Gaya hidup sehat, penurunan berat badan, dan penurunan asupan NaCl dapat menurunkan risiko hipertensi. Terapi obat diperlukan jika intervensi tersebut tidak efisien menurunkan tekanan darah. Pengobatan direkomendasikan untuk hipertensi dengan tekanan darah >140/90 mmHg, dan untuk mencapai tekanan darah ideal, kebanyakan hipertensi akan memerlukan terapi lebih dari satu obat. Namun, obat hipertensi juga dapat menyebabkan efek samping seperti nyeri kepala, pusing, takikardi, rasa lelah, dan disfungsi seksual.

Saat ini, terdapat banyak obat herbal untuk penatalaksanaan hipertensi, sebagai contoh, bawang putih, cabai, dan lada. Apium graveolens, biasa dikenal dengan seledri, merupakan suatu spesies tanaman dalam keluarga Apiaceae; dalam suatu studi farmakologi menunjukkan aktivitas antioksidan, hipolipidemik, anti inflamasi, dan dalam pengobatan tradisional, seledri telah digunakan juga sebagai obat antihipertensi. Dalam studi hewan, ekstrak seledri menunjukkan dapat membantu mencegah stroke, memperbaiki aliran darah, melindungi otak serta meningkatkan produksi energi.

Seledri mengandung 3-n-butylphthalide (3nB), senyawa yang bertanggung jawab untuk bau khas dan rasa seledri, tetapi juga telah dilaporkan dapat menurunkan tekanan darah dalam suatu studi pendahuluan. 3nB pertama kali menarik perhatian ilmiah saat para peneliti dari University of Chicago Medical Center mengidentifikasinya sebagai faktor dalam seledri yang bertanggung jawab terhadap efek penurunan tekanan darah dari seledri. Awalnya, para peneliti tertarik saat ayah salah satu dari mereka, setelah makan seperempat pon seledri setiap hari selama 1 minggu, tekanan darahnya turun dari 158/96 mmHg menjadi 118/82 mmHg.

Pada hewan, sejumlah kecil senyawa ini menurunkan tekanan darah sebesar 12-14%, dan menurunkan kadar kolesterol sebesar sekitar 7%. Tampaknya 3nB menurunkan tekanan darah dengan bekerja seperti diuretik dan vasodilator dengan mempengaruhi produksi prostaglandin, dan juga bekerja seperti penghambat kanal kalsium. 3nB juga menunjukkan dapat menurunkan kadar kolesterol dan menurunkan pembentukan plak arteri dalam uji preklinik dan in vitro. Efek ini dapat meningkatkan elastisitas pembuluh darah dan juga menyebabkan tekanan darah lebih rendah. Selain itu, 3nB juga memicu beberapa efek di area dan sistem otak yang mengontrol resistensi vaskuler.

Salah satu keuntungan ekstrak seledri di atas obat konvensional adalah bahwa betablocker, ACE inhibitor, dan penghambat kanal kalsium, cenderung menurunkan aliran darah otak. Efek tersebut membantu menurunkan kemungkinan stroke, tetapi sering menyebabkan rasa lelah, depresi, pusing, dan menjadi pelupa. Sedangkan ekstrak seledri, dalam studi hewan dapat membantu mencegah stroke, memperbaiki aliran darah, melindungi otak serta meningkatkan produksi energi. Ekstrak seledri juga menyebabkan pemulihan dramatis fungsi neurologi dan otak pada hewan studi yang dibuat stroke. Selain itu, ekstrak seledri juga dapat meningkatkan masa hidup tikus hipertensi.

Dalam suatu pilot study, efikasi ekstrak biji seledri dinilai pada 30 pasien hipertensi ringan hingga sedang, sebagai persiapan untuk studi tersamar ganda yang lebih besar. Kriteria inklusi meliputi pasien pria dan wanita berusia 18 tahun atau lebih dengan hipertensi (tekanan darah sistolik rata-rata =120 mmHg, tetapi =150 mmHg, dan tekanan darah diastolik rata-rata =80 mmHg, tetapi =95 mmHg saat skrining dan sebelum mulai dosis tunggal secara tersamar.

Kriteria eksklusi antara lain pasien yang diterapi dengan obat hipertensi dalam 30 hari terakhir, riwayat penyakit jantung yang klinis bermakna, penyakit gastrointestinal, atau penyakit ginjal, alergi seledri atau biji seledri, BMI <18,5 kg/m2 atau >35 kg/m2, riwayat artritis, minum 5 cangkir kopi atau 3-4 cangkir dengan 1-2 kaleng soft drink atau 1-2 cangkir teh per hari, minum obat resep termasuk suplemen, konsumsi alkohol =1 oz (sekitar 30 mL)/hari, merokok dalam 12 bulan terakhir, dan latihan aerobik berat >30 menit/hari.

Pasien diberi ekstrak biji seledri 150 mg/ hari yang mengandung 85% 3nB (2 x 1 kapsul/hari) setelah periode wash out 7 hari. Penilaian klinis primer adalah efek pada tekanan darah setelah 3 minggu dan 6 minggu. Penilaian sekunder adalah kadar kolesterol total, kolesterol LDL (Low-density Lipoprotein), kolesterol HDL (High-density Lipoprotein), kolesterol VLDL (Very Low Density Lipoprotein), asam lemak bebas, dan elektrolit serum (natrium, kalium, kalsium), dalam darah puasa.

Hasilnya menunjukkan penurunan yang bermakna secara statistik pada tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik setelah 3 minggu dan 6 minggu terapi dibanding basal. Perubahan tekanan darah sistolik setelah 3 minggu adalah 4,6 mmHg (p<0,005) dan perubahan tekanan darah diastolik adalah 4,5 mmHg (p<0,005). Perubahan tekanan darah sistolik setelah 6 minggu adalah 8,2 mmHg (p<0,005) dan perubahan tekanan darah diastolik adalah 8,5 mmHg (p<0,005). Tidak ada perubahan pada kadar lemak dan elektrolit darah.

Disimpulkan bahwa ekstrak biji seledri mempunyai efek penurunan tekanan darah yang klinis relevan. Namun, masih diperlukan studi tersamar ganda untuk mengkonfirmasi efikasi dan keamanannya.

REFERENSI:
1. Madhavi D, Kagan D, Rao V, Murray MT. A Pilot study to evaluate the antihypertensive eff ect of a celery extract in mild to moderate hypertensive patients. Natural Medicine Journal
2013;5(4).
2. Moghadam MH, Imenshahidi M, Mohajeri SA. Antihypertensive eff ect of celery seed on rat blood pressure in chronic administration. J Med Food. 2013;16(6):558-63.

loading...