Dalam sebuah penelitian acak tersamar ganda, para ahli menemukan bahwa terapi vitamin D saja kurang efektif untuk menyembuhkan riketsia dibandingkan dengan kalsium atau terapi kombinasi kalsium plus vitamin D. Dalam sebuah penelitian, outcome primer adalah kombinasi perbaikan radiologik dan normalisasi kadar alkali fosfatase serum, dan outcome ini tidak berbeda jika dibandingkan dengan kelompok pasien yang diberi kalsium dengan atau tanpa vitamin D.

Jika dibandingkan dengan terapi kalsium saja, kombinasi kalsium dan vitamin D menghasilkan penurunan alkali fosfatase dan perbaikan radiologik yang lebih cepat. Walaupun dalam penelitian ini status vitamin D (sebagai kadar 25(OH)D serum) mengalami perbaikan dengan kalsium saja, peningkatan kadar 25(OH)D dan penurunan 1,25(OH)2D lebih besar dengan kombinasi kalsium dan vitamin D, dibandingkan dengan kalsium saja.

Sebuah penelitian lain dilakukan untuk mengetahui apakah anak-anak riketsia dengan defisiensi kalsium memiliki respons yang lebih baik dengan terapi kombinasi vitamin D dan kalsium dibandingkan dengan kalsium saja. Penelitian adalah penelitian acak tersamar ganda, di Jos University Teaching Hospital, Jos, Nigeria. Populasi yang diteliti adalah anak-anak Nigeria dengan riketsia aktif yang diterapi dengan kalsium karbonat (kurang lebih 938 mg kalsium elemental dua kali sehari), dan secara acak diterapi tambahan dengan vitamin D2 oral 50000 UI (kelompok kalsium+D, n=44), atau plasebo (kalsium saja, n=28).

Terapi diberikan secara bulanan selama 24 minggu. Outcome utama adalah pencapaian nilai 10-point radiographic severity score =1,5 dan kadar alkaline phosphatase =350 U/L serum. Usia rerata anak dalam penelitian ini adalah 46 (15-102) bulan, dan karakteristik mirip antar kelompok terapi. Kadar 25-hydroxyvitamin D (25(OH)D) pada baseline adalah 30,2±13,2 nmol/L, 29 pasien memiliki kadar <30 nmol/L. Nilai alkaline phosphatase baseline dan nilai radiografik tidak berhubungan dengan status vitamin D.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 68 anak-anak yang menyelesaikan penelitian selama 24 minggu, 29 pasien (67%) dalam kelompok terapi kombinasi dan 11 pasien (44%) dalam kelompok terapi kalsium saja mencapai outcome primer walau tidak bermakna (p=0,06). Pada akhir 24 minggu penelitian kadar 25(OH)D lebih besar di kelompok terapi kombinasi (55,4±17,0 nmol/L) dibandingkan kadar terapi kalsium saja (37,9±20,0 nmol/L) (p<0,001). Konsentrasi 25(OH)D saat penelitian selesai lebih besar di kelompok terapi yang mencapai outcome primer (56,4±17,2 nmol/L) dibandingkan dengan yang tidak mengcapai outcome primer (37,7±18,5 nmol/L, p<0,001).

Para ahli dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa pada anak-anak riketsia dengan defisiensi kalsium, vitamin D tampaknya memberi efek memperbaiki respons terapi terhadap kalsium karbonat, yang tidak bergantung pada konsentrasi 25(OH)D baseline.

Simpulan:

  • Pemberian vitamin D bersama kalsium menyembuhkan riketsia lebih cepat pada pasien anak-anak riketsia dengan defisiensi kalsium.
  • Respons terhadap terapi vitamin D dan kalsium tidak berhubungan dengan kadar 25(OH)D baseline.


REFERENSI:
1. Thacher TD, Fischer PR, Pettifor JM. Vitamin D treatment in kalsium-deficiency rickets: a randomised controlled trial. Arch Dis Child 2014;99:807-11.
2. Thatcher TD, Fischer PR, Pettifor JM, et al. A comparison of kalsium, vitamin D, or both for nutritional rickets in Nigerian children. N Engl J Med 1999;341:563-8.

CDK-225/ vol. 42 no. 2, th. 2015

loading...