Healthy Articles

Potensi Bahaya pada Perajin Meubel Kayu

Perajin meubel kayu adalah pekerja sektor informal yang menggunakan berbagai jenis kayu sebagai bahan baku/utama dalam proses produksinya serta menerapkan cara kerja yang bersifat tradisional.

Pada dasarnya, pembuatan meubel dari kayu melalui lima proses utama, yaitu proses penggergajian kayu, penyiapan bahan baku, proses penyiapan komponen, proses perakitan dan pembentukkan (bending) serta proses akhir (finishing).

Bahaya potensial dan akibatnya

a. Penggergajian

1. Debu kayu
Debu kayu yang terjadi akibat proses penggergajian dapat masuk kedalam tubuh melalui saluran pernafasan dan dapat pula menyebabkan allergi terhadap kulit. Dampak  negatif dari debu terhadap kesehatan dapat berupa :

  • Iritasi dan allergi terhadap saluran pernafasan,
  • Allergi terhadap kulit.

2. Bising
Kegiatan penggergajian, pemotongan, pelubangan, dan penyambungan umumnya akan menimbulkan kebisingan yang dapat menyebabkan gangguan aktivitas, konsentrasi dan pendengaran, gangguan pendengaran yang timbul pada awalnya masih bersifat sementara, tetapi pada pemajanan tingkat kebisingan tertentu, misalnya lebih dari 85 dB (A) dan dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan pendengaran yang menetap sehingga menyebabkan tuli yang tidak diobati dari pekerja yang bersangkutan.

3. Posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis (seperti jongkok, membungkuk akan menimbulkan nyeri otot dan punggung).

b. Penyiapan bahan baku / penyiapan komponen

  • Debu dan partikel kecil kayu banyak terjadi pada kegiatan ini yaitu pada proses pemotongan kayu sebagai persiapan komponen meubel, juga pada proses pembentukkan kayu. Debu kayu ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan, serta dapat pula menyebabkan iritasi dan allergi terhadap saluran pernafasan dan kulit.
  • Kebisingan yang ditimbulkan pada proses ini dapat menyebabkan gangguan aktivitas, konsentrasi dan pendengaran, baik sementara maupun tetap. Akibat cara kerja yang kurang konsentrasi dapat menimbulkan kecelakaan / bahaya seperti tertusuk paku, sekrup dan lain-lainnya.
  • Sikap dan posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis (seperti jongkok, membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung serta gangguan fungsi dan bentuk otot
  • Cara kerja kurang hati-hati dapat menimbulkan luka terpukul, tersayat atau tertusuk.


c. Penyerutan dan Pengamplasan

  • Debu yang terjadi akibat proses penyerutan dan pengamplasan dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan serta dapat menyebabkan allergi pada kulit. Dampak negatif terhadap kesehatan dapat berupa :
    • Iritasi dan allergi saluran pernafasan,
    • Allergi terhadap kulit.
  • Cara kerja yang kurang hati-hati akan menimbulkan luka tersayat , tertusuk , dan terpukul.


d. Perakitan

  • Suara bising berupa ketukan dan suara nyaring lainnya dapat mengganggu konsentrasi, aktivitas dan gangguan pendengaran. Akibat cara kerja yang kurang konsentrasi dapat menimbulkan kecelakaan / bahaya seperti tertusuk paku, sekrup dan lain-lainnya.
  • Posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis (seperti jongkok, membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung.


e. Pemutihan / Pengecatan

  • Uap cat / zat kimia seperti H2O2, thinner, sanding sealer, melamic clear, wood stain serta jenis cat lainnya dapat mengakibatkan:
    • Peradangan pada saluran pernafasan, dengan gejala batuk, pilek, sesak nafas, demam.
    • Iritasi pada mata dengan gejala mata pedih, kemerahan, berair.
  • Posisi kerja yang tidak benar/tidak ergonomis (seperti jongkok, membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung.


Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan resiko gangguan kesehatan pekerja meubel antara lain :

Kebisingan

a. Mengurangi kebisingan pada sumbernya dengan cara :

  • Memberi sekat (dari bahan kain, gabus atau karet pada landasan mesin, penempaan atau lainnya).
  • Penanaman pohon di sekitar tempat kerja.
  • Penempaan dilakukan pada ruangan tersendiri atau ruang kedap suara.

b. Mengatur lama waktu kerja agar tidak melebihi dari ambang batas kebisingan yang diperkenankan, misalnya:

  • 85 db ( A) untuk 8 Jam pemajanan.
  • 90 db ( A) untuk 4 jam pemajanan.
  • 95 db ( A ) untuk 2 Jam pemajanan, dan seterusnya.

c. Menggunakan sumbat telinga (ear plugs) atau tutup telinga (ear muffs) pada waktu bekerja di tempat bising, karena alat tersebut mampu mengurangi intensitas bising sampai sekitar 25 – 40 db (A).

Uap Logam / Zat-zat kimia

  • Posisi kerja menghadap searah dengan arah angin.
  • Menggunakan masker penutup mulut dan hidung.
  • Tidak merokok sewaktu kerja.
  • Tata udara yang baik di tempat kerja dan menggunakan cerobong asap di atas tungku.
  • Pengaturan waktu kerja agar pekerja tidak terlalu terpapar oleh uap logam atau zat-zat kimia.
  • Bila timbul gejala gangguan saluran pernafasan segera periksakan ke sarana kesehatan.


Sikap kerja yang tidak benar (tidak ergonomis)

  • Menyesuaikan alat kerja dengan postur tubuh pekerja sesuai dengan jenis dan sifat pekerjaan masing-masing, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan posisi duduk atau berdiri, misalnya :
    • Duduk dikursi dan menggunakan meja yang sesuai : tingginya untuk tempat peralatan kerja.
    • Berdiri tegak, dengan peralatan kerja diatas meja yang sesuai fungsinya.
    • Pekerja tidak membungkuk , jongkok atau duduk dilantai dan memaksakan posisi tubuh pada keadaan alami.
    • Usahakan istirahat atau mengganti posisi kerja secara berkala.
  • Melakukan latihan pada otot yang mengalami gangguan.
  • Rujuk ke Puskesmas atau sarana kesehatan terdekat.

 

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates