Pengobatan dengan herbal merupakan cara pengobatan yang sudah berumur sangat lama, seumur dengan sejarah kehidupan manusia. Di banyak bagian dunia, mengobati penyakit dengan tanaman berkhasiat ini merupakan pengobatan yang umum dijumpai. Meskipun hanya sebagian kecil dari tanaman yang telah diteliti manfaat obatnya, pengobatan modern juga secara teratur menggunakan produk-produk yang berasal dari tanaman atau turunannya.

Selain menggunakan secara langsung bagian-bagian tanaman herbal untuk pengobatan luar (dioles, dikompres, dll) ataupun pengobatan dalam (dimakan, diminum) dalam menyembuhkan suatu penyakit, obat herbal juga tersedia dalam bentuk racikan atau ramuan siap pakai, misalnya jamu dan obat kemasan lainnya. Bahkan sekarang sudah banyak diproduksi obat herbal skala industri, misalnya kita kenal PT. Sidomuncul, Nyonya Meneer, dan lain-lain.

Peningkatan penggunaan obat dari tanaman berkhasiat akhir-akhir ini menunjukan bahwa pengobatan ini semakin dipercaya akan manfaatnya, selain tu adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia.

Phytonutrient

Bagaimana tanaman bisa memberikan efek penyembuhan atau perbaikan bagi kesehatan manusia? Di dalam tanaman terkandung banyak zat kimia, diantaranya ada yang disebut phytonutrient (fitonutrisi) atau phytochemical (fitokimia). Phytonutrient adalah zat kimia aktif pada tanaman yang berperan dalam memberikan warna, rasa, pertahanan alami terhadap penyakit. Phytonutrient dapat berupa hasil dari proses fotosintesis atau merupakan zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap serangan oleh serangga dan pemangsa lainnya. Komponen aktif ini biasanya merupakan kelompok-kelompok yang saling melindungi dan memiliki efek penyembuhan satu sama lainnya.

Tidak seperti zat nutrisi tradisional (protein, lemak, vitamin, mineral), phytonutrient digolongkan sebagai zat tidak "penting" atau tidak essensial bagi kehidupan tanaman, sehingga disebut juga dengan istilah fitokimia (phytochemical). Phyto dalam bahasa Yunani artinya tanaman.

Setiap tanaman memiliki kandungan fitonutrisi yang berbeda, sehingga efek penyembuhannya yang dimilikinya pun berbeda-beda.

Berikut adalah beberapa zat phytonutrient yang terdapat dalam tanaman:

Karbohidrat
Sumber energi utama dan penopang struktur tanaman.
Pada beberapa tumbuhan, seperti coltsfood dan marshmallow, selulosa berkombinasi dengan bahan kimia lainnya untuk membentuk getah, sebuah zat bergetah, yang jika tertelan oleh manusia, memiliki efek menenangkan dan melindungi jaringan internal yang mengalami iritasi atau peradangan.

Minyak lemak
Campuran trigliserida, gliserol, dan asam lemak.
Efek katarsis minyak jarak, berguna untuk mengatasi sembelit dan kejang pada anak.

Essential oils
Menguap ketika dipanaskan; dalam kombinasi tertentu akan membuat tanaman memiliki bau tertentu.
Bawang putih adalah antiseptik, thyme adalah ekspektoran, chamomile dapat mengurangi distensi gas dan nyeri akibat kejang usus.

Tannin
Bersifat antiseptik.
Membentuk lapisan pelindung pada kulit dan selaput lendir. Berguna dalam perawatan luka bakar dan peradangan lokal, digunakan untuk infeksi mata dan mulut.

Bitter principles
Kelompok bahan kimia yang memiliki rasa yang sangat pahit.
Dapat digunakan untuk merangsang nafsu makan dan aliran cairan pencernaan, merangsang aktivitas hati dan aliran empedu, beberapa bertindak sebagai diuretik. Dikenal sebagai tonik.

Alkaloid
Kelompok senyawa yang mengandung nitrogen, bersifat terapeutik: analgesik, anestetik lokal, menenangkan, antispasmodic, jantung konstriksi, dan / atau halusinasi; bersifat racun dalam kadar tertentu.
Mempengaruhi baik saraf dan sistem sirkulasi. Yang dikenal antara lain atropin, kafein, kokain, morfin, nikotin, dan kina.

Isoflavon
Senyawa mirip dengan estrogen pada manusia dan terutama ditemukan dalam produk kedelai.
Dapat mencegah kanker prostat, kanker payudara, dan kanker lain yang berhubungan dengan hormon, menurunkan kolesterol, mengurangi gejala menopause, mencegah osteoporosis dengan meningkatkan kepadatan tulang.

Karotenoid

  • Berwarna kuning, oranye, atau merah pada sayuran atau buah, dikonversi menjadi vitamin A di dalam hati. Misal: wortel.
  • Beta-karoten dapat membantu dalam pencegahan kanker dengan menetralisir radikal bebas. Digunakan bersama dengan "tabir surya", memberikan pencegahan yang lebih baik dari sengatan matahari dan kerusakan kulit. Misalnya: sayuran berdaun hijau atau kuning, brokoli, labu besar.
  • Lycopene dapat mencegah kanker prostat dan mengurangi risiko serangan jantung. Misalnya: tomat, angggur merah, semangka.
  • Lutein berguna dalam pencegahan degenerasi macular, penyebab utama kebutaan pada orang tua. Misalnya: bayam.


Glikosida

  • Zat organik kompleks; beberapa merupakan herbal yang sangat potensial dan beberapa lagi dikenal sangat beracun.
  • Glikosida jantung termasuk foxglove dan lily of the valley, yang mempengaruhi kontraksi jantung dan digunakan untuk memperbaiki aritmia.
  • Mustar glikosida digunakan secara eksternal dan memiliki efek antiseptik dan analgesik.
  • Cyanogenic glycosides melepaskan hidrogen sianida ketika dikunyah atau dicerna mengakibatkan antispasmodic, pencahar, dan efek obat penenang. Ditemukan pada beberapa kacang-kacangan, sayuran, dan benih dari beberapa buah-buahan. Hidrogen sianida, kadang-kadang disebut prussic asam, sangat beracun.
  • Phenolic glikosida, termasuk turunan salisilat, yang terdapat di tanaman willow dan tanaman lainnya merupakan bahan utama dalam aspirin-antiseptik, analgesik, dan memiliki efek anti inflammatory.
  • Glikosida Coumarine memperkuat dinding kapiler dan bertindak sebagai antikoagulan.
  • Anthraquinones glikosida digunakan sebagai pencahar.


Zat-zat phytonutrients yang lain misalnya: Inositol Phosphates (Phytates), Lignans (Phytoestrogens), Isothiocyanates dan Indoles, Phenols dan Cyclic Compounds, Saponins Sulfides dan Thiols, Terpenes dan lain-lain.

Phytonutrients ini mampu memberikan efek perlindungan atau perbaikan kesehatan bagi tubuh manusia melalui cara, antara lain:

  • Berperan sebagai anti oksidan,
  • Memperbaiki respon sistem immune tubuh,
  • Memperbaiki komunikasi antar sel tubuh,
  • Mengubah metabolisme estrogen,
  • Merubah ke vitamin A (beta-carotene dimetabolisme ke vitamin A),
  • Dapat membunuh sel kanker (apoptosis),
  • Memperbaikin DNA yang rusak akibat asap rokok atau terpapar racun lainnya,
  • Menetralisir racun melalui pengaktifan cytocrome P450 dan sistem enzim fase II.


Antioksidan

Antioksidan adalah kelompok vitamin, mineral, enzim, dan rempah-rempah yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Ketika di dalam tubuh terjadi proses normal, di mana oksigen digunakan untuk menyediakan bahan bakar sel, beberapa dari molekul oksigen kehilangan salah satu elektron. Ketika hal itu terjadi, molekul oksigen yang sebelumnya bersifat stabil itu berubah menjadi radikal bebas yang berbahaya. Molekul ini kemudian mencoba untuk menstabilkan diri mereka sendiri dengan mencuri elektron dari molekul lain yang stabil, sehingga hal ini bisa merusak mereka dan menciptakan lebih banyak lagi radikal bebas.

Karena radikal bebas mudah bereaksi dengan senyawa lain, mereka memiliki efek yang bisa menimbulkan gangguan dalam tubuh secara signifikan (merubah proses normal dari, misalnya: metabolisme, respirasi, reproduksi, dll). Banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi radikal bebas, internal maupun eksternal. Sumber-sumber radikal bebas dari dalam tubuh, selain proses konsumsi oksigen, termasuk juga stres secara emosional dan latihan berat. Sumber eksternal antara lain polusi udara, asap rokok, polusi pabrik dan knalpot mobil, asap, pestisida, herbisida, kontaminasi makanan, kemoterapi, dan radiasi. Semua faktor itu bisa menyebabkan overproduksi radikal bebas.

Karena radikal bebas mudah bereaksi dengan senyawa lain, mereka memiliki efek yang bisa menimbulkan gangguan dalam tubuh secara signifikan (merubah proses normal dari, misalnya: metabolisme, respirasi, reproduksi, dll). Banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi radikal bebas, internal maupun eksternal. Sumber-sumber radikal bebas dari dalam tubuh, selain proses konsumsi oksigen, termasuk juga stres secara emosional dan latihan berat. Sumber eksternal antara lain polusi udara, asap rokok, polusi pabrik dan knalpot mobil, asap, pestisida, herbisida, kontaminasi makanan, kemoterapi, dan radiasi. Semua faktor itu bisa menyebabkan overproduksi radikal bebas.

Kerusakan oksidatif dapat dicontohkan dengan menggigit sebuah apel. Setelah beberapa menit, bagian yang terbuka menjadi cokelat. Sayangnya, kita tidak bisa "melihat" kerusakan yang dilakukan oleh radikal bebas dalam tubuh kita. Kelebihan radikal bebas, ikut bertanggung jawab atas efek penuaan dini, kanker dan terlibat dalam berbagai kondisi kronis dan degeneratif, termasuk radang sendi dan penyakit jantung.

Radikal bebas dapat merusak membran sel serta merusak dan merubah DNA. Merubah zat kimia dalam tubuh dapat meningkatkan resiko terkena kanker serta merusak dan menonaktifkan protein.

Secara normal, radikal bebas biasanya dikendalikan oeh enzim yang diproduksi untuk mencari, mengambil dan menetralisir radikal bebas berbahaya. Seiring dengan bertambahnya usia, produksi enzim ini semakin sedikit. Hal ini bisa diatasi dengan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, karotenoid, mineral selenium, dan hormon melatonin.

Herbal yang mempunyai sifat antioksidan diantaranya bilberry, ginkgo, ekstrak biji anggur, teh hijau, dan dll. Buah-buahan dan sayuran juga merupakan sumber utama antioksidan, bahkan sekarang telah tersedia dalam bentuk suplemen.

Sinergi

Bahan kimia aktif yang terdapat dalam tanaman akan bekerja secara sinergi, manfaat dari dua atau lebih zat kimia aktif ini dapat memiliki efek penyembuhan yang mungkin tidak bisa dicapai jika zat kimia itu bekerja sendirian saja. Kebanyakan obat-obatan herbal bergantung pada hubungan timbal balik yang kompleks dari banyak kandungan zat kimia aktif untuk menghasilkan efek terapeutik, dan efek ini bisa hilang ketika bahan kimia itu dimurnikan dan diisolasi.

Sebagai contoh, sejumlah senyawa antimikroba ditemukan dalam minyak pohon teh, namun penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari senyawa itu yang memiliki kemampuan melawan kuman secara sendirian. Diperlukan interaksi minimal delapan bahan kimia yang berbeda untuk menghasilkan efek penyembuhannya. Kompleksitas ini membuat hampir tidak mungkin bagi mikroba penyebab infeksi untuk membuat sistem pertahanan terhadap minyak pohon teh. Salah satu masalah utama dengan antibiotik konvensional adalah adanya kemampuan dari banyak mikroba untuk mengembangkan mengembangkan sistem perlawanan, yang dapat menyebabkan obat menjadi tidak berguna.

Sistem pertahanan dengan antioksidan juga bekerja secara sinergi. Sebagai contoh, sejumlah karotenoid yang bekerja bersama-sama memiliki sifat antikanker lebih tinggi daripada satu karotenoid. Jadi beta-karoten suplemen mungkin tidak memberikan perlindungan yang sama dengan makan buah dan sayuran yang kaya akan beta-karoten, karena zat-zat lain yang terdapat dalam buah dan sayuran itu dapat membantu tubuh untuk menyerap manfaat karotenoid serta mengurangi efek samping yang mungkin timbul.

Keamanan dan Keselamatan

Penggunaan obat herbal secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat herbal memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern. Tetapi jika digunakan secara berlebihan bisa saja menimbulkan efek samping yang merugikan.

Selain itu perlu diperhatikan juga kandungan kimia aktif dalam tanaman itu, yang mungkin memiliki khasiat yang berlawanan. Misalnya paria yang dipercaya memiliki khasiat anti HIV ini jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan infertilitas pada sperma, memicu impotensi, merusak buah zakar dan hormon pria, berpotensi merusak liver, bahkan bisa menyebabkan keguguran pada wanita hamil.

Pasak bumi juga merupakan tanaman obat yang sangat dikenal luas penggunaannya di Indonesia, tetapi menurut penelitian penggunaan tanaman ini bisa memiliki efek yang merusak hati dan ginjal.

Selain memiliki manfaat penyembuhan, dalam kadar tertentu, tanaman juga memiliki kandungan yang bisa bersifat racun. Bukan hanya tanaman obat, bahkan tanaman hias yang ada di rumah anda.

Tanaman obat juga dapat berinteraksi dengan obat-obatan, dan perlu kehati-hatian bila menggabungkan herbal dengan obat resep dokter. Konsultasikan terlebih dahulu ke dokter jika anda memutuskan untuk menggunakan pengobatan herbal untuk melengkapi pengobatan anda.

Beberapa hal berikut mungkin akan membantu ketika memilih obat-obatan herbal di pasaran:

  • Penjual atau penjaga toko herbal belum tentu ahli pengobatan. Banyak dari mereka tidak memiliki latar belakang ilmiah yang memadai dalam bidang pengobatan herbal. Cari informasi lebih dahulu sebelum anda memutuskan untuk memilih produk herbal tertentu.
  • Kenali merk. Karena banyaknya produk herbal yang beredar luas dan bebas di tengah masyarakat, yang terbaik adalah pilihlah produk yang dibuat oleh perusahaan besar atau perusahaan terkemuka yang telah memiliki pengalaman lama dalam bidang pengobatan herbal. Ada standar dalam produksi obat herbal, misalnya Obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standardisasi. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi.
  • Periksa label. Bacalah label pada kemasan dengan seksama, misalnya mengenai kandungan bahan obat, tanggal produksi, dosis, efek samping, sertifikat keamaman dari badan berwenang, proses produksi, dan lainnya.
  • Hati-hati terhadap Janji Penyembuhan. Pada kemasan biasanya terdapat janji atau klaim tentang khasiat dari obat yang dijualnya. Jika kelihatan janjinya terlalu fantastis, Wah!, bombastis, anda harus berhati-hati, tanyalah ke teman-teman anda yang mungkin sudah mencobanya. Too good to be true.
  • Pilih formula obat yang tepat. Formula obat berupa cairan, bubuk, atau ekstrak padat biasanya baik untuk anda pilih. Produk herbal berupa bagian tanaman (akar, daun, kulit, buiah, dll) dapat kehilangan manfaatnya jika telah mengalami proses penyimpanan. Kandungan alkohol dalam obat herbal juga harus dipertimbangkan, yang mungkin menjadi masalah bagi orang-orang dengan riwayat penyalahgunaan alkohol.
  • Gunakan di waktu yang tepat. Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang bulan. Akan tetapi jika diminum pada awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran.
  • Hati-hati dengan kombinasi banyak bahan. Jika produk herbal merupakan kombinasi lebih dari enam bahan, masing-masing bahan memiliki kandungan dalam jumlah yang kecil. Tidak selalu memperbanyak kombinasi bahan dalam obat herbal bisa membuat khasiatnya menjadi lebih baik, apalagi jika masing-masing bahan itu hanya sedikit menyumbang bagiannya. Jika anda perlu ginkgo untuk meningkatkan memori anda, lebih baik untuk mengkonsumsinya dalam kandungan "full" ginko daripada mengkonsumsi produk ginko yang telah diencerkan dengan ginseng, bawang putih, dan bahan-bahan lainnya.
  • Gunakan dosis yang tepat. Jangan ambil dosis yang lebih tinggi dari yang tercantum di label. Melebihi dosis yang direkomendasikan dapat menyebabkan keracunan. Kebanyakan obat herbal tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah usia satu tahun kecuali diarahkan oleh praktisi yang berpengalaman. Anak-anak usia 1-6 biasanya diberikan sepertiga dosis orang dewasa sementara anak-anak usia 6-12 menerima setengah dosis orang dewasa. Para ansia di atas 65 tahun mungkin perlu untuk mengurangi dosis juga.
  • Perhatikan efek samping. Jika anda memiliki gejala yang tidak biasa, seperti alergi, ruam, denyut jantung, atau sakit kepala, segera berhenti mengkonsumsi obat herbal dan konsultasilah ke dokter anda.
  • Beri waktu untuk bekerja. Evaluasilah bagaimana pengaruh produk herbal bagi kesehatan anda. Setelah 30 hari, tanyakan pada diri sendiri apakah menggunakan obat herbal ini ada pengaruhnya pada kesehatan anda. Jika anda tidak yakin, cobalah berhenti menggunakan obat herbal beberapa saat untuk merasakan perbedaannya.

 

loading...