Healthy Articles

Peluang Tanaman Rempah Dan Obat Sebagai Sumber Pangan Fungsional


Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga bergeser. Bahan pangan yang kini banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasanya menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh, seperti dapat menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah, serta meningkatkan penyerapan kalsium.

Dasar pertimbangan konsumen di negara-negara maju dalam memilih bahan pangan bukan hanya bertumpu pada kandungan gizi serta kelezatannya, tetapi juga pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh. Fenomena tersebut melahirkan konsep pangan fungsional.

Menurut Badan POM, pangan fungsional adalah pangan yang secara alami maupun telah melalui proses mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Pangan fungsional dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen, serta tidak  memberikan kontraindikasi dan efek samping terhadap metabolisme zat gizi lainnya jika digunakan dalam jumlah yang dianjurkan. Meskipun mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami.

Kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sebagai sumber zat gizi serta untuk menjaga kesehatan semakin meningkat baik di negara maju maupun di negara berkembang termasuk Indonesia. Pada tahun 1997, konsumen Amerika Serikat (AS) membelanjakan US$ 12,70 miliar untuk suplemen pangan dan angka tersebut meningkat 13%/tahun.

Di Indonesia, kecenderungan tersebut telah dimanfaatkan oleh industri farmasi dan makanan untuk mempromosikan produk-produknya melalui pencantuman klaim kesehatan pada label produk maupun iklannya. Berdasarkan data Badan POM, produk suplemen makanan meningkat cukup pesat dalam dasawarsa terakhir, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor.

Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan atau obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Bila fungsi obat terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional lebih bersifat pencegahan terhadap penyakit. Berbagai jenis pangan fungsional telah beredar di pasaran, mulai dari produk susu probiotik tradisional seperti yoghurt, kefir dan coumiss sampai produk susu rendah lemak siap dikonsumsi yang mengandung serat larut. Juga produk yang mengandung ekstrak serat yang bersifat larut yang berfungsi menurunkan kolesterol dan mencegah obesitas. Untuk minuman, telah tersedia berbagai minuman yang berkhasiat menyehatkan tubuh yang mengandung komponen aktif rempah-rempah seperti kunyit asam, minuman sari jahe, sari temu lawak, beras kencur, serbat, dan bandrek.

Tanaman rempah dan obat sudah lama dikenal mengandung komponen fitokimia yang berperan penting untuk pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit. Kebutuhan akan tanaman rempah dan obat terus meningkat sejalan dengan munculnya kecenderungan untuk kembali ke alam dan adanya anggapan bahwa efek samping yang ditimbulkannya tidak sebesar obat sintetis. Produksi tanaman biofarmaka di Indonesia selama lima tahun terakhir meningkat cukup pesat dengan pertumbuhan tahun 2003 sebesar 12,93%.

Tanaman Rempah Dan Obat Sumber Pangan Fungsional

Senyawa fitokimia sebagai senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan termasuk fungsinya dalam pencegahan terhadap penyakit degeneratif. Beberapa senyawa fitokimia yang diketahui mempunyai fungsi fisiologis adalah karotenoid, fitosterol, saponin, glikosinolat, polifenol, inhibitor protease, monoterpen, fitoestrogen, sulfida, dan asam fitat.

Senyawa-senyawa tersebut banyak terkandung dalam sayuran dan kacang-kacangan, termasuk tanaman rempah dan obat. Diet yang menggunakan rempah-rempah dalam jumlah banyak sebagai penyedap makanan dapat menyediakan berbagai komponen aktif fitokimia yang bermanfaat menjaga kesehatan dan melindungi tubuh dari penyakit kronis. Bahan-bahan tersebut dapat disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain minuman kesehatan, minuman instan, jus, sirup, permen, acar, manisan, dodol, selai, dan jeli.

Jamu yang disajikan dalam bentuk minuman dapat dikategorikan sebagai minuman fungsional asal karakteristik sensorinya diatur sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas. Minuman seperti beras kencur, sari jahe, sari asam, kunyit asam, sari temu lawak, bir pletok, dan susu telor madu jahe merupakan contoh minuman asal jamu yang dapat dikembangkan sebagai produk industri minuman fungsional.

Jahe (Zingiber officinale Rosc.)

Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang paling banyak digunakan dalam berbagai resep makanan dan minuman. Secara empiris jahe biasa digunakan masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi, dan lain-lain. Berbagai penelitian membuktikan bahwa jahe mempunyai sifat antioksidan. Beberapa komponen utama dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan gingeron memiliki aktivitas antioksidan di atas vitamin E (Kikuzaki dan Nakatani 1993). Selain itu jahe juga mempunyai aktivitas antiemetik dan digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan.

Konsumsi ekstrak jahe dalam minuman fungsional dan obat tradisional dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan mengobati diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan, yaitu memberikan respons kekebalan inang terhadap mikroba pangan yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu disebabkan ekstrak jahe dapat memacu proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati serta meningkatkan aktivitas fagositas makrofag. Selain itu jahe mampu menaikkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel natural killer (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang terinfeksi virus.

Hasil penelitian ini menopang data empiris yang dipercaya masyarakat bahwa jahe mempunyai kapasitas sebagai antimasuk angin, suatu gejala menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang oleh virus (influenza). Peningkatan aktivitas NK membuat tubuh tahan terhadap serangan virus karena sel ini secara khusus mampu menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus.

Mengkonsumsi jahe setiap hari dapat meningkatkan aktivitas sel T dan daya tahan limfosit terhadap stres oksidatif. Komponen dalam jahe yaitu gingerol dan shogaol mempunyai aktivitas antirematik. Hal ini ditunjang dengan pendapat bahwa jahe berfungsi sebagai anti-inflamasi rematik arthritis kronis.

Kunyit (Curcuma domestica) dan Temu Lawak (Curcuma xanthorrhiza)

Penggunaan kunyit dalam bidang pangan tidak hanya sebatas sebagai bumbu untuk menambah rasa dan memberi warna, tetapi juga sebagai bahan baku minuman sehat seperti kunyit asam atau kunyit instan. Secara empiris kunyit banyak digunakan sebagai obat mag, penurun kolesterol, diare, nyeri haid, sakit kuning, dan obat luka.

Komponen aktif dalam kunyit yang berperan adalah kurkuminoid. Komponen ini juga terdapat pada beberapa jenis temu-temuan lain seperti temu lawak. Kurkuminoid adalah komponen yang memberikan warna kuning yang bersifat sebagai antioksidan dan berkhasiat antara lain sebagai hipokolesteromik, kolagogum, koleretik, bakteriostatik, spasmolitik, antihepatotoksik, dan anti-inflamasi.

Selain kurkumin, kandungan l-turmeron pada rimpang temu lawak berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Akhir-akhir ini temu lawak banyak digunakan dalam berbagai minuman kesehatan maupun sirup multivitamin terutama untuk anak-anak, karena khasiatnya sebagai penambah nafsu makan. Secara umum bahan tambahan tersebut dikenal dengan nama curcuma.

Kadar zat antioksidan dalam rempah-rempah juga diketahui cukup tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan khasiat kurkuminoid dalam pengobatan terutama sebagai antihepatoksik dan antikolesterol, serta obat tumor dan kanker.

Komponen fenolik dalam kunyit dapat menghambat pertumbuhan kanker dan mempunyai aktivitas antimutagenik. Selain itu kunyit juga dapat menekan pertumbuhan kanker usus, payudara, paru-paru, dan kulit.

Lidah Buaya (Aloe vera)

Melihat potensinya yang sangat besar, tanaman lidah buaya sudah dibudidayakan secara komersial. Lidah buaya telah dibudidayakan secara luas di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak pada lahan lebih dari 25.000 ha. Produksi lidah buaya yang telah dimanfaatkan baru sekitar 0,02%, sedangkan sisanya diekspor dalam bentuk daun segar dengan harga yang sangat rendah ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, dan negara-negara Eropa.

Unsur utama dari cairan lidah buaya adalah aloin, emodin, resin, gum dan unsur lainnya seperti minyak atsiri. Dari segi kandungan nutrisi, gel atau lendir daun lidah buaya mengandung beberapa mineral seperti Zn, K, Fe, dan vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B12, C, E, inositol, asam folat, dan kholin. Gel lidah buaya mengandung 17 jenis asam amino penting. Dengan kandungan nutrisi yang demikian lengkap dan bervariasi maka peluang diversifikasi produk lidah buaya sangat besar.

Komposisi kimia daun lidah buaya per 100 g. : (lidah buaya asal Pontianak)
  • Air : 94,50%
  • Abu : 0,18%
  • Protein : 0,32%
  • Lemak : 0,02%
  • Serat kasar : 0,12%
  • Karbohidrat : 0,08%
  • Energi : 98,24 kal

Produk minuman dari lidah buaya mempunyai kalori yang sangat rendah (4 kal/100 g gel), sehingga sangat sesuai untuk program diet. Di Kalimantan Barat, lidah buaya sudah diolah dalam berbagai bentuk makanan dan minuman seperti jus, koktail, gel lidah buaya dalam sirup, selai, jeli, dodol, dan manisan. Untuk memperpanjang umur simpannya telah dilakukan pula penelitian pembuatan tepung lidah buaya dengan penambahan bahan pengisi.

Kandungan asam amino gel lidah buaya :
  • Lisin 8,27 µg/g
  • Histidin 5,92 µg/g
  • Arginin 4,81 µg/g
  • Asam aspartat 14,37 µg/g
  • Treonin 5,68 µg/g
  • Serin 6,35 µg/g
  • Asam glutamat 14,27 µg/g
  • Glisin 7,80 µg/g
  • Alanin 1,09 µg/g
  • Sistin 0,02 µg/g
  • Valin 6,85 µg/g
  • Metionin 1,83 µg/g
  • Isoleusin 3,72 µg/g
  • Tirosin 3,24 µg/g
  • Fenilalanin 4,47 µg/g
  • Leusin 8,53 µg/g
  • Prolin 0,07 µg/g

Gel lidah buaya juga telah dikembangkan dalam bentuk sediaan oral sebagai minuman kesehatan yang diklaim menyegarkan dan memberikan efek mendinginkan.  Secara empiris lidah buaya digunakan sebagai obat luka bakar, panas dalam, asam urat serta afrodisiak dan malnutrisi karena kandungan asam amino dan vitaminnya. Gel lidah buaya juga memperlihatkan aktivitas antipenuaan karena mampu menghambat proses penipisan kulit dan menahan kehilangan serat elastin serta menaikkan kandungan kolagen dermis yang larut air.

Lidah buaya terbukti dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Penggunaan gel lidah buaya yang umum adalah dengan mengoleskan gel pada bagian yang terinfeksi secukupnya, sedangkan untuk produk yang mengandung aloin dan aloe-emodin dengan diminum 1-3 sendok makan, 3 kali sehari.

Mengkudu (Morinda citrifolia L.)

Dalam beberapa tahun terakhir tanaman mengkudu mendapat perhatian sangat besar karena adanya fakta empiris serta bukti penelitian yang menyatakan bahwa buah ini berkhasiat untuk mengobati beberapa penyakit degeneratif seperti kanker, tumor, dan diabetes.

Buah mengkudu mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang sangat berguna bagi kesehatan, selain kandungan nutrisinya yang juga beragam seperti vitamin A, C, niasin, thiamin dan riboflavin, serta mineral seperti zat besi, kalsium, natrium, dan kalium. Jus buah mengkudu berfungsi sebagai imunomodulator yang mempunyai efek antikanker.

Komposisi kimia buah mengkudu per 100 g bagian yang dapat dimakan :
  • Air : 89,10%
  • Protein : 2,90%
  • Lemak : 0,60%
  • Karbohidrat : 2,20%
  • Serat : 3%
  • Abu : 1,20%
  • Lain-lain : 1%

Kandungan nutrisi dalam 100 g buah mengkudu :
  • Kalori (kal) 167
  • Vitamin A (IU) 395,83
  • Vitamin C (mg) 175
  • Niasin (mg) 2,50
  • Thiamin (mg) 0,70
  • Riboflavin (mg) 0,33
  • Besi (mg) 9,17
  • Kalsium (mg) 325
  • Natrium (mg) 335
  • Kalium (mg) 1,115
  • Protein (g) 0,75
  • Lemak (g) 1,50
  • Karbohidrat (g) 51,67
Jus buah mengkudu dapat digunakan sebagai agen tambahan (suplemen) dalam pengobatan kanker. Beberapa jenis senyawa fitokimia dalam buah mengkudu adalah terpen, acubin, L asperuloside, alizarin, zat-zat anthraquinone, asam askorbat, asam kaproat, asam kaprilat, zat-zat scopoletin, damnacanthal dan alkaloid.

Komponen damnacanthal merupakan zat antikanker. Senyawa turunan anthraquinone dalam mengkudu antara lain adalah morindin, morindone dan alizarin, sedangkan alkaloidnya antara lain xeronin dan proxeronin (prekursor xeronine). Xeronin merupakan alkaloid yang dibutuhkan tubuh manusia untuk mengaktifkan enzim-enzim dan mengatur serta membentuk struktur protein.

Untuk menetralisir bau tidak sedap pada buah mengkudu, yang disebabkan oleh asam kaproat dan kaprilat, dapat ditambahkan essence, asam sitrat dan madu, atau dicampur dengan teh dan gula.

Minuman dari buah mengkudu yang beredar di pasaran secara kesehatan aman untuk dikonsumsi sebagai minuman penyegar. Cairan hasil perasan buah mengkudu aman untuk dikonsumsi dengan nilai toksisitas LD 50 > 52,61 ml/ kg bobot badan untuk pekatan sari buah atau setara dengan 480 g/kg bobot badan untuk buah segar.

Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)

Kayu secang sangat dikenal terutama di Sulawesi sebagai pemberi warna pada air minum yang dikenal sebagai teh secang. Kayu secang juga merupakan salah satu ramuan yang digunakan dalam pembuatan minuman tradisional Betawi bir pletok yaitu sebagai pemberi warna. Secara empiris kayu secang dipakai sebagai obat luka, batuk berdarah, berak darah, darah kotor, penawar racun, sipilis, menghentikan pendarahan, pengobatan pasca persalinan, desinfektan, antidiare dan astringent.

Zat warna merah yang terkandung dalam kayu secang dikenal sebagai senyawa golongan brazilin. Brazilin merupakan senyawa antioksidan yang mempunyai katekol dalam struktur kimianya. Berdasarkan aktivitas antioksidannya, brazilin diharapkan mempunyai efek melindungi tubuh dari keracunan akibat radikal kimia.

Indeks antioksidatif dari ekstrak kayu secang lebih tinggi daripada antioksidan komersial (BHT BHA). Penelitian mengungkapkan bahwa brazilin diduga mempunyai efek anti-inflamasi.

Berbagai penelitian juga telah dilakukan untuk menguji manfaat kayu secang, seperti khasiatnya sebagai antibakteri. Untuk menghentikan pendarahan, diduga yang berperan adalah tanin dan asam galat. Tanin juga bersifat sebagai antibakteri dan astringent atau menciutkan dinding usus yang rusak karena asam atau bakteri. Kadar tanin ekstrak kayu secang yang diperoleh dengan perebusan selama 20 menit adalah 0,137% .

Pala (Myristica fragrans Houtt)

Pala adalah salah satu jenis rempah-rempah yang banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Biji dan fuli pala (selaput biji) digunakan sebagai sumber rempah-rempah, sedangkan daging buah pala sering diolah menjadi berbagai produk pangan seperti manisan, sirup, jam, jeli, dan chutney. Minyak biji pala terutama digunakan dalam industri flavor (penambah cita rasa) makanan dan dalam jumlah kecil digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik.

Komposisi kimia daging buah pala per 100g adalah :
  • Kalori (kal) : 42
  • Protein (g) : 0,30
  • Lemak (g) : 0,20
  • Karbohidrat (g) : 10,90
  • Kalsium (mg) : 32
  • Fosfor (mg) : 24
  • Besi (mg) : 1,50
  • Vitamin A (IU) : 29,50
  • Vitamin B (mg) : Sedikit
  • Vitamin C (mg) : 22
  • Air (g) : 88,10

Biji pala digunakan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit, seperti sakit gigi, disentri, encok, bau nafas tidak sedap, dan untuk menginduksi aborsi.

Pala juga dikenal berkhasiat sebagai obat penenang. Salah satu komponen penting dalam buah pala adalah miristicin yang mempunyai aktivitas sebagai hepatoprotektor.

Kandungan minyak atsiri pala sekitar 5-15% yang meliputi pinen, sabinen, kamfen, miristicin, elemisin, isoelemisin, eugenol, isoeugenol, metoksieugenol, safrol, dimerik polipropanoat, lignan, dan neolignan.

Eugenol merupakan komponen utama yang bersifat menghambat peroksidasi lemak dan meningkatkan aktivitas enzim seperti dismutase superoksidase, katalase, glutation peroksidase, glutamin transferase, dan glukose-6-fosfat dehidrogenase. Ekstrak kloroform pala juga mempunyai aktivitas antidiare dengan meningkatkan kandungan ion-ion Na dan Cl dalam jaringan, sedangkan ekstrak petroleum eter buah pala mempunyai aktivitas antibakteri terhadap beberapa spesies Shigela dan E. coli.

Prospek Tanaman Rempah Dan Obat Sebagai Sumber Pangan Fungsional

Tanaman rempah dan obat mempunyai potensi besar sebagai sumber makanan dan minuman fungsional seiring dengan makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. Keberadaan pangan fungsional tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat atau konsumen, tetapi juga bagi pemerintah maupun industri pangan. Bagi konsumen, pangan fungsional bermanfaat untuk mencegah penyakit, meningkatkan imunitas, memperlambat proses penuaan, serta meningkatkan penampilan fisik.

Bagi industri pangan, pangan fungsional akan memberikan kesempatan yang tidak terbatas untuk secara inovatif memformulasikan produk-produk yang mempunyai nilai tambah bagi masyarakat. Selanjutnya bagi pemerintah, adanya pangan fungsional akan menurunkan biaya untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat.

Ada tiga alasan yang mendukung peningkatan minat terhadap pangan fungsional, yaitu tingginya biaya pemeliharaan kesehatan, peraturan yang mendukung, dan penemuan-penemuan ilmiah.

Peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam persen terhadap Produk Nasional Bruto (GNP) semakin meningkat di seluruh dunia. Di AS pemeliharaan kesehatan mencapai sekitar 14% GNP. Kebiasaan makan yang tidak baik dinilai oleh banyak kalangan berperan dalam menurunkan kesehatan dan berhubungan dengan tingginya biaya pemeliharaan kesehatan. Berbagai penelitian menemukan adanya kaitan antara kebiasaan makan dengan timbulnya beberapa jenis penyakit seperti jantung koroner dan kanker. Dilaporkan bahwa korelasi antara kebiasaan makan dan kanker adalah ~ 60% pada wanita dan > 40% pada pria.

Manfaat komponen fitokimia dan pangan fungsional telah dipublikasikan secara luas sehingga pengetahuan dan minat konsumen terhadap bahan pangan kaya komponen fitokimia dan pangan fungsional pun meningkat. Di AS, penjualan produk pangan fungsional tumbuh dari 7% pada tahun 2001 menjadi 9% tahun 2002, sementara pertumbuhan keseluruhan industri pangan tahun 2002 adalah 3%. Perdagangan nutraceuticals dan pangan fungsional mencapai US $ 14,70 miliar dan diproyeksikan meningkat lagi pada tahun-tahun mendatang.

Cerahnya prospek pangan fungsional berbasis tanaman rempah dan obat juga ditunjang dengan semakin majunya penelitian dan pengembangan eksplorasi komponen bioaktif dalam tanaman rempah dan obat. Selain itu, kemajuan teknologi pengolahan pangan telah mampu menghasilkan produk-produk makanan dan minuman yang secara organoleptik disukai konsumen serta mengandung komponen-komponen yang berguna bagi kesehatan.

Dibandingkan dengan mengkonsumsi suplemen pangan, penggunaan pangan fungsional lebih menguntungkan bagi konsumen karena suplemen hanya mengandung komponen jenis tertentu, bukannya berbagai jenis komponen fitokimia yang secara alami terdapat dalam makanan. Pengembangan jenis pangan kaya serat, vitamin maupun fitokimia melalui teknologi genetika, bioteknologi, fortifikasi dan pemeliharaan tanaman merupakan pendekatan yang tepat untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang optimal.

Generasi muda AS yang meliputi 27% populasi umumnya sangat peduli pada kesehatan. Selanjutnya banyak orang melihat pentingnya suplemen pangan, yang dapat berarti adanya kesempatan bagi produk pangan yang dapat berfungsi sebagai sumber manfaat kesehatan yang baru. Yang terakhir adalah bahwa suplemen pangan tidak dapat memuaskan rasa lapar, hanya makanan yang dapat melakukannya.

Permasalahan Dan Tantangan

Walaupun pangan fungsional dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan industri pangan, terdapat beberapa masalah dan tantangan yang dihadapi. Perpaduan yang tepat dari riset pasar, pemasaran, iptek, pelabelan, distribusi, penentuan harga, rasa dan kenyamanan merupakan tantangan tersendiri. Sementara itu walaupun pangan fungsional potensial memberikan manfaat kesehatan bagi konsumen, beberapa hambatan dalam penyebaran dan penerimaan jenis pangan ini perlu diperhatikan.

Pengembangan pangan fungsional dan penelitian dasar untuk mendokumentasikan klaim pemasaran cukup mahal sehingga harga jualnya menjadi sangat tinggi. Konsumen mencurigai janji akan manfaat kesehatan dari produk ini sebagai justifikasi untuk mencantumkan harga tinggi. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa klaim yang berkaitan dengan jenis pangan tertentu harus nyata.

Beberapa permasalahan dalam pengembangan pangan fungsional dari tanaman antara lain:
  • penentuan identitas dan cara panen yang benar dari tanaman sebagai bahan baku pangan fungsional,
  • standardisasi produk, karena tanaman rempah dan obat yang tumbuh atau dibudidayakan dalam kondisi yang berbeda, juga lokasi dan musim yang berbeda, akan menghasilkan kandungan bahan aktif yang berbeda pula,
  • proses pengolahan, karena dapat mempengaruhi komponen aktif yang terkandung dalam tanaman obat yang digunakan dalam pangan fungsional,
  • keamanan dari herbal tersebut, karena beberapa jenis herbal cukup berbahaya bagi kesehatan.

Selain itu juga perlu diperhatikan potensi interaksinya dengan obat kimia dan kemungkinan adanya kontaminan. Pelabelan merupakan hal yang penting dalam pengembangan pangan fungsional, karena dalam label tercantum keterangan tentang produk tersebut termasuk klaim kesehatan.

Di Indonesia, pelabelan diatur dalam Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang pangan. Karena adanya klaim tersebut maka perlu disertakan bukti dari manfaat klaim tersebut. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat akan manfaat pangan fungsional serta melindungi masyarakat dari klaim yang tidak benar atau berlebihan, dan yang lebih penting lagi dari kemungkinan efek berbahaya dari produk tersebut.

Permasalahan lain dalam pengembangan pangan fungsional adalah jenis pangan tersebut harus memenuhi persyaratan organoleptik konsumen. Kandungan pangan fungsional seperti komponen fitokimia, isolat nutrien atau ekstrak tanaman mempunyai bau dan rasa (flavor) terlalu kuat dan sering kali kurang menyenangkan. Penambahan dalam jumlah sedikit tidak atau kurang dirasakan manfaatnya, sedangkan dalam jumlah banyak akan menimbulkan bau dan rasa yang tidak disukai.

Beberapa herba, ekstrak tanaman serta komponen fitokimia lainnya yang bermanfaat untuk kesehatan mempunyai bau dan rasa kuat dan kurang disukai serta tekstur yang kurang disukai pula. Bau dan rasa tersebut sukar atau tidak dapat ditutupi atau disembunyikan.

Permasalahan tersebut akan memperpanjang proses formulasi pangan atau menambah biaya untuk mendapatkan nilai sensoris yang disukai.

Seperti telah diuraikan, berbagai jenis tanaman rempah dan obat mempunyai potensi yang sangat besar sebagai sumber pangan fungsional. Pengembangan lebih lanjut menjadi produk pangan fungsional komersial memerlukan penelitian mendalam untuk memperoleh data yang pasti mengenai komponen bioaktif, khasiat, keamanan, sampai uji farmakologi dan uji klinisnya untuk membuktikan klaim manfaatnya.

Keberhasilan pengembangan pangan fungsional bergantung pada banyak faktor, antara lain keamanan, efikasi, rasa, kemudahan dan nilai (value) dari produk tersebut. Yang paling penting adalah bahwa produk tersebut harus aman dan klaim manfaatnya nyata.

Kesimpulan

Pangan fungsional mempunyai prospek cerah sehingga peluang pengembangan produk baru yang dapat diterima konsumen secara luas masih terbuka lebar, termasuk pangan fungsional berbahan baku tanaman rempah dan obat. Berkembangnya pola hidup sehat dan kembali ke alam akan mempercepat pengembangan jenis produk ini.

Tersedianya pangan fungsional yang beragam akan memudahkan konsumen dalam memperoleh jenis pangan yang diyakini bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Bagi kalangan industri, produksi jenis pangan ini harus benar-benar direncanakan dengan baik dan matang.

Standardisasi produk pangan fungsional merupakan suatu keharusan. Peran Badan POM dalam menyusun konsep standar bagi pangan fungsional yang mencakup standar komposisi, cara produksi, label dan klaim sangat dibutuhkan. Penyusunan standar tersebut antara lain perlu mengacu pada Foods for Specified Use (FOSHU), suatu standar bagi pangan fungsional yang sudah diberlakukan di Jepang.

Litbang Pertanian, Bogor
2012. smallCrab, just another blogs
Download Joomla Templates