Abnormalitas elektrolit dan dehidrasi pada pasien lanjut usia relatif mudah diterapi, tetapi diagnosis dehidrasi dikategorikan sulit karena pengawasan yang kurang dan kendala dalam menilai keseimbangan cairan secara akurat. Manifestasi klinis dehidrasi dapat berupa kulit kering, penurunan turgor kulit, dan membran mukosa kering. Akan tetapi, penurunan turgor kulit juga dapat terjadi oleh karena proses penuaan dan mulut kering, juga dapat disebabkan oleh cara bernapas melalui mulut.

Gambaran klinis dan perubahan biokimia akibat dehidrasi

Gambaran klinis:

  • Keringnya selaput lendir
  • Kulit kering
  • Berkurangnya turgor kulit
  • Berkurangnya keringat ketiak
  • Hipotensi ortostatik
  • Takikardia dan hipotensi (menunjukkan shock)
  • Gangguan kognitif
  • Output urine berkurang
  • Konsentrat urin dan osmolalitas tinggi


Perubahan biokimia:

  • Meningkatnya serum urea
  • Meningkatnya kreatinin
  • Berkurangnya tingkat laju filtrasi glomerulus
  • Meningkatnya rasio urea kreatinin (> 80)
  • Hipernatremia (hilangnya air lebih besar dari hilangnya garam)
  • Meningkatnya osmolalitas serum atau urine
  • Meningkatnya berat jenis urine


Selain itu, pasien dengan gangguan kognitif seperti dementia memiliki angka kejadian dehidrasi relatif tinggi. Pasien lanjut usia dengan dementia seringkali lupa minum, menyebabkan peningkatan kejadian dehidrasi pada populasi pasien ini.

Karena adanya perubahan patofisiologi keseimbangan cairan dan elektrolit akibat proses penuaan, pasien lanjut usia cenderung menderita dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit perioperatif. Morbiditas yang dapat terjadi karena retensi garam antara lain komplikasi kardiorespiratori, peningkatan risiko infeksi, dan gangguan penyembuhan luka. Sedangkan gangguan keseimbangan cairan dapat berdampak gangguan pada fungsi gastrointestinal (GI) (Diagram).

Diagram : Efek Dehidrasi



NaCl 0,9% merupakan cairan kristaloid yang umum digunakan sebagai cairan infus perioperatif. Akan tetapi beberapa penelitian menunjukkan peningkatan kejadian asidosis hiperkloremik akibat penggunaan NaCl 0,9% dan ketidakseimbangan natrium masih terjadi sampai dengan 2 hari pascainfus, sehingga terjadi supresi pada RAAS (reninangiotensin  aldosterone system).

Beberapa penelitian juga menunjukkan peningkatan komplikasi dan kebutuhan penggunaan RRT (renal replacement therapy) akibat penggunaan NaCl 0,9% perioperatif jika dibandingkan dengan cairan elektrolit seimbang. Sebuah penelitian pada sukarelawan sehat yang membandingkan penggunaan NaCl 0,9% vs cairan elektrolit seimbang (Plasma-Lyte) menunjukkan penurunan kecepatan laju darah pada ginjal dan perfusi jaringan kortikal.

Bila hal ini terjadi pada pasien lanjut usia yang sudah mengalami perubahan patofisiologi cairan dan elektrolit, dapat meningkatkan retensi cairan dan garam, menyebabkan gagal ginjal dan gagal jantung. Selain itu asidosis hiperkloremik yang terjadi akibat penggunaan NaCl 0,9% dapat memperlambat penyembuhan pascaoperasi karena penurunan aliran darah ke lambung dan pH intramukosal, khususnya pada pasien lanjut usia.

Terapi cairan untuk mencegah dehidrasi, khususnya perioperatif pada pasien lanjut usia menitikberatkan pada monitoring keseimbangan cairan yang ketat serta kadar elektrolit serum, untuk mencegah morbiditas akibat retensi cairan dan garam. Sebuah metaanalisis menunjukkan penurunan komplikasi pascaoperatif sebesar 41% dan lama rawat di RS yang lebih singkat dengan pemberian metode near zero fluid balance. Beberapa studi lainnya menunjukkan pemberian bolus koloid dosis kecil (200-250 mL) intraoperatif dapat meningkatkan stroke volume dan secara bermakna memperbaiki outcome klinis.

Simpulannya, tatalaksana dehidrasi pada pasien lanjut usia, khususnya perioperatif memerlukan monitoring keseimbangan cairan dan elektrolit yang sangat ketat mengingat terdapat perubahan patofisiologi keseimbangan cairan dan elektrolit pada populasi pasien ini, seperti retensi cairan dan garam oleh karena penurunan fungsi ginjal. Menjaga kesimbangan cairan secara ketat dapat memperbaiki outcome klinis pasien dengan lanjut usia, khususnya selama perioperatif.

REFERENSI:
1. El-Sharkawy AM, Sahota O, Maughan RJ, Lobo DN. The pathophysiology of fl uid and electrolyte balance in the older adult surgical patient. Clin Nutr. 2014;33(1):6-13.
2. Walsh SR, Tang T, Bass S, Gaunt ME. Doppler-guided intra-operative fl uid management during major abdominal surgery: systematic review and meta-analysis. Int J Clin Pract. 2008;62(3):466-70.
3. Awad S, Allison SP, Lobo DN. Fluid and electrolyte balance: the impact of goal directed teaching. Clin Nutr. 2008;27(3):473-8.

loading...