Healthy Articles

Penggunaan Formalin dalam Produk Pangan


Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) atau food additives sudah sangat meluas. Hampir semua industri pangan, baik industri besar maupun industri rumah tangga, dipastikan menggunakan BTP. Penggunaan BTP memang tidak dilarang asalkan bahan tersebut benar-benar aman bagi kesehatan manusia dan dalam dosis yang tepat.

Pengawet merupakan salah satu jenis BTP yang paling banyak digunakan oleh produsen makanan. Penggunaan BTP dimaksudkan untuk mempertahankan kesegaran atau agar produk tahan lama, serta untuk memperbaiki rasa, aroma, penampilan fisik, dan warna. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan menjadi tengik akibat perubahan kimiawi. Namun, karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya penggunaan BTP, para produsen makanan menggunakan BTP (pengawet) secara berlebihan.

Bahan Tambahan yang Dilarang Digunakan dalam Makanan antara lain :
1. Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya.
2. Asam salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its Salt).
3. Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC).
4. Dulsin (Dulcin).
5. Kalium Klorat (Potassium Chlorate).
6. Khloramfenikol (Chloramphenicol).
7. Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated Vegetable Oils).
8. Nitrofurazon (Nitrofurazone).
9. Formalin (Formaldehyde).
10. Kalium Bromat (Potassium Bromate).

Formalin merupakan salah satu pengawet yang akhir-akhir ini banyak digunakan dalam makanan, padahal jenis pengawet tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. Formalin merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37% dalam air, biasanya ditambahkan metanol 10-15%.

Formalin mempunyai banyak nama atau sinonim, seperti formol, morbicid, methanal, formic aldehyde, methyl oxide, oxymethylene, methyl aldehyde, oxomethane, formoform, formalith, oxomethane, karsan, methylene glycol, paraforin, poly-oxymethylene glycols, superlysoform, tetraoxymethylene dan trioxane.

Sifat Formalin

Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat unsur kimia dari formalin maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal . Selain itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet.

Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya.

Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh  manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.

Masalahnya, sebagai bahan yang digunakan hanya untuk mengawetkan makanan, dosis formalin yang digunakan pun akan rendah. Sehingga efek samping dari mengkonsumsi makanan berformalin tidak akan dirasakan langsung oleh konsumen.

Banyak pihak mengingatkan formalin juga memiliki sifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker.Tetapi kemunculan kanker akibat bahan berbahaya ini dengan kanker dari penyebab yang lain hampir sulit dibedakan, keduanya membutuhkan waktu panjang untuk menyerang tubuh manusia.

Isu kandungan formalin dalam berbagai produk makanan mendapat tanggapan serius dari pemerintah, karena dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya kanker. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sampai kadar tertentu, formalin diizinkan untuk pengawet kosmetik, yaitu untuk pasta gigi maksimum 0,1% dan untuk produk kosmetik lainnya 0,2%. Ketentuan ini sesuai dengan aturan yang berlaku secara internasional seperti ASEAN Cosmetic Directive, European Union Directive, dan SK BPOM untuk kosmetik.

Manfaat dan Kegunaan Formalin

Formalin selain harganya murah, mudah didapat dan pemakaiannya pun tidak sulit sehingga sangat diminati sebagai pengawet oleh produsen pangan yang tidak bertanggung jawab. Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk pangan menggunakan formalin sebagai pengawet.

Anjuran penggunaan formalin yang benar adalah:

  • sebagai pembunuh kuman, sehingga banyak dipakai dalam pembersih lantai, pakaian, kapal dan gudang,
  • pembasmi lalat dan serangga lainnya,
  • salah satu bahan dalam pembuatan sutera buatan, zat pewarna cermin kaca dan bahan peledak,
  • pengeras lapisan gelatin dan kertas foto,
  • bahan pembuatan pupuk urea, parfum, pengeras kuku dan pengawet produk kosmetik,
  • pencegah korosi pada sumur minyak,
  • bahan untuk insulasi busa, dan,
  • bahan perekat kayu lapis.

Dalam konsentrasi kurang dari 1%, formalin digunakan sebagai pengawet dalam pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, sampo mobil, lilin, dan karpet.

Bahaya Formalin bagi Kesehatan

Kasus pemakaian formalin pada tahu, ikan segar, ikan asin, dan produk makanan lainnya menunjukkan kurangnya pengetahuan produsen serta minimnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan bahaya bahan aditif. Formalin tidak diperkenankan ada dalam makanan maupun minuman, karena dalam jangka panjang dapat memicu perkembangan sel-sel kanker. Formalin sangat berbahaya jika terhirup, tertelan atau mengenai kulit karena dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan, reaksi alergi serta luka bakar.

Bahaya Jangka Pendek (Akut)
  1. Bila terhirup dapat menimbulkan iritasi, kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan, hidung, dan tenggorokan. Tanda-tanda lainnya adalah bersin, batuk-batuk, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
  2. Bila terkena kulit akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa, dan terbakar.
  3. Bila terkena mata dapat menimbulkan iritasi sehingga mata memerah, sakit, gatal-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat sehingga lensa mata rusak.
  4. Bila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, atau tidak sadar hingga koma. Selain itu juga terjadi kerusakan pada hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat, dan ginjal.

Bahaya Jangka Panjang (Kronis)
  1. Bila terhirup dalam jangka lama akan menimbulkan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal, dan sensitasi pada paru. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang, gangguan haid dan kemandulan pada perempuan, serta kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
  2. Bila terkena kulit akan terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan radang kulit yang menimbulkan gelembung.
  3. Bila terkena mata dapat menyebabkan radang selaput mata.
  4. Bila tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan, dan rasa gatal di dada.

Dampak Buruk Formalin bagi Tubuh Manusia
  • Kulit : Iritatif, kulit kemerahan, kulit seperti terbakar, alergi kulit.
  • Mata : Iritatif, mata merah dan berair, kebutaan.
  • Hidung : Mimisan.
  • Saluran Pernapasan : Sesak napas, suara serak, batuk kronis, sakit tenggorokan.
  • Saluran Pencernaan : Iritasi lambung, mual muntah, mules.
  • Hati : Kerusakan hati.
  • Paru-paru : Radang paru-paru karena zat kimia (pneumonitis).
  • Saraf : Sakit kepala, lemas, susah tidur, sensitif, sukar konsentrasi, mudah lupa.
  • Ginjal : Kerusakan ginjal.
  • Organ Reproduksi : Kerusakan testis, ovarium, gangguan menstruasi, infertilitas sekunder.

Menghindari Produk Berformalin

Keberadaan formaldehida sendiri ada dalam berbagai macam produk. Formaldehida juga ditemukan pada asap rokok dan udara yang tercemar asap kendaraan bermotor. Selain itu bisa didapat juga pada produk-produk termasuk antiseptik, obat, cairan pencuci piring, pelembut cucian, perawatan sepatu, pembersih karpet dan bahan adhesif. Formaldehida juga ada dalam kayu lapis terutama bila masih baru. Kadar formaldehida akan turun seiring berjalannya waktu.

Formaldehida secara natural sudah ada dalam bahan makanan mentah dalam kisaran 1 mg per kg hingga 90 mg per kg.

Deteksi formalin secara akurat baik secara kualitatif maupun kuantitatif hanya dapat dilakukan di laboratorium. Namun demikian, untuk menghindarkan terjadinya keracunan, masyarakat harus dapat membedakan bahan/produk makanan yang mengandung formalin dan yang sehat. Beberapa ciri produk berformalin antara lain:

Ikan asin:
  • Tahan lama pada suhu kamar (25oC), lebih dari 1 bulan.
  • Warna bersih dan cerah (tidak kuning kecoklatan).
  • Tekstur keras, tidak berbau khas ikan asin dan tidak mudah hancur.
  • Tidak dihinggapi lalat. Ikan basah/udang.
  • Insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang.
  • Warna putih bersih dengan tekstur yang kenyal.
  • Awet sampai 3 hari pada suhu kamar, tidak mudah busuk dan bau.

Ayam potong:
  • Warna putih bersih.
  • Awet dan tidak mudah busuk.

Tahu mentah:
  • Tekstur kenyal, tidak padat tetapi tidak mudah hancur.
  • Awet sampai 3 hari pada suhu kamar, tahan sampai 15 hari dalam lemari es.
  • Aroma menyengat bau formalin (kadar 0,5-1,0 ppm).

Mi basah:
  • Mengkilat, tidak lengket dan sangat berminyak.
  • Awet sampai 2 hari pada suhu kamar, tahan sampai 15 hari dalam lemari es.
  • Aroma menyengat (tidak berbau mi) dan tidak mudah basi.

Bakso:
  • Tidak rusak selama 5 hari pada suhu kamar.
  • Tekstur sangat kenyal.

Bahaya penggunaan formalin dalam produk makanan bagi kesehatan tidak dapat dirasakan secara langsung. Namun, penggunaan dalam kurun waktu lama sangat mengkhawatirkan. Selain tahu, mi basah, ikan segar dan produk lainnya, masih banyak produk yang menggunakan formalin sebagai pengawet.

Pengungkapan makanan berformalin harus ditindak lanjuti dengan penegakan hukum agar masyarakat betul-betul dapat menikmati makanan yang bebas dari bahan-bahan pengawet berbahaya.

#dari berbagai sumber

2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates