Pemberian terapi sulih testosteron pada pria usia lanjut mengalami peningkatan secara signifikan pada beberapa dekade terakhir.1 Namun, terdapat kekhawatiran terhadap risiko kardiovaskuler sesuai publikasi sejumlah studi terbaru, di antaranya dalam Journal of the American Medical Association tahun lalu pada populasi veteran perang dan studi yang dipublikasikan pada Januari lalu yang menunjukkan peningkatan risiko infark miokardium (miokard infark/MI) dalam 90 hari pemberian testosteron.2 Voting panelis FDA terkait penggunaan testosteron mendapatkan suara yang hampir bulat untuk mengubah dan mempersempit indikasi pemberian terapi sulih testosteron. Selain itu, 16 suara menyetujui agar perusahaan farmasi terkait menyediakan studi keamanan terapi testosteron bagi beberapa indikasi tertentu.3

Tetapi studi terbaru yang dipublikasikan pada Annals of Pharmacotherapy di bulan Juli 2014, menunjukkan tidak terjadi peningkatan risiko MI pada pasien yang diberi terapi sulih testosteron dengan hazard ratio (HR) 0,80; 95% confidence interval (CI), 0,69-1,02. Studi tersebut melibatkan 6355 pasien yang diberi sekurang-kurangnya satu kali injeksi testosteron, dalam periode 1 Januari 1997-31 Desember 2005. Dalam analisis berdasarkan respons terhadap dosis kumulatif tidak terbukti peningkatan risiko MI. Bahkan, terapi testosteron justru dapat memberikan efek proteksi terhadap munculnya serangan jantung pada pasien dengan risiko prognostik tertinggi mengalami MI.1,2

Jacques Baillargeon, PhD, dari the University of Texas Medical Branch di Galveston selaku peneliti utama studi tersebut menjelaskan mekanisme efek proteksi testosteron karena secara teori testosteron dapat menurunkan massa lemak, meningkatkan massa otot, dan menurunkan resistensi insulin serta profil lipid. Selain itu testosteron juga mungkin memiliki efek anti-inflamasi dan antikoagulan, walaupun masih diperdebatkan.2

Kini terdapat sejumlah bentuk sediaan testosteron yang lebih populer dibanding injeksi seperti gel transdermal, patch maupun oral. Peneliti kedua studi di atas mengatakan bahwa injeksi testosteron akan meningkatkan risiko serangan jantung akibat peningkatan testosteron yang melebihi kadar fisiologis sehingga disebut super normal. Beliau juga menambahkan bahwa gel transdermal lebih menguntungkan karena menghasilkan konsentrasi testosteron darah yang lebih fisiologis.

Simpulannya, masih banyak perdebatan mengenai terapi sulih testosteron karena temuan sejumlah studi menunjukkan peningkatan risiko infark miokardium. Namun, studi kohort skala besar tidak menunjukkan peningkatan risiko infark miokardium dan bahkan testosteron dapat memberikan efek proteksi terhadap infark miokardium. Pemberian testosteron gel transdermal lebih disarankan karena meningkatkan kadar testosteron darah dengan lebih fisiologis dibandingkan dengan testosteron injeksi.

REFERENSI:
1. Baillargeon J, Urban RJ, Kuo Y-F, Ottenbacher KJ, Raji MA, Du F, et al. Risk of myocardial infarction in older men receiving testosterone therapy. Ann Pharmacother. 2014 July 2.
1060028014539918. doi: 10.1177/1060028014539918.
2. Melville NA. Latest testosterone study fi nds no heart attack risk [Internet]. 2014 [cited 2014 July 30]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/827796#1.
3. Tucker ME. FDA advisory panel urges restrictions on testosterone use [Internet]. 2014 [cited 2014 September 23]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/831897#1.

#CDK

loading...