Metabolisme aerob secara terus-menerus akan memproduksi radikal bebas atau kelompok oksigen reaktif (superoxide dan nitric oxide) dan nitrogen (nitrogen proxide), yang merupakan pro-oksidan dan secara potensial dapat membahayakan sistem biologi. Pada kondisi di bawah normal, kelompok reaktif tersebut dapat menyingkirkan antioksidan endogen yang diproduksi. Penyakit berat, ditambah dengan metabolisme aerob, akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang ditandai dengan inflamasi sistemik dan reperfusi iskemik. Stres oksidatif menyebabkan imunosupresi, nekrosis, dan apoptosis sel, juga komplikasi lain, seperti resistensi insulin dan disfungsi organ. Hal ini berhubungan dengan karsinogenesis, penyakit kardiovaskuler, penyakit neurologi yang berhubungan dengan penuaan, retinopathy of prematurity, dan displasia bronchopulmonary pada bayi prematur.

Selenium, mikronutrien esensial pada manusia sehat, merupakan bagian kesatuan endogen dari sistem pertahanan antioksidan yang dibentuk oleh selenoenzyme glutathione peroxidase (GPx), thioredoxin reductase, dan selenoprotein P1 yang dapat melindungi jaringan dari kerusakan yang disebabkan oleh stres oksidatif. Defisiensi selenium dihubungkan dengan komplikasi dan hasil pengobatan tidak memuaskan dari penyakit akut ataupun kronis.

Konsentrasi selenium plasma yang rendah juga dilaporkan pada anak yang dirawat di ICU, namun sampai saat ini belum jelas hubungannya dengan beratnya penyakit dan keluaran klinis. Penelitian ini didesain untuk menilai efek perubahan selenium plasma terhadap keluaran pada anak dengan penyakit kritis. Hipotesisnya adalah meningkatnya konsentrasi selenium selama respons inflamasi sistemik berhubungan dengan perbaikan keluaran pasien. Selenium plasma diukur secara prospektif pada 99 anak dengan inflamasi sistemik akut. Kadar selenium dinilai pada saat masuk perawatan, hari ke-5 perawatan di ICU dan kemudian dinilai perbedaan konsentrasi selenium antara hari ke-5 perawatan dan pada saat masuk perawatan (delta selenium). Selenium hanya diberikan sebagai bagian dari diet enteral. Usia, malnutrisi, red cell glutathione peroxidase-1 activity, C-reactive protein (CRP), pediatric index of mortality 2, dan pediatric logistic organ dysfunction scores dianalisis dengan kovariat. Variabel keluaran dinilai dari hari bebas ventilator, hari bebas ICU, dan angka kematian dalam 28 hari.

Hasilnya menunjukkan konsentrasi selenium plasma meningkat mulai masuk perawatan (median 23,4 mg/L, interquartile range 12,0 s/d 30,8) sampai hari ke-5 perawatan (median 25,1 mg/L, interquartile range 16,0 s/d 39,0; P=0,018). Setelah disesuaikan dengan faktor acak, peningkatan selenium sampai 10 µg/L dapat menurunkan lama pemakaian ventilator (1,3 hari; 95% confi dence interval [CI]: 0,2 s/d 2,3; P=0,017) dan menurunkan lama perawatan di ICU (1,4 hari; 95% CI 0,5 s/d 2,3; P<0,01). Kenaikan kadar selenium berhubungan dengan menurunnya angka kematian dalam 28 hari dengan model univariat (odds ratio 0,67; 95% CI: 0,46 s/d 0,97; P=0,036). Rerata asupan harian selenium (6,82 mg; range 0 s/d 48,66 mg) berhubungan dengan meningkatnya konsentrasi selenium pada hari ke-5.

Simpulannya, selenium, mikronutrien esensial pada manusia sehat, merupakan bagian endogen dari sistem pertahanan antioksidan yang dibentuk oleh selenoenzyme glutathione peroxidase (GPx), thioredoxin reductase, dan selenoprotein P1 yang dapat melindungi jaringan dari kerusakan yang disebabkan stres oksidatif. Dari penelitian, pemberian suplemen selenium pada anak dengan inflamasi sistemik dapat memperpendek waktu pemakaian ventilator dan perawatan di ICU.

REFERENSI:
1. Leite HP, Nogueira PC, Iglesias SB, de Oliveira SV, Sarni RO. Increased plasma selenium is associated with better outcomes in children with systemic infl ammation. Nutrition 2015; 31: 485-90.
2. Rayman MP. Selenium and human health. Lancet 2012; 379: 1256-68.
3. Brenneisen P, Steinbrenner H, Sies H. Selenium, oxidative stress, and health aspects. Mol Aspects Med. 2005; 26: 256-67.
4. Forceville X, Vitoux D, Gauzit R, Combes A, Lahilaire P, Chappuis P. Selenium, systemic immune response syndrome, sepsis, and outcome in critically ill patients. Crit Care Med. 1998; 26: 1536-44.

# CDK

loading...