Pemberian nutrisi enteral (EN) pada pasien dengan gangguan gastroenterologi seperti Crohn’s disease (CD) dan short bowel syndrome (SBS) khususnya dengan malnutrisi dapat membantu perbaikan dan kesembuhan. EN dapat diberikan sebagai nutrisi praoperasi pada pasien dengan hipoalbumin dan juga digunakan sebagai terapi tunggal, seperti CD pada anak dan CD pada dewasa ketika pemberian kortikosteroid tidak memungkinkan.

Crohn’s disease (CD)

Pada fase akut CD, kejadian nutrisi kurang (undernutrition) akibat kehilangan berat badan, kekurangan protein, vitamin, dan trace element sangat umum terjadi. Kehilangan nafsu makan (anoreksia), peningkatan kehilangan fungsi saluran cerna dan inflamasi sistemik merupakan faktor utama terjadinya undernutrition. Pada anak dan remaja dapat terjadi gangguan pertumbuhan disebabkan akibat kurangnya asupan nutrisi dan juga akibat terapi steroid.

Prevalensi kehilangan berat badan pada pasien dewasa rawat inap dengan CD dapat mencapai 75%. Kehilangan mineral pada pasien CD dapat menyebabkan gangguan seperti osteopenia akibat kehilangan vitamin D dan angka kejadian dapat mencapai 45%. Penurunan kadar vitamin K dalam tubuh dapat mengakibatkan penurunan densitas mineral tulang (BMD – bone mineral density). Pada pasien anak dan remaja, gangguan pertumbuhan memiliki angka kejadian sebesar 40% dan penurunan massa otot dan lemak tubuh memiliki angka kejadian sebesar 60%. Pemberian nutrisi dapat meningkatkan laju pertumbuhan pada pasien anak dan remaja dengan CD.

Kebutuhan kalori harian pada pasien dewasa dengan CD umumnya sebanding dengan kebutuhan kalori harian pada dewasa sehat, yaitu 25-30 Kkal/kgBB/hari. Terjadi peningkatan kejadian fraktur pada pasien CD akibat penurunan kadar kalsium dan vitamin D di dalam tubuh, oleh karena itu dosis umum direkomendasikan untuk vitamin D (cholecalciferol) adalah 800-1000 IU/hari dengan kalsium 1000 mg/hari. Dosis dapat ditingkatkan jika terdapat malabsorpsi.

Tujuan terapi nutrisi enteral adalah:
1. Terapi dan profilaksis undernutrition.
2. Peningkatan pertumbuhan pada pasien anak dan remaja.
3. Peningkatan QOL (quality of life).

Pada pasien CD dewasa, kortikosteroid merupakan terapi lini pertama untuk tata laksana CD, EN diindikasikan sebagai terapi utama apabila pemberian kortikosteroid tidak mungkin akibat intoleransi atau penolakan terapi kortikosteroid.

Terapi kombinasi diindikasikan pada pasien malnutrisi dan juga pada pasien dengan inflamasi stenosis usus. Pada anak dan remaja, EN merupakan terapi lini pertama untuk CD. Formula EN yang direkomendasikan adalah protein kompleks. Sebuah penelitian menyebutkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada penggunaan formula asam amino bebas atau peptide-based atau protein kompleks.

Terapi nutrisi yang baik adalah formula yang menyerupai makan normal, sehingga penggunaan formula asam amino bebas atau peptide-based tidak terlalu direkomendasikan. Belum terdapat penelitian sampai pada saat ini yang menunjukkan keuntungan penggunaan formula disease-specific seperti modifikasi lemak, yaitu penggunaan MCT, serta penggunaan omega-3, glutamine, dan TGF-ß (growth factor).

Short bowel syndrome (SBS)

SBS merupakan kondisi kompleks yang disebabkan oleh kehilangan fungsi usus atau gangguan absorpsi pada usus besar. Tujuan utama terapi nutrisi pada pasien SBS adalah menjaga/meningkatkan status nutrisi, peningkatan fungsi usus besar, penurunan diare, dan perbaikan kualitas hidup, sehingga kebutuhan dan keseimbangan kalori, trace elements, dan elektrolit perlu diperhitungkan secara adekuat.

Tidak terdapat nutrisi spesifik untuk SBS. Sebuah studi menunjukkan bahwa absorpsi yang dapat dicapai pasien SBS adalah sekitar 62% dan untuk masing-masing zat gizi sebagai berikut: lemak 54%, karbohidrat 61%, dan protein 81%. Karena penurunan absorpsi tubuh, untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan energi dan berat badan, maka diperlukan energi 60 Kkal/kgBB/hari per oral atau melalui sonde. Pemberian energi sampai dengan 200-419% kebutuhan basal dapat mencegah kebutuhan penggunaan nutrisi parenteral (PN). Kebutuhan protein harian bisa mencapai 1,5-2 g/kgBB/hari.

Jika kolon berfungsi baik, penghantaran karbohidrat per oral dalam dosis besar dapat membantu absorpsi kebutuhan energi karena sintesis asam lemak rantai pendek. Meskipun disebutkan bahwa zat farmakonutrisi, seperti glutamine, tidak menguntungkan pasien SBS, sebuah studi menunjukkan perbaikan fungsi usus pada pasien yang diberi nutrisi dengan formula tinggi karbohidrat, rendah lemak, dan 30 g glutamine per hari dan growth hormone.

Simpulannya, pada pasien dengan kasus gastroenterologi terapi nutrisi ditujukan untuk terapi dan profi laksis undernutrition, peningkatan pertumbuhan pada pasien anak dan remaja, dan peningkatan kualitas hidup. Kebutuhan kalori pasien kasus gastroenterologi pada umumnya sebanding dengan individu sehat. Pada saat ini, belum terdapat keuntungan penggunaan nutrisi khusus pada pasien CD dan SBS.

REFERENSI:
1. Lochs H, Dejong C, Hammarqvist F, Hebuterne X, Leon-Sanz M, Schütz T, et al. ESPEN Guidelines on Enteral Nutrition: Gastroenterology. Clin Nutr. 2006;25(2):260-74.
2. Geerling BJ, Badart-Smook A, Stockbrügger RW, Brummer RJ. Comprehensive nutritional status in recently diagnosed patients with infl ammatory bowel disease compared with population
controls. Eur J Clin Nutr. 2000;54(6):514-21.
3. Griffi ths AM, Ohlsson A, Sherman PM, Sutherland LR. Meta-analysis of enteral nutrition as a primary treatment of active Crohn’s disease. Gastroenterology 1995;108(4):1056-67.
4. Byrne TA, Wilmore DW, Iyer K, Dibaise J, Clancy K, Robinson MK,, et al. Growth hormone, glutamine, and an optimal diet reduces parenteral nutrition in patients with short bowel syndrome:
A prospective, randomized, placebo-controlled, double-blind clinical trial. Ann Surg. 2005;242(5):655-61.

#cdk

loading...