Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas di kolon atau usus besar yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah.

Adanya darah dan lekosit dalam tinja merupakan suatu  bukti bahwa kuman penyebab disentri tersebut menembus dinding kolon dan bersarang di bawahnya. ltulah sebabnya pada akhir-akhir ini nama diare invasif lebih disukai oleh para ahli.

Dulu, disentri dianggap hanya terdiri dari dua jenis yang didasarkan pada penyebabnya, yakni disentri basiler yang disebabkan oleh basil Shigella spp. dan disentri amuba yang disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica. Tapi sekarang telah diketahui banyak penyebab lain berupa mikroba, bakteri dan parasit, yakni: Shigella spp., Salmonella spp., Campylobacter spp., Vibrio  parahaemolyticus, Pleisomonas shigelloides, EIEC (Enteriinnasive E. coil), Aeromonus spp., Entamoeba histolytica atau Giardia lambha. Shigella spp. terdapat di mana-mana dan merupakan penyebab terbanyak disentri.

Berikut adalah empat macam kuman atau bakteri yang banyak menyebabkan disentri:

1. Shigella spp.

Shigelloides terdapat di mana-mana tapi yang terbanyak terdapat di negara dengan tingkat kesehatan perorangan yang sangat buruk. Manusia sendiri merupakan sumber penularan dan hospes alami dari penyakit ini, yang cara penularannya adalah secara orofaecal yaitu kuman masuk tubuh orang sehat lewat oral (mulut) dan keluar dari tubuh orang sakit lewat feses. Shigella spp merupakan penyebab terbanyak dari diare invasif (disentri) dibandingkan dengan penyebab lainnya.

Dikenal ada empat spesies dari Shigella berdasarkan reaksi biokimia dan serologi, yaitu: Sh. Jlexneri, Sh. boydii, Sh. dysentriae dan Sh. sonnei. Ketiga spesies pertama masih dibagi lagi dalam serotipe sedang Sh. sonnei dibagi menurut tipe colisin. Hingga sekarang sudah dikenal ada 8 scrotipe Sh. Jlexneri, 15 serotipe Sh. boydii, 10 serotipe Sh. dysentriae dan 15 tipe colisin Sh. sonnei.

2. Salmonella spp.

Beberapa spesies Salmonella yang bukan S. typhi, S. paratyphi A dan B dapat menyebabkan diare invasif. Seperti diketahui Salmonella merupakan penyakit zoonosis, hewan dan unggas merupakan reservoir penyakit ini, dan manusia tertular melalui makanan, daging, unggas dan telur.

Penyakit ini lebih sering terdapat di negara yang penduduknya pemakan daging. Maka dapat dimengerti bahwa Salmonellosis menjadi problem kesehatan yang lebih besar di negara yang telah maju dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang.

3. Campylobacter spp.

Pada akhir-akhir ini Campylobacter jejuni (dulu disebut "vibrio lainnya" (related vibrio) mulai muncul sebagai penyebab penting penyakit diare. Penyakit ini umumnya adalah zoonosis walaupun penularan dari orang melalui air yang terkontaminasi.

Infeksi Campylobacter terutama terdapat pada masa kanak-kanak dan, diare yang ditimbulkannya biasanya lebih dari 7 hari walaupun dengan gejala yang tidak terlalu berat.

Diperkirakan unggas merupakan reservoir yang paling potensial. Hal ini amat penting karena Indonesia penduduknya lebih senang makan daging unggas daripada daging sapi. Selain itu telur juga memegang peran penting dalam, penularan penyakit ini. Berbagai letusan penyakit ini di Inggris, Amerika Serikat dan Canada telah dihubungkan dengan susu yang tidak dipasteurisasi. Susu terkontaminasi melalui kontak langsung dengan tinja sapi. C. jejuni akan dapat bertahan selama 22 hari dalam susu yang disimpan pada 4°C tapi segera mati apabila dipasteurisasi.

4. EIEC (Entero Invasive Escherichia coli)

Sejak 1967, para peneliti di Jepang, Brazil dan negara-negara lain telah membuktikan bahwa serotipe tertentu dari Escherichia coli selain dari yang dinamakan EPEC (serotipe tertentu lainnya dari E. coli), telah berhasil diisolasi dari tinja penderita anak dan dewasa yang menderita diare invasif. Sekarang telah diketahui bahwa serotipe dari E. coli yang invasif ialah: 028ac, 029, 0112ac, 0124, 0136, 0143, 0144, 0152, 0164 dan 0167. Serotipe 0124 merupakan EIEC yang paling sering menimbulkan letusan epidemi, seperti yang terjadi di Hongaria dan USA.

EIEC sangat menyerupai Shigella karena sifat biokimia yang sering sama yaitu laktosa negatif, tidak bergerak, dekarboksilase lysin juga negatif, selain itu mempunyai antigen somatik 0 yang bersamaan.

Pentingnya Pola Hidup Sehat dan Bersih

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit disentri yaitu dengan memperhatikan pola hidup sehat dan bersih, seperti selalu menjaga kebersihan makanan dan minuman dari kontaminasi kotoran dan serangga pembawa kuman, menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan tangan secara baik sesudah buang air besar atau menjelang makan atau ketika memegang makanan yang akan dimakan.

loading...