Pendahuluan

Keanekaragaman hayati Indonesia adalah sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan bangsa. Hal ini bukan karena posisinya sebagai salah satu negara terkaya  di dunia dalam keanekaragaman hayati, tetapi karena keterkaitannya yang erat dengan kekayaan keanekaragaman budaya lokal dan pengetahuan tradisional yang dimiliki bangsa ini.1 

Sayangnya banyak kekayaan pengetahuan tradisional itu telah hilang, sejalan dengan terkikisnya budaya tradisional kita. Erosi pengetahuan tradisional terjadi karena kurangnya kesadaran akan pentingnya aset karya intelektual, sehingga kebanyakan informasi pengetahuan tradisional belum terdokumentasi dengan baik. Jadi lemahnya dokumentasi dan kemajuan di bidang iptek yang sangat pesat dikhawatirkan secara perlahan tapi pasti akan mendorong tergusurnya pengetahuan tradisional, dan pada akhirnya akan mempercepat kepunahannya.2

Keterkaitan antara keanekaragaman hayati dengan sistem-sistem lokal yang hidup di masyarakat, bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional dalam memenuhi kebutuhan akan pangan, sandang, papan, obat- obatan dan spiritual. Mereka umumnya memiliki sistem pengetahuan dan pengelolaan sumberdaya lokal yang diwariskan dan ditumbuhkembangkan terus menerus secara turun temurun.3

Suku Dayak di Kalimantan Timur sampai saat ini masih tetap mempertahankan tradisi dengan memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya untuk pengobatan ataupun perawatan kesehatan. Walaupun sebenarnya jangkauan pelayanan kesehatan seperti Puskesmas semakin lama semakin sampai ke pedalaman akan tetapi dalam kenyataannya pelayanan kesehatan belum merata, sehingga cara-cara pengobatan tradisional masih mendapat tempat di kalangan masyarakat. Menyadari bahwa pembangunan kesehatan belum terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, maka pemerintah mengambil kebijaksanaan agar upaya pengobatan tradisional perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya, dibina dan dikembangkan supaya lebih berdaya guna dan berhasil guna. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengetahuan tradisional masyarakat Dayak Tunjung dalam pemanfaatan dan pengelolaan jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitarnya, khususnya tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional.

Bahan dan Cara Kerja

Penelitian ini menggunakan metode survei eksploratif, dan teknik pengumpulan data dengan wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Sebagai nara sumber yaitu para dukun kampung, pemimpin adat dan masyarakat pengguna jenis-jenis tumbuhan sebagai bahan obat tradisional. Jenis-jenis tumbuhan yang diketahui mempunyai manfaat untuk bahan pengobatan tradisional diambil contohnya dan dibuat herbariumnya untuk kemudian diidentifikasi nama ilmiahnya. Data mengenai cara-cara penggunaan dan pengolahan serta kegunaan dari masing-masing tumbuhan obat tersebut juga dicatat.

Lokasi Penelitian dipilih dua desa yaitu Desa Lamin Telihan dan Lamin Pulut terletak di bagian Utara kawasan penyangga Danau Semayang dan Danau Melintang. Untuk sampai ke dua desa tersebut, dari ibu kota propinsi Samarinda terlebih dahulu menuju kota Bangun melalui jalan darat selama 3,5 jam atau dengan kapal air menyusuri sungai Mahakam ke arah hulu ditempuh selama 8 jam. Dari kota Bangun perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu motor (ces) selama 3 jam melewati Sungai Mahakam, Sungai Pela, Danau Semayang, Sungai Kahala dan Sungai Berambai. Jarak dari desa Lamin Telihan dan desa Lamin Pulut ke ibu kota Kecamatan Kenohan (Kahala) masing-masing berkisar 24 dan 20 km dan hanya dapat ditempuh melalui jalan air. Mata pencaharian penduduk adalah bertani dengan sistem perladangan berpindah. Tanaman utama yang ditanam oleh masyarakat Dayak Tunjung di Kalimantan Timur adalah padi dan nenas.

Hasil dan Pembahasan
1. Pandangan Masyarakat Dayak Tunjung Tentang Kesehatan Masyarakat yang bermukim di pedalaman
 
Kalimantan Timur seperti Suku Dayak Tunjung merupakan masyarakat yang agak terbelakang dalam proses perkembangan di bidang kesehatan. Kondisi seperti ini disebabkan adanya keterbatasan komunikasi dengan masyarakat yang lebih maju serta sulitnya pelayanan pemerintah sebagai akibat dari segi transportasi yang terbatas.

Pengobatan tradisional merupakan upaya penyembuhan terhadap penyakit yang dilakukan berdasarkan kepercayaan turun-temurun, baik dengan menggunakan bahan alami yang tersedia dan diyakini mempunyai khasiat dapat menyembuhkan maupun melalui perantara seseorang (dukun) yang diakui mempunyai kekuatan tertentu di dalam dirinya untuk menghilangkan penyakit walaupun pengobatan modern telah dikenal yaitu adanya puskesmas pembantu di kedua desa tersebut, namun hingga sekarang pengobatan tradisional masih tetap dipertahankan.

Berobat ke dukun atau berobat sendiri dengan menggunakan berbagai jenis tumbuhan yang ada di sekitarnya dikenal sebagai pengobatan tradisional yang sesuai dengan tradisi masyarakat Dayak Tunjung yang masih percaya oleh roh-roh halus. Sehubungan dengan kepercayaan tersebut, mereka melakukan doa, persembahan dan upacara ritual serta mematuhi segala larangan agar mereka memperoleh keselamatan dan kesehatan dalam kehidupannya. Apabila ada seseorang di antaranya ada yang sakit, kemudian mereka mencari sebab musabab terjadinya sakit. Selanjutnya mereka akan melakukan upacara ritual yang disebut dengan “Belian”. Dan mereka yakin bahwa roh jahatlah yang menyebabkan seseorang itu sakit. Di sini dukun mempunyai peran yang sangat penting karena mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah yang terjadi.4

2. Jenis-jenis Tumbuhan yang Dimanfaatkan Sebagai Bahan Obat
Dari hasil penelitian yang dilakukan tercatat 47 jenis tumbuhan yang terdiri dari 27 suku dan 46 marga (Tabel 1). Jenis-jenis tumbuhan tersebut didominasi oleh berturut-turut dimulai dari suku Euphorbiaceae (8 jenis), Rubiaceae (5 jenis), Verbenaceae (4jenis), Fabaceae (3 jenis), dan suku-suku lain masing-masing 2 jenis dan 1 jenis (Grafik 1).

Tabel 1. Daftar Tumbuhan Obat Yang Dimanfaatkan Oleh Suku Dayak Tunjung

 





Jika dilihat dari bagian tumbuhan yang dimanfaatkan untuk bahan pengobatan tradisional, ternyata bagian daun adalah yang terbanyak. Hal ini dapat dimengerti bahwa bagian daun merupakan bagian tanaman yang paling mudah didapat dibandingkan bagian lain dari tanaman. Dilihat dari segi konservasi, hal ini juga tidak mengkhawatirkan. Selanjutnya disusul oleh bagian akar, kulit batang, buah dan biji, bunga, umbi dan seluruh bagian tanaman (Grafik 2).

Di bawah ini akan diuraikan mengenai cara penggunaan, kegunaan dan juga kandungan kimianya dari beberapa jenis tumbuhan obat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ageratum conyzoides
Ageratum conyzoides (nama dari bahasa Dayak: rumput bulu) oleh masyarakat Dayak Tunjung, seduhan akarnya dan daunnya yang diremas-remas kemudian dibalurkan di sekitar pusar dapat sebagai obat sakit perut. Sedangkan oleh masyarakat Sunda di Jawa Barat, seluruh bagian tanaman ditumbuk dan dicampur dengan sedikit kapur sirih dapat sebagai obat luka dan bisul.5 Kandungan kimia dari tanaman ini adalah asam amino, organacid, minyak terbang coumarin, ageratochromene, friedelin, beta-sitosterol, stigmasterol, potassium chlorida.6

Herba Ageratum conyzoides juga berkhasiat untuk pengobatan demam, malaria, sakit tenggorokan, radang paru (pneumonia), radang telinga tengah (otitis media), perdarahan, seperti perdarahan rahim, luka berdarah dan mimisan, diare, disentri mulas (kolik), muntah, perut kembung, keseleo, pegal linu, mencegah kehamilan, badan lelah sehabis bekerja berat, produksi air seni sedikit, tumor rahim dan perawatan rambut.7

2. Aleurites mollucana
Aleurites mollucana (nama Indonesia: kemiri), oleh masyarakat Dayak digunakan sebagai penyubur rambut dengan membakar buahnya kemudian dioleskan ke rambut. Daging biji, daun dan akarnya mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, disamping itu daging bijinya juga mengandung minyak lemak.8

3. Areca catechu
Areca catechu (nama Indonesia: pinang), oleh masyarakat Dayak Tunjung air buahnya digunakan untuk mengobati hidung berdarah atau mimisan. Sedangkan bijinya dimanfaatkan untuk mengobati cacingan, taeniasis, fasciolopsiasis, perut kembung akibat gangguan pencernaan, bengkak karena retensi cairan (edema), rasa penuh di dada, luka, batuk berdahak, diare, terlambat haid, keputihan, beri-beri, edema, malaria, memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma. Sedangkan daunnya dimanfaatkan untuk mengobati kurang nafsu makan dan sakit pinggang (lumbago). Dan bagian sabutnya juga dimanfaatkan untuk mengobati gangguan pencernaan (dyspepsia), sembelit, edema dan beri- beri. Cara pemakaiannya adalah sebagai berikut: yang untuk diminum yaitu 5-10 g biji kering atau 5-10 g sabut, direbus dan airnya diminum. Dan untuk pemakaian luar dengan cara biji secukupnya direbus, airnya untuk mencuci luka dan infeksi kulit lainnya.

Biji pinang mengandung 0,3-0,6% alkaloid, seperti arekolin (C8 H13 NO2), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga mengandung red tanin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid, dibandingkan biji yang telah diproses. Arekolin merupakan obat cacing dan berkhasiat sebagai penenang.9

4. Blumea balsamifera
Blumea balsamifera (nama Indonesia: sembung), seduhan akarnya dimanfaatkan sebagai obat demam dan batuk, daun mudanya sebagai obat pilek dengan cara dimasukkan ke dalam lubang hidung. Tumbuhan ini berasal dari Nepal hidup di tempat terbuka sampai agak terlindung di tepi sungai dan tanah pertanian. Dapat tumbuh di tanah berpasir atau tanah yang agak basah pada ketinggian sampai 2.200 m dpl. Selanjutnya air rebusan daun sembung juga dapat menambah nafsu makan, menghilangkan bau keringat dan sebagai obat tekanan darah tinggi. Sembung bersifat pedas, sedikit pahit, hangat dan baunya seperti rempah. Berkhasiat sebagai antibakteri, melancarkan peredaran darah, menghilangkan bekuan darah dan pembengkakan, peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), peluruh dahak (ekspektoran), astringen, tonikum dan obat batuk.

Tumbuhan ini mengandung minyak asiri (ngai kamfer), zat bergetah (kapur barus) dan borneol, yang juga mengandung sineol, limone, asam palmitin dan myrristin, alkohol sesquiterpen, diameter khlorasetofenon, tanin, pirokatechin dan glikosida. Sedangkan ekstrak borneol didapat dari daun segar.10, 11 Daunnya dapat dimanfaatkan untuk mengatasi beberapa penyakit seperti rematik sendi, persendian sakit setelah melahirkan, nyeri haid, datang haid tidak teratur, influenza, demam, sesak napas (asma), batuk, bronkitis, perut kembung, diare, perut mulas, sariawan, nyeri dada akibat penyempitan pembuluh darah koroner (angina pektoris), dan, kencing manis (diabetes melitus). Sedangkan, akar mudanya berkhasiat untuk mengatasi sakit perut, diare, cacingan dan, rematik sendi, darah haid berlebihan (menoragia), dan kurang nafsu makan. Untuk merebus daun sembung harus dalam panci tertutup, supaya minyak asirinya tidak menguap.12

5. Eurycoma longifolia
Eurycoma longifolia (nama dari bahasa Dayak: merule) termasuk suku Simaroubaceae, oleh masyarakat Dayak Tunjung akarnya direbus dan airnya diminum digunakan sebagai obat malaria. Tumbuhan ini menyukai tanah yang asam dan berpasir, hidup di hutan primer atau sekunder, jarang dijumpai di daerah pegunungan. Sebetulnya Eurycoma longifolia sudah lama dimanfaatkan orang sebagai ramuan pelbagai obat tradisional. Peningkatan pemakaiannya secara mencolok terjadi sesudah terungkap manfaatnya sebagai obat kuat lelaki. Tumbuhan ini dikategorikan dalam status kelangkaan terkikis.13

6. Imperata cylindrica
Imperata cylindrica (nama dari bahasa Dayak: halalang) akarnya digunakan untuk mengobati pendarahan dan sakit gigi. Rimpangnya mengandung asam kersik, damar dan logam alkali. Hasil penelitian di Jepang menunjukkan bahwa pada rimpangnya terdapat senyawa terpenoid iso-arborinol atau ß-arborinol. Secara rinci kandungan bahan pada batang dan rimpang adalah manitol, glukosa, sakarosa, asam malat, asam sitrat, coixol, silindrin, fernenol, simiarenol dan anemonin.14

7. Jasminum pubescens
Jasminum pubescens (nama dari bahasa Dayak: bopot), daun dan akarnya dimanfaatkan sebagai obat muntaber. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli Indonesia dengan nama umum gambir hutan, berkerabat dengan melati dan dikenal juga dengan beberapa nama daerah seperti poncosuda (Jawa), malati areuy (Sunda), wewankean (Madura), gabitabru (Halmahera). Disamping khasiatnya sebagai obat muntaber, digunakan juga untuk ramuan bersama dengan daun meniran, daun sembung dan temulawak untuk mengobati sakit kuning. Selanjutnya disebut bahwa gambir hutan mengandung banyak tanin dalam daun maupun batangnya. Disamping itu terdapat pula zat pahit dan sedikit minyak atsiri. Bunganya banyak mengandung senyawa-senyawa minyak atsiri yang terdiri dari linalool, bensil asetat dan suatu senyawa keton yang disebut jasmon. Bunga tersebut berkhasiat sebagai obat penurun panas, sakit perut, radang kandung kemih, demam, batu ginjal dan radang usus.8

8. Lantana camara
Lantana camara (nama dari bahasa Dayak: singkir) digunakan sebagai obat pilek dengan cara daun mudanya diremas-remas kemudian dimasukkan ke lubang hidung. Akar tumbuhan ini juga digunakan sebagai obat influenza, rematik, keputihan, TBC kelenjar, dan daunnya digunakan untuk mengobati sakit kulit, bisul, bengkak, gatal- gatal, panas, rematik dan memar. Sedangkan bunganya digunakan untuk mengobati TBC dengan batuk darah dan asma. Lantana camara mengandung Lantadene A, Lantadene B, Lantanolic acid, Lantic acid, humulene, Betha caryophyllene, gamma-terpidine, alpha-pinere dan p-cymene6. Daunnya yang diremas-remas dengan kapur sirih kemudian dibalurkan di sekitar perut dapat memperlancar buang air besar.15

9. Leucaena leucocephala
Leucaena leucocephala (nama Indonesia: petai cina), oleh masyarakat Dayak Tunjung bijinya dimanfaatkan untuk mengobati cacingan. Selain sebagai obat cacing, bijinya juga berkhasiat sebagai peluruh air seni8. Bijinya juga dapat sebagai peluruh haid, mengandung mimosin, leukanin, protein dan leukanol sedangkan daunnya mengandung protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1 dan C6.

10. Phyllanthus niruri
Phyllanthus niruri (nama dari bahasa Dayak: rumput pacar), digunakan sebagai obat kudis dan luka dengan cara akarnya direbus dan airnya diminum sedangkan daunnya dibuat pupur yang dioleskan ke bagian kulit yang sakit. Tumbuhan ini mengandung filatin, hipofilatin, kalium, damar dan tanin. Filatin dan hipofilatin berkhasiat melindungi sel hati dari zat toksik (hepatoprotektor). Bagian yang digunakan adalah herba segar atau yang telah dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Simplisia kering dapat disimpan dan digunakan jika diperlukan. Herba digunakan untuk pengobatan: bengkak, busung perut (asites), protein dalam air seni akibat radang ginjal, infeksi dan batu saluran kencing, kencing nanah, menambah nafsu makan pada anak yang berat badannya kurang, diare, radang usus (enteritis), radang mata merah (konjungtivitas), radang hati (hepatitis), sakit kuning (jaundice), radang selaput lendir mulut (sariawan), digigit anjing gila dan rabun senja12.

11. Physalis minima
Physalis minima (nama dari bahasa Dayak: sengkepok) termasuk famili Solanaceae dan merupakan tanaman yang banyak tumbuh liar di kebun atau tanah kosong yang kondisinya sedikit basah. Masyarakat Dayak Tunjung di Kalimantan menggunakan akarnya untuk mengobati penyakit cacar. Seluruh bagian tanaman dapat digunakan untuk mengobati kanker. Buah Physalis minima berkhasiat sebagai obat gusi berdarah, obal bisul, dan juga obat mulas, sedangkan daunnya berkhasiat sebagai obat bisul. Kandungan kimia yang terdapat dalam Physalis minima, diantaranya saponin, flavonoid, polifenol, asam klorogenat, zat gula, elaic acid dan fisalin. Tanaman ciplukan bersifat analgetik (penghilang nyeri), detoksikan (penetral racun) serta pengaktif fungsi kelenjer-kelenjer tubuh. Saponin yang terkandung dalam ciplukan memberikan rasa pahit dan berkhasiat sebagai anti tumor dan menghambat pertumbuhan kanker, terutama kanker usus besar. Flavonoid dan polifenol berkhasiat sebagai antioksidan.16

12. Pluchea indica
Pluchea indica (nama dari bahasa Dayak: luntas), daunnya direbus dan airnya diminum dimanfaatkan sebagai obat keputihan oleh masyarakat Dayak Tunjung di Kalimantan. Tumbuhan ini ditemukan di seluruh Asia Tenggara dan di Cina Selatan. Di Indonesia tanaman ini tumbuh di tempat yang terkena sinar matahari panas dan tumbuh pada ketinggian 800m di atas permukaan laut. Bagian tanaman yang dipakai adalah seIuruh tanaman, baik dalam keadaan segar ataupun dikeringkan. Luntas mengandung amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), lemak, kalsium, fosfor, besi, Vitamin A dan C. Tanaman ini bermanfaat menurunkan suhu tubuh untuk mendinginkan tubuh sehingga banyak keringat yang keluar dan suhu tubuh menjadi turun. Daun berguna untuk menambah nafsu makan (Stomakik) dan membantu pencernaan. Kegunaan yang lain adalah untuk mengobati kencing darah (bijinya), gangguan pencernaan pada anak-anak dan menambah nafsu makan, menurunkan panas, peluruh keringat (daunnya), mencret darah, TBC kelenjar leher (Cervical tuberculous lymphadenitis), nyeri pada rheumatik, nyeri haid, sakit perut, nyeri pinggang (lumbago) dan pinggul, menghilangkan bau badan, pegal linu.17

13. Tamarindus indica
Tamarindus indica (nama Indonesia: asam jawa) oleh masyarakat Dayak Tunjung buahnya dicampur dengan rimpang kunyit, bawang putih dan batang tebu direbus, kemudian air rebusannya diminum berguna untuk membersihkan darah kotor setelah mengalami proses melahirkan. Buah yang masak mengandung volatile, terpenes (limonene, geraniol), phenylpropanoids (safrole, cinnamic acid, ethyl cinnamate), methyl salicylate, pyrazine dan alkylthiazoles.18

14. Urena lobata
Urena lobata (nama dari bahasa Dayak: celopai), daun mudanya dibuat pupur, sedangkan akarnya direndam dalam air panas dan diminum digunakan sebagai obat sakit kepala. Akarnya juga digunakan untuk mengobati panas influenza, malaria, rheumatic persendian, keputihan, radang tonsil, kencing keruh, diare, disentri, bengkak, muntah darah, gangguan pencernaan, gondok, luka berdarah, tulang patah, bisul, payudara bengkak, dan luka karena gigitan ular. Sifat kimiawi dan farmakologis: rasa manis, tawar, sejuk, penurun panas, anti radang, anti-rematik. Batang dan daunnya mengandung zat lendir, biji mengandung 13-14% lemak.19

15. Vitex pinnata
Vitex pinnata (nama dari bahasa Dayak: leban), daunnya digunakan sebagai obat disentri. Kayunya secara komersial tidak begitu penting karena biasanya tidak tersedia dalam jumlah banyak. Namun biasanya secara lokal digunakan untuk bahan bangunan rumah, perahu, mebel, jembatan dan juga kayu bakar. Di Semenanjung Malaya, daun dan kulit kayu laban ini secara tradisional digunakan untuk mengobati penyakit perut dan luka. Kulit kayunya selain untuk obat juga sebagai bahan pewarna hijau dan digunakan sebagai medium penanaman anggrek.20

Kesimpulan
1. Tercatat 47 jenis tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat tradisional, diantaranya sebagai obat kulit, masalah kewanitaan, pencernaan, ispa, mulut, demam, duiretika, dll.
2. Pada umumnya cara pengolahan dan penggunaannya masih secara sederhana.
3. Dilihat dari bagian tanaman yang digunakan paling banyak adalah daun, sehingga dilihat dari segi konservasi hal ini tidak mengganggu kelestarian dari jenis-jenis tumbuhan tersebut.
4. Pasak bumi (Eurycoma longifolia) sudah dikategorikan langka dengan status terkikis, sehingga perlu untuk dilakukan konservasi.

by : Francisca Murti Setyowati*

Daftar Pustaka
1. Nababan, A. 2003. Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat Adat. Pelatihan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB, Bogor.
2. Ristek online, 2001. Insentif Pengetahuan Tradisional. Group.yahoo.com/group/iptek- diskusi/message/45. Tanggal 4-12-2004.
3. Waluyo, E.B. 1995. Pengetahuan Masyarakat Tradisional Dalam Biologi Modern. Lokakarya Biologi – Biovillage.
4. Suryawan. 2009. Belian Ngerakit Umaq. Koran Tempo Edisi 13 Desember 2009. http://www.korantempo.com/korantempo/kor an/2009/12/13/Fotografi/index.html
5. Ajijah, Nur dan M. Iskandar. 1995. Menggali Budaya Orang Tua Tempo Doeloe Dalam Memanfaatkan Tumbuhan Obat Di Pedesaan Jawa Barat. Dalam: Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani II, Yogyakarta 24-25 Januari 1995. Buku I Tumbuhan Obat. Hal. 61-70.
6. Wijayakusuma, H.M.H. dkk. 1992. Tanaman Berkhasiat Obat Di Indonesia. Pustaka Kartini, Jakarta. Buku 1, 2,& 3.
7. Maira, Abu Al. 2007. Bandotan (Ageratum conyzoides).    Dalam: http://jacksite.wordpress.com/2007/04/13/ban dotan-angeratum-conyzoides-l/
8. Syamsuhidayat, S.S.; J.R. Hutapea. 1991. Inventaris Tumbuhan Obat Indonesia. Buku I. Dep.Kes. R.I. Balitbangkes, Jakarta. 616 hal.
9. Anonim. 2008. Pinang. Dalam: http://anekaplanta.wordpress.com/2008/01/10/pinang-areca-catechu-l-sebagai-obat/
10. Nasution, R.E. 1995. Aneka Ragam Tumbuhan Obat Tradisional Serta Cara Pemanfaatannya Oleh Suku Bolaangmongondow Di Sekitar Kotamobago, Sulawesi Utara. Dalam: Prosiding Seminar Dan Loka karya Nasional Etnobotani II, Yogyakarta 24-25 Januari 1995. Buku I. Tumbuhan Obat. Hal. 96-102.
11. Zuhud, E.A.M. 1995. Keanekaragaman Tumbuhan Obat Di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Dalam: Prosiding Seminar Dan Lokakarya Nasional Etnobotani II, Yogyakarta 24-25 Januari 1995. Buku I Tumbuhan Obat. Hal. 39-51.
12. Dalimartha, S. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Trubus Agriwidya, Jakarta. X + 198 hal.
13. Rifai, M.A. 1992. Eurycoma longifolia Jack. Dalam: Rifai, M.A., Rugayah, E.A. Widjaja. (Penyunting). Tiga Puluh Tumbuhan Obat Langka Indonesia. Sisipan Floribunda 2. PTTI Bogor. Hal. 16-17.
14. Windadri, F.I. 2000. Alang-alang (Imperata cylindrica (L.) Raeuschel). Dalam: Sutarno,
H. dan S. Atmowidjojo (Penyunting). Meningkatkan Usaha Apotik Hidup Dengan Prinsip Bersih Lingkungan. Prosea Indonesia-Yayasan Prosea, Bogor. Seri Pengembangan Prosea 12(1).2: 35-37.
15. Iskandar, M.I. dan A. Ismanto. 1995. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Dari Hutan Oleh Suku Sunda. Dalam: Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani II, Yogyakarta 24-25 Januari 1995. Buku I Tumbuhan Obat. Hal. 96-102.
16. Anonim. 2008. Tanaman Obat Indonesia Ciplukan (Physalis angulata) Dalam: http://toiusd.multiply.com/journal/item/86/Ph ysalis_angulata_068114117
17. Anonim. 2008. Beluntas (Pluchea indica Less.). Dalam: http://www.asiamaya.com/ jamu/isi/beluntas_plucheaindicaless.htm
18. Katzer’s, G. 2004. Tamarind (Tamarindus indica L.). J. Essent. Oil Res., 16, 318, 2004. In: http://www.unigraz.at/~katzer/engl/Tama_ind.html
19. Anonim. 2008. Tanaman Obat Indonesia: Urena lobata L. IPTEKnet Sentra Informasi Iptek Dalam: http://www.iptek.net.id/ind/pd tanobat/view.php?mnu=28id=51
20. Susiarti, S. 1996. Vitex pinnata L. Dalam: Sutarno, H. (penyunting). Paket Modul Partisipatif: Pemberdayaan Jenis Pohon Dalam Sistem Wanatani. Prosea Indonesia- Yayasan Prosea, Bogor. Seri Pengembangan Prosea 5(2)1: 60-61.