Paru-paru ibarat bagian nyawa dari manusia, karena setiap detik hidup manusia dipompa oleh paru-paru untuk selalu bisa bernapas. Orang dewasa sendiri bernapas lebih dari 20.000 kali sehari. Dan untuk menunjang kelancaran kerja paru-paru, harus didukung dengan beberapa faktor yang salah satunya adalah jenis pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Tetapi, bagaimana jika pekerjaan tersebut tidak bisa memberikan efek sehat bagi paru-paru kita? Yang pasti, bahan-bahan pemicu tersebut bisa semakin menurunkan fungsi paru-paru di kemudian hari, meskipun hal itu bersifat akumulatif. Lalu, jenis pekerjaan apa saja yang berisiko untuk paru-paru kita?

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Mel and Enid Zuckerman College of Public Health, University of Arizona, Tucson, ada beberapa jenis pekerjaan yang sangat berisiko bagi paru-paru, karena saat melakukan pekerjaan itu, kita kerap terpapar dengan zat-zat yang bisa membahayakan kesehatan paru-paru, seperti misalnya bahan kimia, kuman penyakit, asap tembakau, debu dari serabut dan kotoran lainnya. “Lingkungan pekerjaan juga menjadi salah satu faktor risiko terbesar timbulnya gangguan paru-paru, mulai dari fibrosis, asma, PPOK, infeksi paru, hingga kanker paru.” ungkap Philip Harber, MD, MPH, Guru Besar dari University of Arizona.

Berikut 10 pekerjaan berisiko bagi paru-paru:

1. Pelayan Restoran dan Bartender

Tak pelak lagi, pekerjaan melayani konsumen yang datang untuk makan atau minum memang harus menghadapi risiko terpaparnya pernapasan dengan asap rokok. Pelayan atau bartender harus berinteraksi langsung dengan konsumen perokok, sehingga kebulan asap rokok pun kerap terisap oleh si pelayan, dengan frekuensi yang tinggi pula. Padahal, meskipun si pelayan tersebut tidak merokok, namun sebagai perokok pasif, risiko terkena kanker paru pun bahkan bisa lebih besar daripada perokok aktif. Selain itu, untuk jenis pekerjaan seperti ini, tidaklah mungkin para pelayan dan bartender memakai tabung respirator ketika mereka sedang melayani pelanggan, sebab belum ada kebijakan tertulis yang mengatur mengenai hal tersebut.

“Satu-satunya upaya untuk menghindarinya agar tidak terpapar lebih jauh lagi adalah dengan mencari pekerjaan lain yang lebih manusiawi untuk paru-paru dan kesehatan tubuh mereka secara total, namun pada kenyataannya, mereka memiliki pilihan pekerjaan lain yang sangat terbatas.” kata Susanna Von Essen, MD, Guru Besar bidang Penyakit Dalam, divisi Pulmonologi, Perawatan Intensif, Tidur dan Alergi dari University of Nebraska Medical Center.

2. Asisten Rumah Tangga dan staf kebersihan gedung

Meskipun sudah banyak peralatan kebersihan yang melabelkan produk mereka “go green” alias ramah pada alam, namun tetap saja beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa masih ada kandungan bahan kimia di dalamnya. Peralatan-peralatan tersebut yang menjadi pegangan sehari-hari para pekerja rumah tangga dan kebersihan di gedung-gedung (cleaning service). Karena itu, banyak dari mereka yang sering terpapar dengan polutan yang berasal dari bahan-bahan kimia yang terkandung di dalamnya.

“Pembersih adalah bahan kimia reaktif, yang berarti akan bereaksi dengan kotoran dan juga dengan jaringan paru-paru pekerja tersebut," lanjut Von Essen. Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan pembersih lantai dari bahan sederhana, seperti campuran air dengan cuka atau soda kue, dan juga untuk tetap membuka jendela atau ventilasi agar proses sirkulasi udara tetap terjaga.

3. Pekerja Medis

Paparan bahan kimia dari obat-obatan ataupun peralatan medis sangat bisa mengancam para pekerja medis, seperti dokter, suster, apoteker, dan orang-orang lain yang bekerja di pusat pelayanan kesehatan terkena gangguan pernapasan, seperti TB, Influenza, dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Bahan kimia lain yang berisiko bagi paru-paru pekerja medis adalah karet lateks sebagai bahan baku pembuat sarung tangan yang kerap mereka pakai untuk bekerja di laboratorium ataupun meracik obat. Untuk itu, pemberian imunisasi, seperti vaksin flu dan vaksin lain yang direkomendasikan CDC harus dilakukan.

4. Penata Rambut

Profesi ini juga sangat berisiko dengan gangguan paru-paru karena sering terpapar dengan semprotan hairspray, minyak rambut, foam rambut, tonik, dan obat-obatan untuk rambut. Dan berdasarkan penelitian, obat-obatan tersebut memiliki kandungan bahan kimia yang dapat menimbulkan gangguan pada organ mata, hidung, tenggorokan, dan juga paru-paru. Cara paling efektif untuk mencegahnya adalah dengan membiarkan jendela atau ventilasi ruangan tata rambut tetap terbuka, agar bahan-bahan obat rambut tersebut yang menguap ke udara bisa cepat hilang.

5. Pekerja Pabrik

Meskipun bukan menjadi pencetus terjadinya asma, namun bahan-bahan baku pembuat satu produk di pabrik bisa memperparah dan membuat kambuh kembali para pekerja pabrik pengidap asma. Bahan-bahan baku di pabrik yang bisa memperparah asma antara lain silikon dan butiran pasir halus. Bahkan, jika si pengidap asma kerap terpapar dengan bahan tersebut dalam frekuensi yang tinggi, bisa menyebabkan kanker paru-paru.

Gangguan paru-paru lain yang kerap dialami oleh para pekerja pabrik adalah 'popcorn lung' atau bronkioltis obliterans, yang dicetus oleh bau dari bahan-bahan kimia di pabrik. Cara yang paling efektif untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan tabung respirator saat bekerja di pabrik atau membuka ventilasi udara untuk membuang gas dan udara kotor yang dihasilkan dari proses pengolahan bahan baku di pabrik.

6. Pekerja konstruksi gedung

Tak hanya melelahkan, pekerjaan yang satu ini pun berisiko terkena berbagai gangguan paru-paru. Menghancurkan tembok beton, memasang batu bata untuk membuat suatu bangunan, memotong lembaran keramik, memasang atap dari genteng ataupun asbes adalah jenis tugas yang harus diemban para pekerja konstruksi. Tugas-tugas tersebut mengharuskan mereka berhadapan dengan debu atau asap yang ditebarkan oleh bahan-bahan bangunan yang bila dalam intensitas tertentu akan membuat mereka masuk ke dalam kategori yang berisiko terkena gangguan paru-paru, seperti kanker pada sel paru-paru dan penyakit asbestosis.

7. Petani dan peternak

Bekerja mengolah tanaman dan merawat hewan seperti petani dan peternak seringkali bersentuhan dengan bahan-bahan kimia yang bersumber dari pupuk kandang, kotoran hewan yang belum diolah, jerami, butiran gandum, dan sebagainya. Sumber-sumber tersebut bisa menyebabkan para petani dan peternak dihadapkan pada gangguan paru-paru. Salah satu yang bisa muncul adalah hipersensitivtas pneumonia yang disebabkan oleh semburan jerami dan butiran gandum yang terhisap melalui saluran pernapasan. Gejala awalnya bisa berupa demam tinggi, flu, batuk, dan sakit di bagian dada. Sementara untuk peternak babi dan ayam, gangguan yang kerap terjadi adalah sindrom yang menyerupai penyakit asma. Cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan respirator.

8. Pengecat kendaraan di bengkel

Para pekerja di bengkel, khususnya yang berhubungan dengan reparasi body mobil, tidak diragukan lagi sering terpapar dengan bahan kimia isosianat. Isosianat merupakan penyebab utama timbulnya asma. Penggunaan respirator bisa mengurangi risiko terjadinya asma dan kemungkinan gangguan paru-paru lain. Cara lain adalah dengan membiarkan ventilasi jendela terbuka untuk menghilangkan bau dan gas yang dihasilkan bahan-bahan kimia tersebut.

9. Pekerja Pemadam Kebakaran

Selain berjibaku dengan api, petugas pemadam kebakaran pun kerap berhadapan dengan bahan dan materi, seperti plastik, kayu, dan bahan kimia lainnya yang sudah terbakar dan berterbangan di udara. Bahan dan material itulah yang bisa membuat mereka berisiko terhadap gangguan paru-paru. Namun, biasanya, para pekerja jenis ini sudah dibekali dengan Self-Contained Breathing Apparatus (SCBAs), yakni sejenis alat untuk melindungi hidung saat sedang melakukan proses pembersihan dan penyisiran area bencana kebakaran.

10. Penambang batu bara

Ruangan / gua bawah tanah, tempat para penambang batu bara melakukan tugasnya merupakan area yang sangat berisiko terhadap timbulnya gangguan pernapasan, seperti bronkhitis, pneumoconiosis atau paru-paru hitam, dan juga fibrosis. Kondisi tersebut akan menjadi kronis apabila para pekerja tambang kerap menghirup debu atau uap hasil pemanasan batu bara di dalam gua bawah tanah tersebut. Penggunaan alat pelindung di bagian hidung pun wajib dipakai untuk mengurangi intensitas menghirup udara kotor di area tambang bawah tanah.

#medicinus

loading...