segera diatasi, kelumpuhan ini akan berlanjut ke seluruh tubuh. Akhirnya, tanpa intervensi medis, otot-otot pernafasan akan menjadi lumpuh dan korban akan mati lemas.

Pada bayi yang mengidap botulisme, spora Clostridium botulinum tinggal dalam saluran usus bayi. Madu, terutama bila dikonsumsi oleh bayi yang berumur di bawah 12 bulan, dapat menjadi sumber dari spora. Gejala botulism pada bayi terjadi secara bertahap. Bayi awalnya memiliki konstipasi, diikuti dengan nafsu makan yang buruk, lesu, lemah, dan menangis. Akhirnya bayi kehilangan kemampuan untuk mengendalikan otot-otot kepalanya. Kelumpuhan kemudian bisa berkembang ke seluruh tubuh.

loading...