Emosi dalam bahasa Latin memiliki arti: “move out” (bergerak keluar). Emosi (emotion) merupakan gabungan kata e untuk energi dan motion untuk pergerakan, sehingga emosi menggerakkan kita untuk bertindak agar dapat bertahan dari ancaman, mendapat kedekatan sosial, dan prokreasi (Gentry, 2007).

Emosi adalah suatu kompleks keadaan dari kewaspadaan yang meliputi sensasi (di bagian dalam) & ekspresi (di bagian luar), yang merupakan kekuatan untuk memotivasi individu dalam bertindak (Atwater, 1983).

Emosi merupakan pola yang kompleks dari perubahan yang terjadi pada bangkitan/ getaran fisiologis, perasaan subjektif, proses kognitif, dan reaksi perilaku (Atwater & Duffy, 2005). Emosi memang sulit didefinisikan, akan tetapi dapat diungkap bahwa emosi selalu terkait dengan perasaan (feeling), perilaku (behaviour), perubahan fisiologis (physiological change), dan kognisi. Fungsi utama emosi adalah untuk memberi informasi kepada individu mengenai interaksinya dengan dunia luar (Strongman, 2006).

Gentry menjelaskan bahwa Alexithymia merupakan istilah psikiatris untuk seseorang yang mengalami kekurangan dalam emosinya, yaitu: sulit membedakan perasaan yang dimilikinya, merasa sulit berinteraksi dengan orang lain, kewaspadaan emosional yang kurang, kurang dapat merasa senang, sulit membedakan emosi dengan getaran tubuh, secara berlebihan menggunakan logika dalam pengambilan keputusan, kurang dapat bersimpati dengan orang lain, menunjukkan kebingungan ketika menghadapi emosi orang lain, tidak tergugah oleh seni, karya sastra, atau musik, hanya memiliki sedikit memori emosional (misal: memori masa kanak-kanak).


KOMPONEN EMOSI

Atwater (1983), mengungkap komponen dalam emosi menjadi: perubahan fisiologis, termasuk sensasi tubuh (fisik); kewaspadaan subjektif & interpretasi penuh makna dari suatu sensasi; kemungkinan diekspresikannya kewaspadaan tersebut dalam perilaku yang overt (tampak).

Dalam perkembangannya (Atwater & Duffy, 2005), komponen emosi diungkap dalam 4 hal yang saling terkait, yaitu:

1. Bangkitan/ getaran fisilogis
Emosi melibatkan kerja otak, sistem saraf, dan hormon, sehingga ketika individu dibangkitkan emosinya, maka secara fisiologis juga terbangkit. Terbangkitnya emosi membutuhkan energi dalam tubuh dan bahkan menurunkan ketahanan tubuh terhadap penyakit.

2. Perasaan subjektif
Emosi melibatkan kewaspadaan subjektif / perasaan yang memiliki elemen menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak suka.

3. Proses kognitif
Emosi juga melibatkan proses kognitif, seperti: memori, persepsi, ekspetansi, dan interpretasi. Satu peristiwa -> beda makna bagi beda individu.

4. Reaksi perilaku
Reaksi perilaku yang terlibat dalam emosi dapat berbentuk ekpresif dan instrumental. Contoh reaksi ekpresif: ekspresi wajah, gesture, nada suara. Contoh reaksi instrumental : menangis karena distres, melarikan diri dari masalah.

DAFTAR PUSTAKA
Atwater, Easwood (1984) Psychology of Adjustment: 2nd edt. Engelwood Cliff: Prentice-Hall Inc.
Gentry, W.Doyle. (2007) Anger Management for Dummies. Indianapolis: Wiley Publ.Inc (e-book).
Hahn, D.B & Payne, W.A (2003) Focus on Health: 6th edt, New York: Mc.Graw Hill.
Strongman, KT (2003) The Psychology of Emotion. West Sussex England: John Wiley & Sons, Ltd.
Strongman, KT (2006) Applying Psychology to Everyday Life. West Sussex England: John Wiley & Sons, Ltd.