Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronis yang menyerang paru dan dapat terjadi pada organ ekstra paru seperti pleura, selaput otak, kulit, kelenjar limfe, tulang, sendi, usus, sistem urogenital, dan lain-lain. Secara umum, disebut tuberkulosis ekstra paru apabila tanda tuberkulosis terjadi pada organ selain paru.

Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. M.tuberculosis adalah kuman bentuk batang, bersifat aerob yang memperoleh energi dari oksidasi beberapa senyawa karbon sederhana, dan tidak membentuk spora. Ukuran kuman ini sekitar 0,4 – 3 µm.14 Secara umum, Mycobacteria rentan terhadap suhu yang tinggi dan sinar UV.15 Dengan pewarnaan tehnik Ziehl Neelsen, maka kuman ini tergolong Bakteri Tahan Asam (BTA).

Patofisiologi dan Patogenesis Tuberkulosis

Gambar 1. Patofisiologi dan patogenesis tuberkulosis
(Sumber: Tuberculosis: Pathophysiology, Clinical Features, and Diagnosis)

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh masuknya M.tuberculosis ke dalam sistem respirasi. Kuman ini dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada Makrofag dan limfosit T bekerja sama untuk mencegah penyebaran infeksi dengan membentuk granuloma Droplet nuclei disertai M.tuberkulosis terinhalasi, masuk ke paru dan terdeposit di alveoli

Apabila terjadi penurunan sistem imun, dinding menjadi kehilangan integritas dan kuman dapat terlepas lalu menyebar ke alveoli lain dan organ lain tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembapan. Dalam suasana lembap dan gelap, kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Setelah masuk ke paru, kuman ini dihadapi pertama kali oleh netrofil, kemudian baru oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag dan keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dan sekretnya.

Interaksi antara kuman dengan reseptor makrofag, yaitu Toll-like receptors (TLRs) menghasilkan kemokin dan sitokin yang dikenal sebagai sinyal infeksi. Sinyal ini menyebabkan berpindahnya monosit dan sel dendritik dari aliran darah ke tempat infeksi pada paru. Sel dendritik memegang peranan penting sebagai presenter antigen pada fase awal infeksi dibandingkan makrofag serta berperan dalam aktivasi sel T dengan antigen spesifik dari M. tuberculosis. Sel dendritik yang menelan kuman menjadi matur dan bermigrasi ke limfonodi. Fenomena dari migrasi sel menuju focus infeksi menyebabkan terbentuknya granuloma.

Granuloma dibentuk oleh sel T, makrofag, sel B, sel dendritik, sel endothel dan sel epitel. Granuloma ini pada dasarnya mencegah penyebaran kuman dalam makrofag dan menghasilkan respon imun yang berhubungan dengan interaksi antara sekresi cytokines oleh makrofag dan sel T. Granuloma menjadi sarang kuman dalam periode yang lama (atau disebut Fokus Ghon). Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian jaringan paru. Bila menjalar sampai pleura, maka dapat terjadi efusi pleura. Kuman juga dapat masuk melalui saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian kuman masuk ke dalam vena dan menyebar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, dan tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh bagian paru menjadi TB milier.

Selain itu dapat pula terjadi limfadenitis regional dan limfangitis lokal. Sarang primer, limfangitis lokal dan limfadenitis regional disebut sebagai Kompleks Primer (Ranke). Semua proses ini dapat memakan waktu 3-8 minggu. Apabila terjadi ketidakseimbangan cytokines maka kuman akan terlepas dan terjadi reaktivasi penyakit.

Diagnosis dan Manifestasi Klinis

Ketika seorang pasien menderita tuberkulosis, gejala dan tanda awal tidak spesifik. Secara umum, tanda dan gejala tuberkulosis adalah batuk produktif yang berkepanjangan (>3 minggu), dispneu, nyeri dada, anemia, hemoptisis, rasa lelah, berkeringat di malam hari. Dikenal pula gejala sistemik, yaitu demam, menggigil, kelemahan, hilangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Gejala ini umumnya sudah dialami dalam jangka waktu yang lama, dan apabila dirasakan telah mengganggu barulah pasien memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, sehingga tuberkulosis yang didiagnosis cenderung bersifat kronis. Sedangkan apabila onset yang dirasakan pasien bersifat akut, biasanya peryebabnya adalah penyakit non-tuberkulosis. Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang bersifat kronis, dengan gejala dan tanda yang kurang spesifik sehingga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis karena pasien menunda pemeriksaan, ditambah dengan hasil pemeriksaan yang belum pasti.

Sebuah penelitian dilakukan di Norway menunjukan bahwa pada negara dengan prevalensi tuberkulosis cukup tinggi memiliki kecenderungan terlambat dalam menentukan diagnosis tuberkulosis. Faktor-faktor seperti sosial dan ekonomi, kurangnya pengetahuan akan bahaya tuberkulosis, kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai dan lain sebagainya menyebabkan kebanyakan pasien terlambat memeriksakan dirinya, sehingga kebanyakan pasien datang dalam kondisi kronis. Didukung pula oleh fakta bahwa gejala dan tanda awal tuberkulosis bersifat nonspesifik dan onsetnya lama, sehingga seringkali pasien kurang memahami penyakit yang sedang diderita. Hal-hal tersebut diatas dapat meningkatkan resiko komplikasi dari tuberkulosis.

Pemeriksaan Tuberkulosis

Untuk menentukan diagnosis tuberkulosis diperlukan beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan fisik, radiologis, tes tuberculin dan laboratorium. Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien, dimana mungkin ditemukan kulit dan konjungtiva yang pucat karena anemia, suhu meningkat karena demam subfebris, badan kurus atau berat badan menurun.

Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan yang praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis, meskipun membutuhkan biaya lebih. Lokasi lesi tuberkulosis biasanya berada di daerah apeks paru (segmen apical lobus atas atau segmen apical lobus bawah), tetapi dapat pula mengenai lobus bawah (bagian inferior), atau daerah hilus menyerupai tumor paru (misalnya pada tuberkulosis endotrakeal). Pada awal penyakit lesi masih merupakan sarang pneumonia. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma.

Pada pemeriksaan dengan tes tuberculin dilakukan dengan menyuntikan 0,1 cc tuberculin Purified Protein Derivative (PPD) intrakutan. Tes ini hanya menyatakan apakah seorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M.tuberculosis, M.bovis, vaksinasi Basil Calmette-Guérin (BCG) dan Mycobacteria pathogen lainnya.

Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah dan sputum. Pemeriksaan darah pada pasien tuberkulosis menunjukan jumlah leukosit yang sedikit meninggi, jumlah limfosit di bawah normal, Laju Endap Darah (LED) mulai meningkat, anemia ringan, gama globulin meningkat, dan kadar natrium darah menurun. Sedangkan pemeriksaan sputum penting dilakukan, karena dengan ditemukannya kuman BTA dengan pengecatan Ziehl Neelsen maka diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan.

Tuberkulosis dan Anemia

Pada pemeriksaan fisik terhadap kondisi umum pasien tuberkulosis ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia. Anemia pada tuberkulosis dapat dikarenakan terjadinya gangguan pada proses eritropoesis oleh mediator inflamasi, pemendekan masa hidup eritrosit, gangguan metabolisme besi, adanya malabsorbsi dan ketidakcukupan zat gizi.

Baik anemia penyakit kronik maupun anemia defisiensi besi dapat terjadi pada penderita tuberkulosis. Sebuah penelitian yang dilakukan di Korea pada tahun 2006 menunjukan dari 202 pasien tuberkulosis yang mengalami anemia, terdapat 71,9% memiliki gambaran normositik normokromik yang merupakan salah satu ciri dari anemia penyakit kronik.

loading...