Refluks vesikoureter / vesicoureteral reflux (VUR), atau aliran retrograde urin dari kandung kemih ke ureter, merupakan kelainan anatomi dan fungsional yang menghasilkan morbiditas, baik dari infeksi akut maupun gejala sisa dari refluks nefropati.1

VUR muncul dari gangguan jalur sinyal yang kompleks dan diferensiasi sel. Mekanisme ini mungkin kelainan genetik, namun dapat dipengaruhi oleh paparan lingkungan. Ekspresi fenotip VUR bervariasi, berkisar dari asimptomatik sampai penyakit parenkim ginjal berat dan penyakit tahap lanjut.2 Sebagian besar anak dengan VUR muncul dalam 2 kelompok berbeda, yaitu dengan hidronefrosis dan dengan infeksi saluran kemih / urinary tract infection (UTI) bergejala. Hidronefrosis sering dapat diidentifikasi saat prenatal dengan USG, biasanya tanpa adanya penyakit klinis.1

Diagnosis UTI pada anak sering sulit karena beberapa alasan, antara lain:1

  • Anak-anak sering muncul dengan tanda dan gejala yang tidak spesifik, infeksi pada bayi dapat bermanifestasi dalam keterlambatan pertumbuhan, dengan atau tanpa demam, gejala lainnya termasuk muntah, diare, anoreksia, letargi, dll.
  • Anak yang lebih besar dapat melaporkan gejala berkemih atau nyeri perut.
  • Pielonefritis pada anak sering kali bermanifestasi pada rasa tidak nyaman pada perut dibandingkan nyeri pinggang klasik dan nyeri seperti yang terlihat pada dewasa.
  • Adanya demam tidak cukup untuk diagnosis.
  • Anak kadang-kadang muncul dengan refluks nefropati tahap lanjut yang mempunyai manifestasi sakit kepala dan congestive heart failure dari hipertensi yang tidak tertangani atau dengan gejala uremia dari gagal ginjal.


Voiding cystourethrography / VCUG merupakan kriteria standar diagnosis VUR, yang menyediakan detail anatomi dan dapat menunjukkan derajat refluks. Klasifikasi internasional untuk VUR adalah:1,2

  • Grade I – Refluks pada ureter yang tidak dilatasi/ureter yang tidak terdilatasi
  • Grade II – Refluks ke renal pelvis dan calyces tanpa dilatasi
  • Grade III – Refluks dengan dilatasi ringan sedang dan penumpulan minimal forniks
  • Grade IV – Refluks dengan lekuk ureter sedang dan dilatasi/pelebaran pelvis dan calyces
  • Grade V – Refluks dengan pelebaran besar dari ureter, pelvis, dan calyces, hilangnya gambaran papillary, dan lekuk ureter.


Prinsip terapi umum VUR pada anak adalah:1

  • Resolusi spontan VUR sering ditemukan pada anak yang lebih muda, namun makin jarang saat mendekati pubertas.
  • Refluks berat jarang untuk sembuh spontan.
  • Refluks steril, secara umum tidak menghasilkan refluks nefropati.
  • Profilaksis antibiotik jangka panjang pada anak aman.
  • Tindakan bedah untuk mengoreksi VUR mempunyai kesuksesan tinggi.


Antibiotik profilaksis pada anak dimulai setelah anak menyelesaikan terapi awal UTI, pemberian juga harus dihentikan saat tidak ada VUR pada pemeriksaan radiologi. Pada tahun 2011, terdapat perdebatan mengenai antibiotik profilaksis kurang efektif dalam pencegahan VUR, namun hal tersebut karena data yang masih terbatas.

Namun, karena banyaknya resistensi bakteri terhadap terapi antimikroba, probiotik mempunyai potensi besar dan relatif merupakan pendekatan terapi yang aman. Sebuah studi dengan desain prospektif, acak, mengevaluasi efek preventif profilaksis probiotik pada bayi dengan vesicoureteral reflux (VUR) primer dan urinary tract infection (UTI) berulang selama follow-up tahun pertama.3

Subjek adalah 128 bayi (berumur 1 minggu sampai 12 bulan) VUR primer secara prospektif acak dibagi menjadi kelompok mendapatkan probiotik (n = 64, Lactobacillus acidophilus, 1,0 × 108 CFU/g) atau antibiotik (n = 64, trimethoprim / sulfamethoxazole, 2/10 mg/kg).3

Hasil studi ini:3
1. Insidens UTI berulang pada kelompok probiotik sedikit lebih rendah dibandingkan kelompok antibiotik tanpa perbedaan bermakna (32,8% [21 dari 64] vs 40,6 % [26 dari 64]) (P = 0,348).
2. Organisme penyebab UTI berulang, rerata resolusi VUR, dan perkembangan jaringan parut tidak berbeda pada kelompok profilaksis probiotik dan antibiotik.
3. Insidens resistensi antibiotik dari organisme penyebab pada UTI berulang secara bermakna lebih rendah pada kelompok probiotik dibandingkan kelompok antibiotik.

Simpulannya, pada anak-anak dengan vesicoureteral reflux (VUR) dibutuhkan antibiotik profilaksis, namun dengan berkembangnya resistensi terhadap antibiotik, penggunaan probiotik dapat dipertimbangkan sebagai regimen alternatif untuk menurunkan gejala UTI berulang.

REFERENSI:
1. Nelson CP. Pediatric vesicoureteral reflux. Medscape [Internet]. 2014 [cited 2014 Dec 10]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1016439-overview
2. Williams G, Fletcher JT, Alexander SI, Craig JC. Vesicoureteral reflux. J Am Soc Nephrol. 2008; 19(5): 847-62. doi: 10.1681/ASN.2007020245. [Epub 2008 Mar 5].
3. Lee SJ, Lee JW. Probiotics prophylaxis in infants with primary vesicoureteral reflux. Pediatr Nephrol. 2015; 30(4): 609-13. doi: 10.1007/s00467-014-2988-z. [Epub 2014 Oct 30].

#CDK

loading...