Mimba  (Azadirachta indica)

Pohon, tinggi 8-15 m, bunga banci. Batang simpodial, kulit batang mengandung gum, pahit. Daun menyirip gasal berpasangan. Anak daun dengan helaian berbentuk memanjang lanset bengkok, panjang 3-10 cm, lebar 0,5-3,5 cm, pangkal runcing tidak simetri, ujung runcing sampai mendekati meruncing, gundul tepi daun bergerigi kasar, remasan berasa pahit, warna hijau muda. Bunga memiliki susunan malai, terletak di ketiak daun paling ujung, 5-30 cm, gundul atau berambut halus pada pangkal tangkai karangan, tangkai bunga 1-2 mm. Kelopak kekuningan, bersilia, rata rata 1 mm. Mahkota putih kekuningan, bersilia, panjang 5-7 mm. Benang sari membentuk tabung benang sari, sebelah luar gundul atau berambut pendek halus, sebelah dalam berambut rapat. Putik memiliki panjang rata rata 3 mm, gundul. Buah bulat, hijau kekuningan 1,5-2 cm. Asal usul tidak jelas. Waktu berbunga Maret - Desember. Tumbuh di daerah tropis, pada dataran rendah. Tanaman ini tumbuh di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Madura pada ketinggian sampai dengan 300 m dpl, tumbuh di tempat kering berkala, sering ditemukan di tepi jalan atau di hutan terang.


Dibandingkan dengan herba jenis lain, mimba relatif kurang populer. Padahal, tanaman yang memiliki ciri daun pahit ini memiliki beragam manfaat, dari pereda diare hingga pencegah infeksi pada luka luar.

Mimba secara luas dikenal sebagai tanaman perdu. Sepintas memang tak berbeda dengan tanaman pagar lainnya. Tak heran, banyak orang kurang mengenal apalagi mau memanfaatkannya.

Namun, tidak demikian dengan Ratna. Pensiunan pegawai negeri ini sudah hampir dua tahun mengenal mimba dengan baik. Di pekarangan rumahnya di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, ia sengaja menanam beberapa pohon mimba.

Tanaman mimba berbunga "banci". Batangnya simpodial, dengan kulit mengandung gum dan terasa pahit. Daunnya menyirip gasal berpasangan.

Anak daun memiliki helaian berbentuk memanjang dengan ukuran 3-10 cm dan lebar 0,5-3,5 cm. Pangkalnya runcing asimetris, di bagian ujung runcing, tepi daun bergerigi kasar, remasan berasa pahit, warnanya hijau muda.

Pengendali hama

"Biasanya saya memanfaatkan mimba untuk meredakan diare dan mengobati luka luar seperti memar atau tergores. Ramuan untuk diare, tujuh lembar daun mimba direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa kurang lebih satu gelas. Setelah dingin, saring dan minum airnya. Hasilnya cukup efektif," paparnya.

Untuk membuat ramuan antiseptik, caranya cukup mudah, yakni dengan merebus daun mimba secukupnya. Kemudian Setelah dingin disaring. Airnya dapat digunakan untuk mencuci luka luar.

Dijelaskan Setyoko dari Sekarwangi Herba Store, mimba dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional memiliki sifat berasa pahit, netral, potensial untuk penyakit diabetes, sebagai antidiare, serta merangsang dan mengaktifkan kelenjar-kelenjar. Selain daunnya, biji, kulit kayu, dan kayu mimba juga bisa digunakan, meski untuk ramuan yang lebih terbatas.

Ia menambahkan, tanaman ini sebetulnya menghasilkan buah yang enak. Daunnya juga bisa disantap sebagai lalapan atau sayur.

Sayangnya, orang belum melirik tanaman ini. Padahal, pohon ini menyimpan beragam manfaat.

Sebelumnya Setyoko mengaku sudah mengetahui manfaatnya sebagai pengendali hama maupun obat berbagai jenis penyakit. Bagian yang dimanfaatkan adalah daun dan bijinya.

KB dan diabetes

Selain sebagai insektisida, minyak biji mimba sudah sejak lama digunakan orang untuk kelancaran program Keluarga Berencana (KB). Dari hasil penelitian diketahui, minyak mimba tidak memberikan efek samping sebagai alat kontrasepsi. Dalam urusan KB, mimba bertugas membunuh sperma, bukan berfungsi laksana hormon.

Bagian daunnya juga sering dimanfaatkan sebagai obat alami. Salah satu khasiat daunnya, yaitu sebagai penurun kadar gula darah. Pembuktian hal ini sudah dilakukan pada kelinci yang terserang diabetes dan diberi induksi larutan aloksan. Efek penurunan gula darah terlihat jelas pada kelinci yang terserang diabetes dibandingkan dengan kelinci normal.

Aktivitas penurun gula darah dengan ekstrak daun mimba selama dua minggu, sebelum pemberian aloksan secara bertahap, dapat mencegah kenaikan gula darah.

Hasil penelitian lain menyebutkan, ekstrak daun mimba tidak memengaruhi penggunaan glukosa pada jaringan atau glikogen pada hati. Namun, ekstrak itu dapat meningkatkan penggunaan glukosa pada jaringan dan menghambat pengurangan glikogen yang dirangsang oleh epinefrin.

Ekstrak daun

Berdasarkan penelitian, aktivitas hipoglikemik ekstrak daun mimba setingkat dengan glibenklamid. Glibenklamid merupakan bahan aktif yang berfungsi sebagai antidiabetes.

Bahan aktif ini banyak ditemukan dalam obat-obatan penurun kadar gula darah yang beredar di pasaran. Berdasarkan data itu, ekstrak daun mimba bermanfaat untuk mengontrol gula darah dan mencegah atau menunda terjadinya diabetes melitus.

Penelitian lain mengungkapkan, serbuk daun mimba bisa dimanfaatkan untuk membunuh jentik nyamuk. Diperoleh kesimpulan bahwa kematian larva pada berbagai tingkat konsentrasi ekstrak daun mimba berbeda.

Untuk membunuh 50 persen larva dalam waktu 24 jam diperlukan konsentrasi ekstrak daun mimba 74,6 mg per 100 ml. Pemberian 25 mg ekstrak daun mimba dalam 100 ml air cukup efektif membunuh larva sebanyak 90 persen, yang berhasil menjadi nyamuk hanya 8 persen.

Setyoko menambahkan, selain daunnya dimanfaatkan dalam bentuk ekstrak, mimba juga telah diproduksi dalam bentuk serbuk dalam kapsul.

Bukan mindi

Diingkatkan Setyoko, di pasaran mimba sering disalahartikan sebagai mindi, terutama ketika masih berupa bakalan pohon. Meski memiliki banyak kesamaan, mimba dan mindi bisa dibedakan dari bentuk daunnya. Daun mindi termasuk daun majemuk bertingkat, sehingga mempunyai cabang-cabang, sedangkan daun mimba tidak. Bentuk daun mindi oval dengan gerigi yang tidak jelas.

Selain daun, bentuk biji juga bisa dijadikan sebagai pembeda. Biji mindi berbentuk lonjong dan bergerigi seperti belimbing, sedangkan biji mimba tidak. Namun, keduanya memiliki kandungan yang sama, yakni zat azagirakhtin. Yang membedakan, kandungan azagirakhtin dalam biji mimba jauh lebih banyak dibandingkan dengan biji mindi.

Meramu Wonderful Tree

Ahli botani H. Schmutterer menyebut mimba sebagai wonderful tree. Ini tak lepas dari banyak peran yang disandangnya. Daunnya yang pahit bermanfaat untuk meredakan beragam keluhan, seperti berikut ini:

- Diare
Cuci tujuh lembar daun mimba yang telah dikeringkan, rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa kurang lebih satu gelas. Setelah dingin, saring dan airnya diminum. Agar tidak terlalu pahit, dapat ditambahkan madu secukupnya.

- Penurun gula darah
Cuci segenggam daun mimba yang telah dikeringkan, lalu rebus dengan dua gelas air hingga tersisa satu gelas. Saring dan minum airnya setelah dingin.

- Pencuci luka (antiseptik)
Bersihkan segenggam daun mimba. Rebus hingga mendidih, kemudian saring dan dinginkan. Air rebusan kemudian digunakan untuk mencuci luka baru, luka memar, dan luka gores.

- Masuk angin
Cuci segenggam daun mimba yang telah dikeringkan. Rebus dengan dua gelas air dan satu rimpang jahe hingga tinggal separuhnya. Saring dan minum airnya setelah dingin.

- Membunuh jentik nyamuk
Ambil tiga sendok makan serbuk daun mimba, kemudian larutkan dalam bak mandi (ukuran 0,5 meter kali 0,5 meter dengan kedalaman maksimal satu meter). Sebaiknya pemberian serbuk dilakukan di malam hari, ketika air bak mandi tidak digunakan. Ramuan ini berfungsi seperti abate.

# dari berbagai sumber

loading...