Untuk mencegah dan memberantas cacing di tubuh manusia, memang gampang-gampang susah. Ada yang dengan obat bebas sudah cukup, macam cacing gelang dan keremi. Tapi ada juga yang harus dengan resep dokter, seperti cacing cambuk dan tambang. Kalau mau, bisa pula dengan bahan alami berupa biji atau rimpang tanaman tertentu.

Infeksi cacing usus seperti cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing kait (N. americanus), terutama pada anak-anak, cukup merepotkan. Infeksi cacing gelang umpamanya, bila larvanya sampai ke paru-paru bisa membuat orang yang menjadi induk semangnya menderita batuk. Kalau yang dewasa sampai bermigrasi ke usus buntu, akibatnya bisa bikin radang usus. Jika migrasinya sampai ke hati, abses hatilah yang diderita induk semangnya. Infeksi cacing cambuk akan menyebabkan nyeri di daerah perut, diare, dan terkadang anus menonjol ke luar.

Selama ini obat yang sering digunakan untuk memberantas ketiga cacing di atas adalah pirantel pamoat, piperazin sitrat, dan mebendazol. Dari ketiganya, mebendazol tampaknya paling efektif karena terbukti menghasilkan angka penyembuhan terhadap cacing gelang 93%, cacing cambuk 91%, dan terhadap cacing kait 100%. Namun, mebendazol ternyata ada efek sampingannya. Di antaranya berupa mulas, muntah, diare, dan pusing-pusing.

Selain dengan obat modern, masyarakat juga mengenal bahan alami yang bisa digunakan untuk melawan cacing. Efektivitasnya pun tak kalah dibandingkan dengan obat farmasi. Sayangnya, obat-obat alami tadi secara ilmiah belum terbukti dengan pasti. Kalaupun penelitian telah dilakukan, biasanya masih sangat terbatas dan kurang mendalam.

Untuk memberantas cacing pita (Taenia saginata/T. solium) yang bisa ditularkan lewat daging sapi atau babi yang dimasak kurang sempurna umpamanya, ada resep tradisional yang sejak lama digunakan orang. Di antaranya dengan minum santan kelapa (Cocos nucifera), kalau bisa kelapa hijau, yang kental. Dosisnya, satu gelas sehari dan diminum pada pagi hari sebelum sarapan. Atau, dengan makan isi biji waluh (Cucurbita mochata) sebanyak 500 - 1.000 butir (untuk orang dewasa). Dua jam kemudian minum kastroli untuk urus-urus (menurut kedokteran modern urus-urus tidak dianjurkan karena merusak pencernaan. Red.). Saat urus-urus itu cacing ikut keluar.

Sedangkan untuk mengusir cacing keremi (Oxyuris vermicularis) dari saluran pencernaan, generasi orang tua atau kakek kita menggunakan satu jari akar pepaya gantung yang dimasak dengan satu gelas air hingga tersisa setengah gelas. Air rebusan ini diminum dengan sedikit susu sapi. Dalam sehari penderita minum resep tradisional ini dua kali, masing-masing setengah gelas. Dianjurkan pula, selama minum obat alami ini, penderita tidak makan terlalu kenyang. Sementara pada malam harinya perut penderita ditempeli tumbukan bunga pepaya gantung dan dibalut dengan gurita.

Meskipun proses penyembuhannya belum diketahui dengan pasti, resep-resep tradisional macam itu mungkin masih banyak digunakan hingga sekarang. Asalkan bahannya tersedia. Sementara, penelitian terhadap bahan lain juga mulai dilakukan, meskipun masih terbatas pada penelitian laboratorium atau menggunakan hewan percobaan. Di antara tanaman yang diteliti kemampuannya melawan cacing perut itu adalah biji pinang, buah ceguk, dan rimpang temu giring.


Efektif secara in vitro dan in vivo

Bahan alam macam pinang (Areca catechu, L) oleh masyarakat sering digunakan sebagai obat cacing, di samping juga sebagai obat mencret, kudis, dan teman makan sirih. Bila dikunyah, biji tanaman keluarga palem ini terasa sepat. Namun, dia mempunyai daya pengucup, pengisap, dan penyejuk.

Biji pinang mengandung senyawa tanin dan beberapa alkaloid seperti guvasina, guvakolina, arekaina, dam arekolina. Arekolina ditemukan dalam jumlah terbanyak dan inilah yang diduga berfungsi sebagai antihelmintik (anticacing).

Penelitian terhadap khasiat antihelmintik biji pinang ini pernah dilakukan di laboratorium secara in vitro (dalam media buatan) terhadap cacing kait anjing. Sebagai pembanding digunakan obat modern pirantel pamoat dan garam faal. Dosis yang digunakan 15 mg serbuk biji pinang kering dalam 25 cc air suling dan serbuk pirantel pamoat 1 mg dalam 1.000 cc air suling. Hasilnya, setelah direndam selama 1 jam ada 18 cacing mati dalam larutan biji pinang, sedangkan dalam pirantel pamoat belum ada yang mati. Pada perendaman 4 jam dalam larutan biji pinang, jumlah cacing yang mati hampir sama dengan yang dalam larutan pirantel pamoat. Cacing mati semua setelah perendaman 10 jam, baik dalam larutan biji pinang maupun pirantel pamoat. Sementara, dalam kelompok kontrol (dengan menggunakan garam faal), cacing mati hanya 3,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa biji pinang secara in vitro terbukti memiliki efek antihelmintik terhadap cacing kait anjing.

Penelitian lain, secara in vivo (dalam tubuh hidup), mencoba membandingkan khasiat biji pinang dengan mebendazol. Penelitian menggunakan anjing yang diinfeksi larva cacing kait. Hasilnya, meskipun tidak seefektif mebendazol, biji pinang dapat menurunkan jumlah telur cacing sampai sebesar 74,3%. Sedangkan mebendazol dapat menurunkan hingga 83%. Hal ini membuktikan bahwa biji pinang dapat digunakan sebagai obat cacing tradisional untuk infeksi cacing kait pada anjing. Sayangnya, penelitian belum sampai pada tahap uji klinis pada manusia. Namun, potensi ke arah sana sudah tampak dengan adanya hasil positif dari penelitian secara in vitro dan in vivo tadi.


Cacing kait disapu bersih

Buah wudani (Quasqualis indica), yang oleh orang Jawa disebut buah ceguk, merupakan alternatif bahan alami yang juga sering digunakan untuk melawan cacing. Bahkan, meskipun kurang populer, akar atau daunnya pun juga disebut-sebut sebagai obat cacing.

Suatu pengamatan menggunakan buah wudani untuk mengobati infeksi nematoda usus pada anak-anak SD. Dosis yang digunakan 5 ml ekstrak buah, ini setara dengan 750 mg bobot basah, yang diberikan dalam 1, 2, dan 3 hari berturut-turut. Sebagai pembanding, digunakan mebendazol dosis 200 mg.

Hasilnya, buah wudani menghasilkan persentase penyembuhan sebesar 65%, sedangkan mebendazol sedikit lebih tinggi, 79%. Ini penyembuhan terhadap cacing gelang. Terhadap infeksi cacing cambuk, buah wudani ternyata jauh lebih efektif karena menunjukkan persentase penyembuhan sebesar 90,7%. Ini sama dengan hasil yang diperlihatkan oleh mebendazol. Pada infeksi cacing kait buah ceguk dapat memperlihatkan efektivitasnya, bahkan di sini berdaya sembuh 100%, sama dengan yang diperlihatkan oleh mebendazol.

Untuk menggunakannya sebagai obat, diperlukan 4 buah wudani, gula secukupnya, dan air 2 cangkir. Setelah dicuci, buah ceguk ditumbuk halus kemudian ditambah gula dan air. Ramuan dimasak sampai diperoleh satu cangkir. Selanjutnya ramuan diminumkan sekali sehari, pada pagi hari sebelum makan. Pengobatan ini dilakukan sampai 3 hari.


Temu giring pengusir nematoda

Selain biji pinang dan buah ceguk, bahan alami lain yang acap pula dipakai sebagai alternatif melawan cacing adalah rimpang temu giring (Curcuma heyneana). Tanaman ini juga digunakan sebagai obat cuci darah, penyakit kulit, dan gangguan saluran napas, serta mempunyai khasiat mendinginkan.

Meskipun tak seefektif buah ceguk, melalui berbagai percobaan temu giring dapat dipakai sebagai obat cacing nematoda usus yang ditularkan lewat tanah. Dosis yang biasa digunakan adalah ekstrak rimpang 5 ml, setara dengan 1.250 mg temu giring basah.

Untuk itu, diperlukan 1 jari temu giring serta air setengah cangkir. Temu giring dicuci bersih, diparut, lalu disedu dengan air. Seduhan diperas dan disaring dengan kain bersih ke dalam cangkir kemudian ditambah garam dan diaduk sampai garam larut. Seduhan inilah yang diminum sekali sehari, dianjurkan sampai 3 hari. Sama dengan ramuan daun ceguk, ramuan temu giring ini sebaiknya diminum pada pagi hari sebelum sarapan. Jika dianggap perlu, takaran dapat ditingkatkan dua kali sehari.

Sebagai obat cacing alami tak ada salahnya dicoba bahan-bahan di atas. Apalagi bahan alami umumnya relatif tak menimbulkan efek sampingan. (K.W. Soegito)
 
#dari: intisari
loading...