Selenium (Se) merupakan antioksidan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan manusia. Mineral mikro ini banyak terkandung dalam tanah di lahan pasang surut, namun belum banyak dimanfaatkan. Salah satu cara untuk memanfaatkan Se adalah dengan menanam tanaman obat rimpang. Jenis tanaman ini mampu menyerap Se lebih banyak dibanding tanaman lainnya.

Lahan rawa pasang surut yang terletak di sepanjang daerah aliran sungai telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat, baik untuk permukiman maupun pertanian. Lahan pasang surut berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Potensi sumber daya lahan ini telah pula didukung dengan teknologi pemanfaatannya, antara lain penataan lahan dan air dan teknologi budi daya.

Selama pemerintahan Orde Baru (1969- 1994), sekitar 1 juta hektar lahan rawa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua telah dikonversi menjadi lahan pertanian, terutama untuk padi, kopi, kelapa sawit, dan lada. Produktivitas lahan sangat beragam, bergantung pada kondisi fisik lahan, pengelolaan lahan, dan tata air.

Studi dan pemahaman potensi dan kendala pemanfaatan lahan pasang surut telah lama dilakukan, terutama permasalahan fisik dan kesuburan tanah. Potensi lain yang belum dimanfaatkan dengan baik adalah kandungan unsur mikro yang cukup tinggi, seperti besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), dan selenium (Se). Se merupakan unsur mikro yang dapat berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Pada tanah, unsur mikro ini diserap oleh tanaman dan diakumulasi pada bagian akar. Oleh karena itu, menanam tanaman obat temu-temuan dapat menjadi salah satu cara memanen Se dari lahan rawa.

Kesesuaian Lahan untuk Budi Daya Tanaman Obat Rimpang

Melihat kondisi lahan dan tipe luapan, tidak semua lahan pasang surut sesuai untuk budi daya tanaman obat rimpang. Daerah yang sesuai adalah yang mempunyai tipe iklim A, B dan C menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Air berperan peting dalam perkembangan rimpang. Bila kekurangan air, pertumbuhan rimpang akan terhambat.

Jahe sesuai untuk daerah dengan curah hujan 2.500-4.000 mm/tahun, sedang kencur, kunyit dan temulawak memerlukan curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun dengan sebaran hujan yang merata sepanjang tahun. Makin tinggi curah hujan, bobot rimpang makin tinggi.

Tanaman obat rimpang mampu tumbuh mulai dari daerah pantai sampai 1.500 m dpl, namun ketinggian tempat yang optimal adalah 300-900 m dpl. Pada ketinggian di atas 1.000 m dpl, pertumbuhan tanaman dan pembentukan rimpang terhambat. Tanaman menghendaki tanah yang gembur, banyak mengandung humus, dan berdrainase baik, dengan tekstur lempung berpasir. Bila kandungan liat tinggi, dianjurkan untuk menambahkan pupuk kandang.

Pertumbuhan rimpang membutuhkan kondisi tanah dengan kelembapan sedang dengan drainase baik. Tanah yang terlalu basah atau tergenang akan menyebabkan rimpang membusuk. Oleh karena itu, tanaman menghendaki topografi tanah yang landai dan agak miring. Pada tanah datar, perlu dibuat saluran drainase. Penanaman dalam bedengan merupakan cara yang baik untuk menghindari kelembapan tanah yang tinggi dan genangan air. Dengan memperhatikan persyaratan tumbuh tersebut, tanaman obat rimpang sesuai dikembangkan pada lahan pasang surut dengan tipe luapan C dan D.

Produksi dan Mutu Rimpang

Di lahan pasang surut Sumatera Selatan, produktivitas jahe, kunyit, dan temulawak lebih rendah  dibanding di lahan mineral. Di lahan pasang surut, hasil jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut hanya 4,5, 12,9, dan 20,4 t/ha, jauh lebih rendah dibanding di tanah mineral yang mencapai 15, 20, dan 25 t/ha. Namun, produktivitas tanaman temu-temuan di lahan pasang surut masih dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi pengelolaan lahan, air, dan tanaman yang tepat.

Ditinjau dari mutu simplisia, rimpang yang dihasilkan dari pertanaman di lahan pasang surut memenuhi standar mutu Materia Medika Indonesia (MMI). Kadar minyak atsiri jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut 2,78-4,56%, 2,98-3,37%, dan 3,57-5,36%, tidak berbeda dengan kadar atsiri dari tanaman di lahan mineral. Demikian pula nilai kadar sari larut air dan kadar sari larut alkohol.

Kandungan Selenium pada Tanaman Obat Rimpang

Kandungan Se pada rimpang tanaman obat di lahan pasang surut Sumatera Selatan cukup tinggi, yaitu 1,34-2,11 mg/kg pada jahe, 1,23-2,03 mg/kg pada kunyit, dan 1,23-1,77 mg/kg pada temulawak. Rimpang dari tanaman di lahan mineral mengandung Se sangat rendah.

Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan Se pada bahan makanan sumber Se seperti gandum dan daging sapi. Gandum mengandung Se 0,01-0,02 mg/kg, daging sapi 0,04-0,46 mg/kg, susu murni 0,02- 0,19 mg/kg, dan telur 0,42-1,10 mg/kg. Kentang merupakan sayuran yang mengandung Se cukup tinggi.

Budi Daya Tanaman Obat Rimpang

Di lahan pasang surut, tanaman obat rimpang dibudidayakan pada guludan dalam sistem surjan. Secara teknis, kunci keberhasilan pemanfaatan lahan pasang surut untuk budi daya tanaman obat rimpang adalah pengelolaan lahan dan pengaturan tata air makro dan mikro. Sistem tata air makro mencakup pembuatan saluran primer, sekunder, dan tersier. Pembuatan saluran air harus memperhatikan ekologi lahan, termasuk keberadaan lapisan pirit dan gambut. Pembuatan saluran yang terlalu dalam menyebabkan tanah cepat mengering.

Untuk meningkatkan kesuburan tanah, dianjurkan menggunakan bahan amelioran (kapur dan dolomit), bahan organik (pupuk kandang, kompos), abu sekam, dan pupuk. Tanaman obat rimpang menghendaki tanah yang  gembur, pH normal, dan bebas genangan. Karena itu, kondisi tanah perlu diperbaiki dengan memberikan kapur dan pupuk, membuat saluran cacing, dan menambah lapisan bahan organik/gambut.

Agar hasil rimpang tinggi, takaran pupuk harus sesuai dengan anjuran. Di samping itu, karena tanah umumnya mengandung liat tinggi dan strukturnya padat, takaran pupuk kandang perlu ditingkatkan agar lapisan olah lebih gembur.

Hama dan penyakit perlu mendapat perhatian. Kondisi lahan pasang surut yang panas dan lembap mendorong perkembangan hama dan penyakit, terutama pada jahe. Penyakit layu bakteri akan lebih mudah menyerang tanaman bila kondisi drainase buruk. Oleh karena itu, guludan harus dibuat setinggi mungkin agar tidak tergenang pada saat air pasang.

Peluang Pengembangan

Hasil tanaman obat rimpang di lahan pasang surut lebih rendah dibanding pada lahan mineral. Namun, produktivitas dapat ditingkatkan dengan menerapkan teknologi pengelolaan lahan dan tanaman. Selain itu, dengan kandungan Se yang cukup tinggi, tanaman obat rimpang berpotensi dikembangkan di lahan pasang surut.

Karena produktivitas rendah, budi daya yang hanya berorientasi pada produksi rimpang tidak  menguntungkan. Karena itu, pengembangan tanaman obat rimpang di lahan pasang surut sebaiknya untuk menghasilkan rimpang dengan kandungan Se tinggi sehingga harga jual rimpang meningkat.

Rimpang dengan kandungan Se tinggi bermanfaat sebagai bahan baku minuman segar dan industri kosmetik. Rimpang temulawak merupakan bahan baku utama dalam industri kosmetik, terutama untuk kecantikan kulit. Mineral Se membantu meningkatkan efektivitas vitamin E dan sebagai antioksidan.

Hasil penelitian di beberapa negara Eropa memperlihatkan, penurunan konsentrasi Se dalam darah akan mengganggu kesehatan, khususnya berkaitan dengan penyakit kronis seperti kanker dan jantung koroner.

Kebutuhan Se harian dapat diperoleh dalam bentuk anorganik selenit atau organik selenometionin. Selenometionin banyak ditemukan pada serealia, kacang-kacangan, kedelai dan yeast atau ragi, sedangkan Se dari daging, ikan, bawang putih, bawang merah, brokoli, telur, kentang, ikan tuna, salmon, dan beras merah. Dengan demikian, tanaman obat rimpang berpotensi besar sebagai alternatif sumber Se.

Kebutuhan harian Se untuk laki-laki dewasa adalah 70 µg, perempuan 55 µg, serta ibu hamil dan menyusui 65-75 µg. Kelebihan mengkonsumsi Se akan menimbulkan gangguan penyakit, seperti penyakit hati dan kerusakan saraf. WHO menganjurkan batas maksimum konsumsi Se 400 µg/hari.

#Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor