Healthy Articles

Berbagai Khasiat Bawang Kucai

Nama botani: Allium schoenoprasum
Famili: Alliaceae
Nama asing: chive, garlic chives, Chinese chives, jiu tsai, gau tsoi (Cina); nira (Jepang); kutsay, amput, imayyaw (Filipina); kui chaai, hom paen (Thailand); bong he (Vietnam); buchu (Korea).

Kucai merupakan spesies bawang-bawangan terkecil dari famili Alliaceae, tumbuhan asli di Eropa, Asia dan Amerika Utara.

Kucai adalah tanaman umbi-umbian, tinggi 30 sampai 50 cm. Umbi ramping berbentuk kerucut dengan panjang 2-3 cm dan lebar 1 cm, dan tumbuh dalam rumpun yang padat. Daun berbentuk tabung hampa, panjang hingga 50 cm, dan berdiameter 2-3 mm, dengan tekstur yang lembut, meskipun sebelum munculnya bunga dari daun, akan terlihat lebih keras dari biasanya. Bunga-bunga berwarna pucat ungu, berbentuk bintang dengan enam kelopak bunga, lebar 1-2 cm, dan diproduksi dalam bunga yang banyak, sekitar 10-30 bunga; sebelum membuka, bunga dikelilingi oleh daun pelindung tipis. Benih-benih  diproduksi di sebuah kapsul pada tiga tangkai kecil, biasanya benih matang di musim panas.

Aroma kucai lebih dekat ke bawang putih daripada daun bawang, sehingga dalam bahasa Inggris disebut garlic chives. Karena kucai banyak digunakan pada makanan yang terpengaruh budaya Cina, kucai juga dikenal dengan nama Chinese chives.

Kucai mengandung zat-zat gizi yang mampu mencegah penyakit kanker dan hipertensi, serta bisa menurunkan kadar kolesterol darah. Tumbuhan ini mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan, antibiotik, antikanker, dan antibakteri.

Kaya Serat, Vitamin, dan Mineral

Dilihat dari komposisi zat gizinya, kucai memiliki nilai gizi cukup baik. Dalam 100 gram kucai terkandung energi lebih dari 40 kkal. Selain itu, sebagai sayuran kucai juga sangat kaya akan serat pangan (dietary fiber), vitamin, dan mineral. Kandungan zat gizi kucai per 100 gram dapat dilihat di bawah.

Kandungan zat gizi per 100 gram kucai

Zat gizi         Kucai     Kucai muda

  • Energi (kkal) :     45        42
  • Protein (g) :     2,2     3,8
  • Lemak (g) :         0,3     0,6
  • Kalsium (mg) :    52         76
  • Fosfor (mg) :    50         91
  • Besi (mg)  :       1,1     2,5
  • Vitamin A (IU) :    40         500
  • Vitamin B1 (mg) : 0,11     0,11
  • Vitamin C (mg)  :   17         59

Sumber: Gayo (1994)

Di daerah Sumatera, dikenal kucai muda yang disebut lokio. Kucai muda ini sebenarnya bukan kucai yang masih muda, tapi sudah berbeda varietas dengan kucai. Bentuknya yang menyerupai kucai menyebabkan orang menyebutnya kucai muda.

Lokio memiliki nama Latin Allium chinense, sedangkan kucai sebenarnya memiliki nama Latin Allium tuberosum. Beberapa orang menyebutnya kucai batang atau bawang batak.

Dilihat kandungan gizinya, akan lebih baik bila kucai dikonsumsi dalam jumlah banyak. Bila kita mengonsumsi minimal 500 g kucai, kita telah memenuhi asupan 141 persen kebutuhan tubuh akan vitamin C setiap hari.

Vitamin C sangat diperlukan untuk memperkuat imunitas tubuh terhadap serangan penyakit. Vitamin C juga merupakan antioksidan yang sangat kuat, sehingga sangat baik untuk oksidasi radikal bebas.

Konsumsi 500 gram kucai juga membantu memenuhi 41 persen kebutuhan tubuh akan vitamin B1 setiap harinya. Vitamin B1 sangat diperlukan tubuh untuk membantu metabolisme karbohidrat, sehingga mudah diserap ke dalam tubuh.

Khasiat Kucai sebagai Antihipertensi

Ada pilihan tanaman obat agar penderita hipertensi tidak tergantung pada obat farmakologis. Sudah banyak obat tradisional yang mengandung fitofarmaka untuk mengobati hipertensi yang telah dikonsumsi oleh masyarakat saat ini diantaranya seledri dan kumis kucing sudah terbukti dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Ada satu lagi jenis bahan alami yang sudah dikenal sebagai sayuran yaitu kucai yang memiliki kasiat antihipertensi.

Khasiat antihipertensi itu dikarenakan kucai mengandung senyawa tetrametiloksamida dan ester 17-etadekadesenil. Efek antihipertensi ekstrak kucai sebanding dengan Atenolol dosis 25 mg. Atenolol adalah zat penurun hipertensi yang kerap diresepkan dokter yang tergolong suatu Beta bloker. Soal toksisitas, dari uji klinis tersebut terungkap, mengonsumsi kucai dalam dosis tinggi sekalipun tetaplah aman.

Telah teruji secara klinis bahwa ekstrak kucai terbukti menurunkan tekanan darah sistolik (angka fase darah sedang dipompa jantung) dan diastolik (angka saat fase darah kembali ke jantung/berileksasi).

Periset di Sekolah Tinggi Farmasi Institut Teknologi Bandung mengekstrak 240 mg kucai yang berumur dua bulan, ternyata kucai dapat menurunkan tekanan darah sistolik hingga 28,67 mmHg dan tekanan darah diastolik hingga 4,64 mmHg. Khasiat antihipertensi itu dikarenakan kucai mengandung senyawa tetrametiloksamida dan ester 17-etadekadesenil. Efek antihipertensi ektrak kucai sebanding dengan atenolol dosis 25 mg. Atenolol adalah zat penurun hipertensi yang kerap menjadi resep dokter.

Bagaimana membuat Ramuan Kucai

Ada beberapa pilihan untuk mengolah kucai dengan resep berikut:

  • 200 gram kucai yang masih segar, cuci bersih lalu rebus dalam 3 gelas air hingga mendidih dan sisakan hingga 1 gelas. Minum ramuan 3 kali sehari, seusai makan.
  • Jus daun kucai dengan air secukupnya lalu diminum. Dapat juga dipadukan dengan buah yang memiliki kadar air banyak seperti belimbing atau melon. Agar lebih bermanfaat sebaiknya diminum tanpa gula.
  • Irisan daun kucai dapat digunakan sebagai campuran masakan kegemaran anda.


Sayur kucai ternyata potensial untuk dikembangkan sebagai herba peredam gangguan tekanan darah tinggi. Beragam uji klinis telah dilakukan untuk membuktikan khasiatnya.

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner (PJK) di Indonesia. PJK masih tercatat sebagai penyebab kematian terbanyak di Indonesia.

Hasil penelitian mengungkapkan, prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 20-25 persen. Upaya nyata untuk mengobati penyakit hipertensi tentu akan memberikan dorongan positif dalam menurunkan angka kematian akibat PJK.

Mencegah Penyakit Jantung Koroner

Tujuan pengobatan hipertensi saat ini selain untuk mengendalikan tekanan darah, juga menurunkan komplikasi kardiovaskular. Menurut konsensus, pengobatan nonfarmakologi harus lebih dulu dilakukan. Jika tidak berhasil menurunkan tekanan darah, baru diberikan pengobatan farmakologis (medis). Biasanya penderita hipertensi harus mengonsumsi obat farmakologis seumur hidupnya.

Untungnya Indonesia kaya akan tanaman obat, sehingga ada harapan baru bagi penderita hipertensi untuk tidak tergantung pada obat-obatan farmakologis. Kenyataan ini bisa dilihat dari banyaknya obat tradisional (fitofarmaka) untuk mengobati hipertensi yang beredar dan dikonsumsi masyarakat.

Beberapa jenis fitofarmaka untuk antihipertensi formulasinya mengandung seledri (Apium graviolens) dan kumis kucing (Orthosiphon stamineus Bent). Seledri diketahui mengandung senyawa aktif yang dapat menurunkan tekanan darah, yaitu apigenin (sebagai antagonis kalsium) dan manitol, yang berfungsi diuretik.

Kumis kucing, efek diuretiknya yang dominan sangat dibutuhkan untuk menurunkan tekanan darah tinggi.

Khasiat air rebusan kucai

Satu lagi jenis bahan alami yang lebih dikenal sebagai sayuran, yakni kucai, juga diyakini menyimpan khasiat antihipertensi. Kucai adalah sayuran anggota famili Alliaceae.

Widyanto, yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga pengawas jasa properti, mengaku pernah merasakan manfaat langsung kucai. Ketika tensi darahnya naik hingga 140 mmHg (normal di bawah 120 mmHg), ia tidak merasa khawatir.

Dengan tenang ia pergi ke dapur, mengambil kucai yang disimpan dalam lembari es. Ia lalu merebus 200 gram kucai dalam 3 gelas air hingga mendidih dan airnya tersisa segelas. Ramuan itu ia minum 3 kali sehari usai makan. Ia merasa tensinya stabil setelah 2,5 bulan.

Cerita kesembuhan bapak dua anak ini tak mau ia simpan sendiri. Fakta ini ia sampaikan kepada orang terdekat dan rekan-rekan kerjanya. Pengalaman Widyanto itu mungkin satu dari sekian banyak orang yang secara empiris sudah merasakan khasiat kucai.

Dosis tinggi pun aman

Lia Amalia, periset di Sekolah Tinggi Farmasi Institut Teknologi Bandung, tertarik meneliti efektivitas kucai sebagai antihipertensi. Lia mengekstrak 250 mg kucai yang berumur dua bulan.

Lia menguji klinis ekstrak itu dengan melibatkan 47 pasien hipertensi. Rata-rata tekanan darah mereka di atas 140 mmHg. Selama delapan pekan, Lia memberikan 250 mg ekstrak kepada mereka.

Hasilnya menggembirakan. Ekstrak kucai terbukti menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Yang disebut pertama adalah angka saat fase darah sedang dipompa jantung atau berkontraksi. Sementara diastolik adalah angka saat fase darah kembali ke jantung alias berileksasi.

Kucai menurunkan hingga 28,67 mmHg tekanan darah sistolik, dan 4,64 mmHg tekanan darah diastolik. Jika dosis diperbesar menjadi 500 mg, kucai menurunkan tekanan sistolik 13,31 mmHg dan diastolik 4,64 mmHg.

Khasiat antihipertensi itu dikarenakan kucai mengandung senyawa tetrametiloksamida dan ester 17-etadekadesenil. Efek antihipertensi ekstrak kucai sebanding dengan atenolol dosis 25 mg. Atenolol adalah zat penurun hipertensi yang kerap diresepkan dokter. Soal toksisitas, dari uji klinis tersebut terungkap, mengonsumsi kucai dalam dosis tinggi sekalipun tetaplah aman.

Selama ini orang mengenal kucai atau Allium schoenoprasum sebagai penyedap masakan. Ahli kuliner mencacah sayuran itu sebagai campuran telur dadar, tahu, bakwan udang, atau martabak. Aromanya sedap, membuat kucai jadi salah satu bumbu masakan favorit. Sayuran itu digunakan untuk menambah rasa pedas dan menyeimbangkan rasa asam cuka pada asinan.

Jika Anda termasuk penggemar kucai, bersyukurlah karena dapat sekaligus memetik manfaat kucai sebagai herba antihipertensi. Selain murah, kucai mudah didapatkan kapan saja dan di mana saja, termasuk di tukang sayur langganan Anda.

Minuman menyehatkan

Kucai diketahui mempunyai banyak sekali khasiat. Masyarakat Cina tradisional mempercayai rebusan daun kucai merupakan minuman herbal yang sangat menyehatkan.

Penelitian Dr. Irda Fidrianny, MSi, dari Departemen Farmasi Institut Teknologi Bandung menyebutkan ekstrak daun kucai memiliki efek antihipertensi yang cukup nyata. Kucai juga dipercaya mempunyai efek untuk membantu mengurangi kadar kolesterol darah. Hal tersebut disebabkan pada kucai terdapat berbagai komponen sulfur, seperti diallyl tetrasulphide, diallyl tsulphide, diallyl disulphide, diallyl monosulphide, dan dipropyl disulfide.

Komponen-komponen tersebut juga banyak terdapat pada bawang putih dan daun bawang, namun dalam jumlah yang lebih rendah. Itulah sebabnya kucai memiliki aroma seperti bawang putih dan daun bawang, hanya saja lebih terasa ringan dan lembut.

Penelitian Yeh Yu Yan dan Lijuan Liu dari Department of Nutrition The Pennsylvania State University menunjukkan bahwa komponen sulfur yang banyak terdapat pada kucai seperti diallyl sulfide, pada kosentrasi yang rendah dapat menurunkan kolesterol darah hingga 10-15 persen.

Antibiotik Hingga Antikanker

Hasil penelitian Chan Kung Chi dari Providence University Taiwan, serta Hsu Cheng Chin dan Yin Mei Chin dari Chungshan Medical University Taiwan, menunjukkan bahwa kucai berfungsi sebagai antioksidan. Banyaknya komponen diallyl sulphides dalam kucai mampu mencegah oksidasi platelet di dalam darah, sehingga berfungsi antioksidan.

Penelitian Sujatha G. Sundaram dan John A. Milner dari The Pennsylavania State University Amerika Serikat, juga menunjukkan kemampuan diallyl disulfides untuk menghambat pertumbuhan sel tumor pada usus manusia. Menurut Tomofumi Manabe dkk dari Chiba University Jepang, kucai mengandung aliin yang dapat digunakan sebagai antibiotik alami.

Komponen ini merupakan padatan yang tidak berwarna dan tidak berbau. Salah satu peran terpenting aliin adalah sebagai prekursor alisin, yang terbentuk dari hidrolisasi dengan bantuan enzim aliinase.

Alisin merupakan senyawa penting pada keluarga allium. Senyawa inilah yang menimbulkan bau khas menyengat pada bawang-bawangan karena mengandung sulfur dengan struktur tidak jenuh dan dalam beberapa detik saja sudah terurai menjadi dialil-disulfida.

Alisin dapat meningkatkan produksi antioksidan, yaitu peroksidase glutation dan katalase. Dua jenis antioksidan ini terbukti mampu memperpanjang umur pada hewan percobaan.

Senyawa ini juga berdaya antibiotika ampuh. Banyak penelitian yang membandingkan zat ini dengan penisilin dan beberapa hipotesis menunjukkan kemampuan alisin 15 kali lebih kuat daripada penisilin (Syamsiah, 2005). Selain itu, alisin juga berfungsi sebagai antibakteri dan antiradang.

Alisin memiliki mekanisme molekuler untuk memblokade aktivitas enzim penyebab infeksi dan gangguan metabolisme, yakni enzim cysteine proteinase dan alkohol dehidrogenase. Enzim cysteinase proteinase. Ini membantu mikroba merusak dan menembus lapisan sel.

Sementara itu, enzim alkohol dehidrogenase membantu mikroba tetap hidup dan berkembang biak di dalam sel. Kedua enzim ini ditemukan hampir pada semua bakteri, jamur, dan virus.

Pada kucai juga terdapat komponen thiosulfinates. Penelitian yang dilakukan Kim SY dkk dari Department of Food and Nutrition, Sunchon National University, Korea Selatan, menunjukkan kemampuan thiosulfinates untuk melawan sel kanker prostat secara nyata.

Sebuah penelitian yang dilaporkan Jun Shao dkk dalam The Journal of Alternative and Complementary Medicine (2001) menunjukkan konsumsi 2,5 hingga 12,5 mg kucai per hari dapat mengurangi risiko kanker paru-paru hingga 40 persen.

Kucai juga mengandung fibrin yang berperan penting untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan, mencegah sembelit, dan membantu mengurangi risiko kanker. Minyak kucai bersifat antimikroba dan antiseptik karena mampu menghambat bakteri patogen (penyebab penyakit) seperti Staphylococcus aureus, Candida spp, dan Aspergillus spp.

Menurut Mi Jeong Kim dkk dari Korea University, kucai mengandung ferulic acid, yaitu komponen antioksidan yang dapat menetralkan radikal bebas penyebab kerusakan sel. Sebuah studi pada hewan menunjukkan ferulic acid efektif sebagai antitumor dan mencegah kanker payudara dan kanker hati.

Ferulic acid juga baik bagi pengidap diabetes. Penelitian Annamalai University di India menunjukkan ferulic acid dapat mengurangi kadar gula dan lemak darah. Percobaan pada tikus menunjukkan ferulic acid dapat menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).

Efek Samping: Timbulkan Bau Badan dan Mulut

Kucai dengan khasiatnya yang luar biasa ternyata juga mempunyai kelemahan, yaitu dapat menimbulkan bau badan dan bau mulut yang menyengat. Bau badan disebabkan kandungan sulfur dalam kucai yang terserap lewat aliran darah, yang kemudian dikeluarkan sebagai keringat melalui kulit tubuh.

Sebaliknya, bau mulut disebabkan oleh sisa kucai di sela-sela gigi yang tertinggal. Sisa kucai itulah yang menimbulkan bau yang sangat menyengat.

Meski demikian, karena kandungan sulfur pada kucai tidak setinggi bawang putih, bau yang ditimbulkan akibat mengonsumsi kucai tentu tidak sehebat yang dihasilkan bawang putih. Namun, hal tersebut tentu menganggu bila kucai dikonsumsi dalam jumlah banyak dan dalam keadaan segar.

Kucai yang digoreng memiliki efek bau lebih sedikit. Sebab, pada umumnya komponen sulfur tidak tahan terhadap perlakuan pemanasan.

Kucai memiliki umur simpan yang pendek. Akan lebih baik bila kucai dikonsumsi dalam keadaan segar. Hal tersebut dapat dilihat dari warna sayuran yang hijau kemudaan dan belum ada yang membusuk. Kucai dapat dimakan mentah atau dimasak terlebih dahulu.

Karena mudah sekali layu, untuk mendapatkan hasil terbaik ketika dimasak, kucai sebaiknya dimasukkan paling akhir. Jangan dimasak terlalu lama agar tidak menghilangkan aroma wanginya.

suaramedia.com, dll.

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates