Salah satu mikronutrien essensial bagi manusia adalah Fe atau zat besi yang merupakan mineral mikro paling banyak di dalam tubuh yaitu sebanyak 3-5 gram di dalam tubuh. Walaupun terdapat luas di dalam makanan, namun banyak penduduk di dunia termasuk Indonesia yang mengalami kekurangan zat besi.

Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia gizi dibanding defisiensi zat gizi lain seperti asam folat, vitamin B12, vitamin C dan trace elements lainnya.

Bentuk kimia zat besi dalam makanan terdiri dari atas dua jenis, yaitu bentuk heme dan bentuk non heme. Bentuk heme terdapat pada hemoglobin dan mioglobin yaitu terutama terdapat pada daging, hati dan ikan. Besi heme menyusun sekitar 10 -15 % dari total besi dalam makanan.

Sebanyak 80% besi dalam makanan adalah dalam bentuk besi non heme. Bentuk ini terdapat pada 60% produk hewani dan 100 % produk nabati. Absorbs besi non heme tergantung pada seberapa besar bentuk tersebut dapat larut dalam usus.

Berikut adalah empat fungsi zat besi dalam tubuh :

1. Berfungsi Untuk Keperluan Metabolisme Energi

Sebanyak 80 % zat besi tubuh berada di dalam hemoglobin. Hemoglobin dalam darah membawa oksigen dari paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Mioglobin berperan sebagai reservoir oksigen, menerima, menyimpan dan melepas oksigen dalam sel-sel otot. Pada kasus menurunnya produktivitas disebabkan karena berkurangnya enzim-enzim mengandung besi dan kurangnya besi sebagai kofaktor enzim-enzim yang terlibat dalam metabolism energi, karena menurunya hemoglobin darah. Akibat metabolisme energy dalam otot terganggu dan terjadi penumpukan asam laktat yang menyebabkan rasa lelah.

2. Mempengaruhi Fungsi Otak

Beberapa bagian otak mempunyai kadar besi yang tinggi yang diperoleh dari transport besi yang dipengaruhi oleh reseptor transferin. Kadar besi dalam dari meningkat selama pertumbuhan hingga remaja. Defisiensi besi berpengaruh pada fungsi otak, terutama pada fungsi neurotransmitter (pengantar saraf). Akibatnya, kepekaan reseptor saraf dopamine berkurang dan dapat berakhir dengan hilangnya reseptor tersebut. Jika ini terjadi maka daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan belajar terganggu, bahkan menurun.

3. Sebagai Sistem Kekebalan

Pada defisiensi besi, respon kekebalan oleh sel limfosit-T berkurang karena berkurangnya pembentukan sel-sel tersebut. Kurangnya sel-sel ini disebabkan karena berkurangnya sintesis DNA. Berkurangnya sintesis DNA karena gangguan enzim yang membutuhkan besi untuk dapat berfungsi. Di samping itu, sel darah putih yang berfungsi untuk menghancurkan bakteri tidak dapat bekerja secara efektif dalam keadaan tubuh kekurangan besi.

4. Sebagai Pelarut Obat-obatan

Obat-obatan yang tidak larut dalam air dapat dilarutkan oleh enzim-enzim yang mengandung besi, sehingga dapat dikeluarkan dari dalam tubuh.

loading...