Sadar atau tidak sadar kita hidup dikelilingi bahan-bahan beracun, bahkan kita menggunakannya untuk keperluan sehari-hari. Makanan, berbagai peralatan rumah tangga dan lingkungan memiliki kandungan bahan beracun, barangkali hanya masalah dosislah yang membuatnya nampak aman.

Kandungan racun dalam sebuah produk dapat membahayakan tubuh dan biasanya menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Kata non racun pada sebuah produk hanya menunjukkan bahwa zat yang dikandungnya dapat menyebabkan sedikit atau tidak ada reaksi yang merugikan jika anda memakannya atau menggunakannya. Hal ini tidak menjamin bahwa produk tersebut bebas dari efek merugikan.

Dibalik manfaat utamanya, makanan, alat-alat rumah tangga dan lingkungan dapat menjadi sumber racun jika tidak hati-hati dalam menggunakannya. Bagaimanapun juga kita tidak dapat dipisahkan dari sumber-sumber yang berpotensi racun tersebut. Diperlukan kehati-hatian kita sebagai pengguna dan perlunya regulasi oleh pemerintah untuk meminimalkan resiko yang ditimbulkan oleh berbagai produk itu.

Gaya hidup beracun seringkali mengiringi kehidupan dengan jadwal yang sibuk dan stres tingkat tinggi. Kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji, merokok, pengguna narkoba, bekerja dengan lebih banyak duduk, konsumsi alkohol; kecanduan kopi, penggunaan produk rumah tangga yang mengandung bahan kimia beracun dan lingkungan yang tercemar, semua ini dapat membuat hidup anda menjadi sangat beracun.

Makanan

Sudah banyak kita mendengar berita keracunan makanan. Mengapa dalam makanan bisa terdapat racun? Makanan bisa beracun karena kandungan zat racun secara alami yang terdapat dalam bahan pangan itu sendiri atau merupakan kontamisasi zat racun pada proses pengolahan makanan itu.

Gejala umum yang dapat diketahui bila seseorang keracunan makanan adalah muntah-muntah, pusing, buang air besar disertai mencret dan bahkan sampai pingsan.

Dalam bahan makanan ada yang secara alami memang telah mengandung zat kimia beracun. Singkong, gadung, jengkol, dan berbagai jenis jamur merupakan bahan pangan populer yang dikenal mengandung zat beracun dan banyak mengakibatkan keracunan di masyarakat. Keracunan akibat racun dalam bahan pangan dapat dihindari dengan proses pengolahan yang tepat.

Yang kedua terjadi karena bahan pangan itu terkontaminasi zat beracun dari lingkungannya, seperti kontaminasi logam berat terutama pada produk hewani (ikan, susu, dan daging). Hewan yang memproduksi bahan makanan ini mengakumulasi logam berat pada tubuhnya selama hidup.

Ikan yang hidup di perairan yang tercemar, misalnya oleh air raksa, akan membuat ikan tersebut menjadi beracun pula. Sapi dan domba yang digembalakan di tempat sampah akan memakan segala yang ada di tempat itu, dan jika terdapat sampah yang beracun maka bahan beracun itupun akan terakumulasi pada ternak itu. Efek racun kronis biasanya akan timbul setelah waktu yang lama.

Kontaminasi pestisida dan herbisida dapat terjadi pada semua produk pangan hewani dan nabati, misalnya buah-buahan dan sayuran dari penyemprotan obat-obatan pemberantas hama.

Agar terhindar dari bahaya keracunan makanan, kita harus selalu waspada terhadap setiap makanan yang kita konsumsi. Proses pengolahan makanan, baik pengambilan atau pemanenan, penyimpanan sampai pemasakannya harus dilakukan secara benar dan teratur sesuai dengan syarat sanitasi dan kesehatan.

Selain itu, ada juga racun yang memang secara sadar kita konsumsi, yaitu rokok. Rokok merupakan sumber racun yang sangat kronis bagi kehidupan manusia. Berbagai dampak buruk merokok bagi kesehatan, perekonomian, dan pendidikan sudah tidak terbantahkan dan tidak perlu dibahas lagi. Sayang sekali sampai saat ini tidak ada upaya nyata dari pemerintah untuk mengurangi dampak buruk rokok ini.

Penggunaan obat-obatan yang melebihi dosis juga dapat bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan.

Peralatan rumah tangga

Berbagai alat rumah tangga, terutama yang produk pabrikan saat ini tanpa disadari banyak mengandung bahan kimia beracun. Pembersih kaca, penyegar ruangan, produk pembasmi serangga, oven microwave, berbagai alat masak, piring, dan gelas merupakan alat rumah tangga yang sudah tidak dapat dipisahkan dari rumah kita. Namun di balik manfaatnya, berbagai alat rumah tangga ini bisa menyimpan ancaman kesehatan.

Banyak di antaranya yang mengandung bahan kimia berbahaya pemicu kanker seperti formaldehida, nitrobenzena, metilen klorida, dan napthelene, serta racun reproduksi dan pengganggu hormon. Ada juga bahan yang menyebabkan kerusakan hati, ginjal dan otak, alergi dan asma.

AC dan lemari es juga mengandung bahan beracun atau menghasilkan limbah beracun yang dapat mempengaruhi lingkungan dan kesehatan kita.

Lingkungan

Lingkungan dapat menjadi sumber racun bagi kehidupan kita, apalagi kalau lingkunagn tersebut sudah tercemar, baik tanah, air maupun udaranya.

Beberapa zat yang diketahui memiliki efek beracun yang bisa menyebabkan kematian antara lain arsenik, sianida tetrodoksin dan racun botulisme. Zat racun tersebut bisa saja berada di lingkungan sekitar kita misalnya jika terjadi kebocoran pipa gas atau merupakan buangan limbah industri.

Arsenik dan sianida telah banyak terlibat dalam hal keracunan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Contoh orang yang keracunan zat ini akibat adanya kebocoran pipa gas sianida, adanya zat buang dari industri tertentu yang mengandung kedua zat ini atau secara sengaja diberikan sebagai racun.

Sianida terkadang masih suka digunakan di pertambangan untuk mengekstraksi emas dan perak. Hal ini yang masih menjadi kontroversi terhadap keselamatan pertambangan emas dan perak, karena kebocoran sianida bisa mempengaruhi kesehatan manusia dan makhluk hidup disekitarnya.

Sianida merupakan racun yang berpotensi mematikan, karena zat ini membuat tubuh tidak dapat menggunakan oksigen untuk mempertahankan tubuhnya. Zat ini bisa berbentuk gas seperti hidrogen sianida atau dalam bentuk kristal seperti potasium sianida atau sodium sianida.

Gas sianida dapat diserap melalui inhalasi (paru-paru), kulit atau ingesti (mulut menuju perut) dan didistribusikan ke seluruh tubuh. Jika zat ini masuk ke dalam tubuh bisa menghambat kerja enzim tertentu di dalam sel, mengganggu penggunaan oksigen oleh sel dan dapat menyebabkan kematian sel. Pada dosis tertentu, zat ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu 15 menit saja akibat kekurangan oksigen.

Merkuri banyak digunakan proses ekstraksi logam mulia dari bijihnya, dalam termometer ataupun sebagai bahan penambal gigi. Merkuri yang terlepas ke alam, misalnya di sungai tempat penambangan emas, sebagian akan terakumulasi pada ikan dan akhirnya ikan tersebut akan kita makan. Atau ketika termometer pecah, bisa saja uap dari merkuri itu terhirup oleh pernafasan kita.


Ubah gaya hidup

Menghindari racun sama sekali dari hidup kita saat ini merupakan hal yang mustahil. Merubah kebiasaan gaya hidup mungkin dapat mengurangi eksposur anda dari racun, misalnya dengan menghindari, menghilangkan dan mengganti banyak produk yang saat ini anda gunakan.

Saat ini sering terdengar istilah 'hijau', apakah itu untuk produk, perusahaan, gaya hidup dan lain-lain. Istilah 'hijau' ini dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang bebas dari penggunaan bahan kimia. Mudah-mudahan 'hijau' di sini berarti benar-benar bebas dari bahan kimia, bukan hanya sekedar menurunkan jumlahnya saja.

Untuk mengurangi akumulasi bahan beracun di lingkungan, pilih dan gunakan produk-produk yang ramah lingkungan, produk ini biasanya meminimalkan penggunaan bahan kimia. Tanda ramah lingkungan biasanya tertera di kemasan produk.

loading...