Keberhasilan proses penyembuhan manusia merupakan kompleksitas yang terjalin antara kondisi fisiologis dengan kondisi psikologis (inner mind) manusia. Keduanya mempunyai kontribusi dalam proses penyembuhan. Untuk mendukung kondisi psikologis pasien perlu diciptakan lingkungan yang menyehatkan, nyaman, dalam arti secara psikologis lingkungan memberikan dukungan positif bagi proses penyembuhan. Desain interior dalam rumah sakit merupakan lingkungan binaan yang keberadaannya berhubungan langsung dengan pasien. Melalui elemen-elemen desain seperti warna, dapat diciptakan sebuah lingkungan atau suasana ruang yang dapat mendukung proses penyembuhan.

Banyak pihak pengelola rumah sakit pemerintah maupun swasta yang beranggapan bahwa pemulihan kesehatan hanya dapat dilakukan dengan jalan medis saja. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Salah satu faktor pendukung yang dominan bagi pemulihan kesehatan seseorang adalah faktor psikologis yang mempengaruhi penderita tersebut.

Faktor psikologis dapat membantu pemulihan kesehatan penderita yang sedang dalam masa perawatan di rumah sakit. Faktor tersebut dapat dibentuk melalui suasana ruang pada fisik bangunan rumah sakit yang bersangkutan. Kehadiran sebuah suasana tertentu diharapkan dapat mereduksi faktor stress atau tekanan mental yang dialami oleh penderita yang sedang menjalani proses pemulihan kesehatan. Suasana tertentu dalam lingkungan fisik rumah sakit dapat menambah faktor stress penderita, sehingga dapat menghambat atau menggagalkan proses pemulihan kesehatannya. (Kaplan dkk, 1993).

Menurut Utomo (1999) desain interior ruang rawat inap kelas ekonomi di rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah di Indonesia, terlihat sangat sederhana dan apa adanya. Dalam ruang tersebut faktor psikologis pasien dan faktor kenyamanan pasiern dapat dikatakan diabaikan. Ruang tersebut hanya diperuntukkan sebagai penunjang fungsi fisik penyembuhan pasien saja, padahal dengan keadaan ruang demikian, fungsi ruang tersebut tidak akan optimal menunjang proses penyembuhan pasien.

PSIKOLOGI WARNA DALAM KONTEKS DESAIN INTERIOR

Warna merupakan unsur penting dalam desain, karena dengan warna suatu karya desain akan mempunyai arti dan nilai lebih (added value) dari utilitas karya tersebut. Dengan warna dapat diciptakan suasana ruang yang berkesan kuat, menyenangkan dan sebagainya sehingga secara psikologis memberi pengaruh emosional (Pile, 1995). Dari sisi psikologi, warna mempunyai pengaruh kuat terhadap suasana hati dan emosi manusia, membuat suasana panas atau dingin, provokatif atau simpati, menggairahkan atau menenangkan. Warna merupakan sebuah sensasi, dihasilkan otak dari cahaya yang masuk melalui mata. Secara fisik sensasi-sensasi dapat dibentuk dari warna-warna yang ada. Sebagai contoh, ruang yang diberi warna putih atau warna-warna lembut lainnya dapat memberikan kesan bahwa ruang tersebut lebih besar dari dimensi yang sebenarnya. Hal sebaliknya akan terjadi jika ruang menggunakan warna-warna gelap. Untuk mendapatkan sensasi hangat yang sama, ruang yang diberi warna-warna dingin memerlukan pengaturan suhu (AC) yang lebih rendah dibandingkan dengan ruang yang diberikan warna-warna hangat.

Ditinjau dari efeknya terhadap kejiwaan dan sifat khas yang dimilikinya, warna dipilah dalam 2 kategori yaitu golongan warna panas dan golongan warna dingin. Diantara keduanya ada yang disebut warna antara atau ‘intermediates’. Pada skema warna psikologi yang diambil dari sistem lingkaran warna Oswald dapat dilihat dengan jelas golongan warna panas berpuncak pada warna jingga (J), dan warna dingin berpuncak pada warna biru kehijauan (BH). Warna-warna yang dekat dengan jingga atau merah digolongkan kepada warna panas atau hangat dan warna-warna yang berdekatan dengan warna biru kehijauan termasuk golongan warna dingin atau sejuk (Sulasmi, 2002).

Efek psikologis golongan warna panas, seperti merah, jingga, dan kuning memberi pengaruh psikologis panas, menggembirakan, menggairahkan dan merangsang. Golongan warna dingin hijau dan biru memberi pengaruh psikologis menenangkan, damai, sedangkan warna ungu membawa pengaruh menyedihkan. Untuk warna putih memberi pengaruh bersih, terbuka dan terang, warna hitam memberi pengaruh berat, formal, dan tidak menyenangkan (Pile, 1995 dan Birren, 1961). Warna dalam desain interior memiliki pengaruh yang kuat pada perasaan dan emosi penggunanya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa keadaan fisik penggunapun dapat dipengaruhi oleh warna-warna tertentu yang terdapat pada ruang yang ditempatinya. Sebagai contoh penggunaan warna merah pada suatu ruang akan mempengaruhi pengguna secara fisik maupun psikis merasa hangat atau panas, walaupun suhu di ruang tersebut sebenarnya sama dengan ruang lainnya yang memiliki nuansa warna berbeda.

Warna-warna itu sendiri menciptakan berbagai macam pengaruh kejutan. Warna dingin bila digunakan untuk mewarnai ruangan akan memberikan ilusi jarak, akan terasa tenggelam atau mundur. Sebaliknya warna hangat, utamanya keluarga merah, akan terasa seolah-olah maju ke dekat mata, memberikan kesan jarak yang lebih pendek. Warnawarna cerah membuat objek kelihatan lebih besar dan ringan daripada sesungguhnya. Sementara itu, warna gelap membuat objek tampak lebih kecil dan berat. Penempatan warna kontras secara mencolok bersamaan dapat menyebabkan sensasi getaran seperti warna yang terlihat bergerak dalam arah berlawanan.

Pengaruh-pengaruh warna tersebut dapat dimanfaatkan sebagai keuntungan dalam perancangan desain interior. Ruang yang kecil akan tampak lebih besar, bentuk ruang yang aneh akan tampak lebih proposional dengan menggunakan warna-warna yang dapat menimbulkan efek-efek tersebut. Warna gelap pada langit-langit akan terlihat lebih rendah dari pada langit-langit yang sama diberi warna ringan. Lantai dan langit-langit warna gelap dapat mengurangi penampakan tinggi ruang dan terasa menyesakkan.

PERAN WARNA PADA INTERIOR RUMAH SAKIT DALAM HEALING ENVIRONMENT

Rumah sakit sebagai healing environment merupakan sebuah lingkungan binaan atau man-made environment yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan efek secara psikologis maupun fisiologis yang kondusif bagi proses penyembuhan. Healing environment atau lingkungan yang menyehatkan tidak selalu berarti lingkungan alami yang menyehatkan tetapi dapat juga berupa lingkungan binaan.

Dalam sebuah healing design, warna merupakan salah satu komponen yang sangat penting. Sebuah lingkungan binaan akan mempunyai nilai penyembuhan lebih jika implementasi warna diaplikasikan secara tepat. Meskipun demikian, belum adanya keseragaman pendapat yang universal terhadap efek warna tertentu menyebabkan wacana warna sebagai mediasi penyembuhan sering dianggap tidak ilmiah. Pada kenyataannya beberapa riset yang mengangkat topik healing color tidak jarang menghasilkan simpulan yang beragam, tidak persis sama, bahkan bertentangan. Meskipun demikian, perspektif warna mempunyai signifikansi dari sisi psikologis makin diterima, bukan saja oleh kalangan psikolog, namun meluas sampai ke desain dan arsitektur.

Rumah sakit sebagai lingkungan binaan yang mendukung penyembuhan non-medis, perencanaan dan perancangannya selalu mempertimbangkan segi teknis-fungsional yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Karena itu, standar teknis bagi proses perencanaan desain interior tiap ruang berbeda, diantaranya masalah temperatur dan kelembaban, tingkat iluminasi ruang, tingkat kebisingan ruang dan persyaratan finishing interior.

Permasalahan tidak berhenti pada masalah teknis saja, masalah kualitas rumah sakit sebagai lingkungan binaan akan dianggap lebih tinggi bila faktor-faktor non-teknis dalam desain interior juga diperhatikan. Warna merupakan salah satu elemen non-teknis yang dianggap mempunyai peran penting dalam proses persepsi individu-built environment. Pentingnya peran warna dalam arsitektur interior pada rumah sakit tersebut sejalan dengan pernyataan maestro arsitektur modern Le Corbusier yang mengatakan : “ …… Ones of fundamental truth is : Man needs color”.

KESIMPULAN

Perkembangan basis perancangan rumah sakit di Indonesia pada era globalisasi ini salah satu acuan perancangannya adalah base on patient focus dengan penekanan pada customer satisfaction (Untung, 2002). Faktor non-medis atau psikologis pasien menjadi salah satu pertimbangan dalam perancangan karena hal tersebut dapat membantu pemulihan kesehatan penderita yang sedang dalam masa perawatan di rumah sakit.

Interior rumah sakit sebagai lingkungan binaan memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap kenyamanan dalam mempengaruhi proses penyembuhan pasien. Ruang yang dirancang dengan pendekatan interior yang tepat dapat mengurangi stress dan rasa takut yang dialami pasien, sehingga proses penyembuhan yang dilakukan menjadi lebih efektif.

Sriti Mayang Sari
Dosen Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain
Universitas Kristen Petra Surabaya

Sumber: http://puslit.petra.ac.id/journals/interior

loading...