Sejak ribuan tahun, nenek moyang manusia sudah menggunakan bumbu untuk mengolah makanannya. Fenomena yang amat menarik, semakin tinggi temperatur rata-rata di suatu tempat, semakin banyak ragam bumbu dapur yang digunakan.

Penelitian para ahli pengobatan alami -Naturopath, menunjukan, di India yang terletak di kawasan tropis, rata-rata digunakan 10 macam bumbu untuk masakannya. Sementara di Norwegia yang dekat kutub rata-rata hanya digunakan dua macam bumbu. Berangkat dari kenyataan itu, para ahli pengobatan alami semakin tertarik pada kearifan nenek moyang manusia. Menyadari atau tidak, manusia sudah mengetahui khasiat bumbu untuk mencegah serangan bakteri.

Di kawasan bersuhu panas, bahan makanan cenderung lebih cepat busuk dibanding di kawasan dingin. Terutama daging dan ikan lebih cepat diserang bakteri pembusuk. Bumbu dapur yang lazim dipakai di kawasan tropis, selain berfungsi meningkatkan citarasa makanan, ternyata juga berfungsi mencegah pembusukan makanan. Penelitian Jeniffer Billing dan Paul Sherman dari Universitas Cornel di Ithaca terhadap 4.500 resep masakan dari 36 negara, menyimpulkan, sejak berabad-abad manusia sudah memanfaatkan keampuhan bumbu dapur untuk pencegahan pembusukan maupun obat-obatan.

Untuk menegaskan penelitian Billing dan Sherman, Daljit Arora ahli mikrobiologi dari Universitas Guru Nanak di Amritsar, India melakukan penelitian intensif beberapa macam bumbu dapur yang lazim digunakan di negaranya. Ia membeli bawang putih, cengkeh, jahe, lada hitam, kunir serta cabei hijau dari pasar, dan meneliti khasiat masing-masing bumbu dapur itu di laboratoriumnya. Bumbu dapur itu kemudian diracik menurut resep masakan yang umum di India, lalu diberikan kepada koloni bakteri. Tujuan penelitian Arora, adalah untuk membuktikan, apakah bumbu dapur memang memiliki khasiat pembunuh bakteri.

Arora melakukan penelitian khasiat bumbu dapur, terhadap beberapa macam bakteri yang diketahui menyebabkan penyakit berbahaya. Misalnya bakteri Staphylokokus penyebab peradangan dan keracunan darah, bakteri Entero penyebab radang paru-paru, bakteri Pseudomonas penyebab infeksi luka terbuka, bakteri Shigella penyebab dysentri, bakteri Salmonell penyebab keracunan makanan dan typhus serta jamur Kandida, yang menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh manusia. Hasil penelitian menunjukan, terutama bawang putih dan cengkeh memang memiliki khasiat membunuh bakteri penyakit.

Bawang putih dan cengkeh terbukti memiliki khasiat menghambat pertumbuhan hampir seluruh bakteri yang diteliti. Dalam kondisi seperti saat ini, dimana semakin banyak bakteri kebal antibiotika, penemuan alternatif pengobatan semacam itu amatlah penting. Arora menunjukan, campuran bumbu antara bawang putih dan cengkeh, terbukti mampu membunuh bakteri yang juga sudah kebal antibiotika. Hasil penelitian serupa juga datang dari Eropa. Ahli kimia Damien Dorman dan Stanley Deans dari sekolah tinggi pertanian di Skotlandia, yang melakukan penelitian menggunakan minyak atsiri yang disuling dari tanaman bumbu dapur, membuktikan khasiat anti bakterial sejumlah tanaman bumbu.

Penelitian lainnya, yang dilakukan Gowsala Sivam, peneliti terkemuka dari Universitas Bastyr di AS, juga membuktikan khasiat lainnya dari bawang putih. Ternyata di dalam lambung, bawang putih menunjukan khasiat seperti antibiotika yang menghambat perkembang biakan bakteri Helicobakter penyebab tukak lambung. Hasil penelitian di laboratorium ini cocok dengan hasil penelitian di lapangan, yang menyimpulkan di kawasan dimana banyak dikonsumsi bawang putih, kasus tukak lambungnya relatif sedikit.

Akan tetapi, sejauh ini berbagai hasil penelitian ilmiah tsb, belum berhasil menjelaskan bagaimana mekanisme bumbu dapur dalam mencegah pembusukan makanan. Penyebabnya unsur aktif atau minyak atsiri yang memiliki khasiat, seringkali terdapat dalam kelenjar khusus di bagian dalam tanaman, sehingga tidak dapat diamati proses kerjanya. Selain itu, penelitian di laboratorium biasanya dilakukan menggunakan kultur bakteri pada cawan percobaan, bukannya bakteri pada kondisi sebenarnya. Untuk itulah, beberapa ahli pengobatan alami atau Naturopath mengimbau dilakukannya percobaan menggunakan daging atau ikan, agar prosesnya terjadi seperti di alam.

Menjawab tantangan ini, DR.Kalidas Shetty, pakar bioteknologi makanan dari Universitas Massachussets melakukan percobaan dengan daging cincang dan potongan ikan. Sebagai medium anti bakteri, digunakan bumbu dapur campuran dari Thymian, Oregano dan Rossmarin. Ketiga macam tumbuhan ini, merupakan bumbu dapur yang lazim digunakan di dapur Eropa atau Amerika Serikat. Sasaran penelitian adalah bakteri Listeria monocytogenes yang memicu terjadinya keracunan bahan makanan. Hasil penelitian di laboratorium amat mengagumkan. Tiga macam bumbu dapur tsb, mampu memusnahkan separuh dari populasi bakteri Listeria pada daging cincang.

Berbagai penelitian lainnya menunjukan, masing-masing bumbu dapur memiliki khasiat amat mengagumkan. Beberapa jenis bumbu dapur yang telah diketahui khasiatnya, antara lain, lada hitam ampuh mencegah penyakit diare, Rosmarin, Oregano dan Jahe bersfat antioksidan dan menghambat pertumbuhan tumor, sementara cengkeh dan Thymian menghambat perkembang biakan bakteri pemicu keracunana makanan. Cabai mencegah rasa sakit pada penderita arthitis dan menghambat pertumbuhan tumor. Bawang putih, selain bersifat antibakteri, juga bersifat menurunkan kadar lemak dan ampuh menghambat pertumbuhan tumor. Sementara kunyit bersifat anti oksidan dan menghambat pertumbuhan tumor.

Sumber: www.dwelle.de

loading...