| Demam Cakaran Kucing |
|
Bartonella (sebelumnya disebut Rochalimaea) henselae secara epidemiologis, bakteriologis dan serologis telah diketahui sebagai etiologi dari CSD, begitu pula sebagai penyebab bacillary angiomatosis, peliosis hepatis dan bakteriemia. Keluarga lain dari Bartonellae, seperti B. Quintana, juga menyebabkan kesakitan pada hospes “immunocompromised”, tetapi tidak menyebabkan CSD. Afipia pelis, yang sebelumnya diduga sebagai organisme penyebab, ternyata organisme ini hanya memainkan peranan sangat kecil, sebagai penyebab CSD. Tersebar diseluruh dunia, tetapi jarang terjadi. Surveilans prospektif yang dilakukan di satu negara bagian (AS) menemukan insiden setahun sebesar 4.0 kasus/100.000 penduduk. Semua jenis kelamin mempunyai risiko yang sama untuk terkena, dan CSD lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Pengelompokan penderita dalam suatu keluarga jarang terjadi. Kebanyakan kasus muncul pada bulan-bulan diakhir musim panas, musim gugur dan musim dingin. Kucing rumah adalah vektor dan reservoir untuk B. henselae; Kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis walaupun menderita bakteriemia kronis. Kebanyakan pasien (lebih dari 90%) ada riwayat dicakar, tergigit, dijilat kucing atau terpajan dengan kucing yang sehat, biasanya kucing muda (kadang anak kucing). Riwayat cakaran atau gigitan anjing, gigitan monyet, kontak dengan kelinci, ayam atau kuda diketahui terjadi sebelum munculnya gejala, namun hampir semua kasus CSD mempunyai riwayat pernah kontak dengan kucing. Kutu kucing menularkan B. henselae kepada sesama kucing, dan baru pada akhir tahun 1999 kucing diketahui mempunyai peranan penting pada penularan langsung dari B. henselae kepada manusia. Bervariasi, biasanya 3 - 14 hari dari saat masuknya bakteri kedalam tubuh hingga munculnya lesi primer dan sekitar 5 – 50 hari dari saat masuknya baketri hingga munculnya limfadenopati. A. Cara-cara pencegahan : Bersihkan luka akibat dicakar atau digigit kucing dengan baik. Hal ini akan sangat menolong. Upaya membasmi kutu kucing sangat penting.
Efektivitas dari terapi antibiotik sangat tidak jelas terhadap CSD. Antibiotik yang umum dipakai seperti rifampisin, eritromisin dan doksisiklin, efektif untuk infeksi yang menyebar pada penderita AIDS. Pengobatan terhadap penderita CSD tanpa kompliksi dengan sistem kekebalan yang baik tidak dilakukan. Namun, semua penderita immunocompromised sebaiknya diobati selama 1 – 3 bulan. Aspirasi dari limfadenitis bernanah mungkin diperlukan untuk mengurangi rasa sakit, tetapi biopsi insisi dari kelenjar limfe sebaiknya dihindari. C. Tindakan penanggulangan wabah : Tidak dilakukan. |
Random Artikel
- Mengenal Pencucian Uang
- Sekilas Mengenal Tuberkolosis
- Sekilas Perawatan Mata Anda
- Kontaminasi Bahan Makanan
- Tanda-tanda Anak Cacingan
- Perilaku Makan Anak Sekolah
- Syarat-syarat rumah sehat
- Memperbaiki Pola Makan Dapat Mencegah Kanker
- Obat dan Perannya dalam Pelayanan Kesehatan
- Minum Dua Cangkir Kopi Kurangi Resiko Kanker 43%
- Aneka Herba Penambah Kesuburan
- Jengkol, Meski Bau, Bergizi Tinggi
- Keluhan Sakit Perut dan Penyembuhannya
- Aneka Herbal untuk Awet Muda
- Waspadai Tahi Lalat Sebagai Tanda Awal Kanker Kulit
- Pengobatan Herbal untuk Disfungsi Ereksi
- Alternatif Lain Menikmati Sayuran
- Autisme pada Anak
- Seks Tiap Hari Tingkatkan Jumlah Sperma
- Waspadai Penyakit di Musim Hujan
