PENDAHULUAN

Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni: 1) sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 2) berak-berak meperet, dan 3) tinja mengandung darah dan lendir. Adanya darah dan lekosit dalam tinja merupakan suatu bukti bahwa kuman penyebab disentri tersebut menembus dinding kolon dan bersarang di bawahnya1-3. ltulah sebabnya pada akhir-akhir ini nama diare invasif lebih disukai oleh para ahli.

Dulu, disentri dianggap hanya terdiri dari dua jenis yang didasarkan pada penyebabnya, yakni disentri basiler yang disebabkan oleh basil Shigella spp. dan disentri amuba yang disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica4. Akan tetapi berkat perkembangan pesat pengetahuan kita tentang mikrobiologi, sindroma disentri di atas ternyata disebabkan oleh berbagai mikroba, bakteri dan parasit, yakni: Shigella spp., Salmonella spp., Campylobacter spp., Vibrio parahaemolyticus, I'leisomonas shigelloides, EIEC (Enteriinnasive E. coil), Aeromonus spp., Entamoeba histolytica atau Giardia lambha5..

1. Shigella spp.

Shigelloides terdapat di mana-rnana tapi yang terbanyak terdapat di negara dengan tingkat kesehatan perorangan yang sangat buruk. Manusia sendiri merupakan sumber penularan dan hospes alami dari penyakit ini, yang cara penularannya adalah secara oro-faecal.

Shigella spp. sebagai penyebab disentri basiler merupakan kuman yang unik di antara enteropatogen lainnya. Ambang infeksinya rendah yakni 10--100 kuman sudah cukup untuk menularkan penyakit tersebut dari penderita ke orang lain.

Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa epidemi penyakit ini bagi penduduk yang kesehatan perorangannya sangat buruk, sulit dicegah. Hal lain yang juga unik ialah sifat basil ini yang rapuh (fragile, cepat mati di luar tubuh hospesnya), menyebabkan penyakit ini lebih banyak tertular dengan cara kontak langsung (person to person). Inilah sebabnya penyakit ini disebut hand washing disease.

Kedua sifat yang kontradiktif yaitu ambang infeksi yang rendah dan sifat rapuh ini mewarnai epidemiologi penyakit ini. Dapatlah dimengerti bahwa penyakit ini akan menimbulkan epidemi yang sulit dicegah di daerah yang kesehatan perorangannya rendah, sedang di daerah dengan kesehatan perorangan cukup baik penyakit ini akan lebih cepat menghilang. Kedua hal yang bertentangan ini akan lebih nyata lagi karena hospes alami (tuan rumah) penyakit ini adalah manusia, walaupun kuman ini dapat diisolasi dari tinja primata yang hidup dekat dengan habitat manusia.

Shigella spp merupakan penyebab terbanyak dari diare invasif (disentri) dibandingkan dengan penyebab lainnya. Hal ini tergambar dari penelitian yang dilakukan oleh Taylor dkk. di Thailand pada tahun 1984 (Tabel 1). Tabel tersebut juga memperlihatkan bahwa infeksi campuran, yakni ditemukannya dua atau lebih penyebab diare invasif pada seorang penderita, sangat tinggi (48,8%). Hal ini memberi petunjuk dan memberi gambaran bahwa pada umumnya gejala klinik penyakit ini cukup ringan bahkan sering tanpa gejala. Tapi ini bukan berarti bahwa semua penyakit ini memberi gejala ringan. Sebagian ada yang berat dan bahkan dapat merenggut nyawa.

Dikenal ada empat spesies dari Shigella berdasarkan reaksi biokimia dan serologi, yaitu: Sh. Jlexneri, Sh. boydii, Sh. dysentriae dan Sh. sonnei. Ketiga spesies pertama masih dibagi lagi dalam serotipe sedang Sh. sonnei dibagi menurut tipe colisin. Hingga sekarang sudah dikenal ada 8 serotipe Sh. Jlexneri, 15 serotipe Sh. boydii, 10 serotipe Sh. dysentriae dan 15 tipe colisin Sh. sonnei.

Berdasarkan isolasi penderita diare dari RS Karantina Jakarta pada tahun 1980—1985 spesies terbanyak dari Shigella ialah Sh. Jlexneri (47,1%) lalu menyusul Sh. dysentriae (27.4%)6. Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ditemukan di Singapura dan negara ASEAN lainnya7.




2. Salmonella sp.

Beberapa spesies Salmonella yang bukan S. typhi, S. paratyphi A dan B dapat menyebabkan diare invasif. Seperti diketahui Salmonella merupakan penyakit zoonosis, hewan dan unggas merupakan reservoir penyakit ini, dan manusia tertular melalui makanan, daging, unggas dan telur. Penyakit ini lebih sering terdapat di negara yang penduduknya pemakan daging. Maka dapat dimengerti bahwa Salmonellosis menjadi problem kesehatan yang lebih besar di negara yang telah maju dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang.

3. Campylobacter spp.

Pada akhir-akhir ini Campylobacter jejuni (dulu disebut "vibrio lainnya" (related vibrio) mulai muncul sebagai penyebab penting penyakit diare.

Penyakit ini umumnya adalah zoonosis walaupun penularan dari orang melalui air yang terkontaminasi. Infeksi Campylobacter terutama terdapat pada masa kanak-kanak8 dan, diare yang ditimbulkannya biasanya lebih dari 7 hari walaupun dengan gejala yang tidak terlalu berat.

Diperkirakan unggas merupakan reservoir yang paling potensial. Hal ini amat penting karena Indonesia penduduknya lebih senang makan daging unggas daripada daging sapi. Selain itu telur juga memegang peran penting dalam penularan penyakit ini.

Berbagai letusan penyakit ini di Inggris, Amerika Serikat dan Canada telah dihubungkan dengan susu yang tidak dipasteurisasi. Susu terkontaminasi melalui kontak langsung dengan tinja sapi. C. jejuni akan dapat bertahan selama 22 hari dalam susu yang disimpan pada 4°C tapi segera mati apabila dipasteurisasi.

4. EIEC (Entero Invasive E. coli)

Sejak 1967, para peneliti di Jepang, Brazil dan negara-negara lain telah membuktikan bahwa serotipe tertentu dari E. coli selain dari yang dinamakan EPEC (serotipe tertentu lainnya dari E. coli), telah berhasil diisolasi dari tinja penderita anak dan dewasa yang menderita diare invasif. Sekarang telah diketahui bahwa serotipe dari I. coli yang invasif ialah: 028ac, 029, 0112ac, 0124, 0136, 0143, 0144, 0152, 0164 dan 0167.

Serotipe 0124 merupakan EIEC yang paling sering menimbulkan letusan epidemi, seperti yang terjadi di Hongaria dan USA.

EIEC sangat menyerupai Shigella karena sifat biokimia yang sering sama yaitu laktosa negatif, tidak bergerak, dekarboksilase lysin juga negatif9, selain itu mempunyai antigen somatik 0 yang bersamaan.10

Kesulitan yang timbul dalam isolasi EIEC dari penderita diare invasif ialah cara membedakannya dari E. coli lainnya. Karena dari 85% orang normal maupun yang diare dapat diisolasi E. coli. Dengan begitu reaksi biokimia dan serologi dari isolat E. coli yang cukup besar tak mungkin dilakukan secara rutin. Penentuan EIEC secara Sereny testil yaitu dengan mempergunakan minimal dua marmut untuk tiap isolat E. coli dari satu penderita, akan memakan biaya yang sangat besar.

RINGKASAN DAN KESIMPULAN

Disentri merupakan suatu infeksi dengan gejala trias disentri: sakit perut, tenesmus dan berak-berak darah; sekarang lebih disukai disebut sebagai diare invasif. Dulu dikenal hanya dua macam disentri berdasarkan penyebabnya, yakni disentri amuba dan basiler. Tapi sekarang telah diketahui banyak penyebab lain berupa parasit dan bakteri.

Shigella terdapat di mana-mana dan merupakan penyebab terbanyak disentri. Penularan secara orofaecal dengan ambang infeksi yang rendah dan merupakan basil yang rapuh sehingga penularannya telah tercegah dengan cuci tangan saja (hand washing disease). Ada empat spesies Shigella, yang berdasarkan urutan frekuensinya di Indonesia ialah Sh. flexneri, Sh. disentriae, Sh. boydii dan Sh. sonnei.

Beberapa spesies Samonella, yang umumnya zoonosis dan bukan S. typhi juga merupakan penyebab disentri. Di negara industri / maju yang umumnya pemakan daging, diare invasif lebih sering terdapat daripada di negara yang sedang berkembang, sehingga sering merupakan problem keracunan makanan di negara maju.

Akhir-akhir ini Campylobacter muncul sebagai penyebab diare invasif dan terutama terdapat pada anak-anak. Unggas merupakan reservoir yang potensial spesies ini. EIEC (Enteroinvasive E. Coli) juga merupakan penyebab utama dari diare invasif ini. Pemeriksaan EIEC sulit dilakukan secara rutin karena biaya yang sangat besar .

Dr. Cyrus H. Simanjuntak
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Rattan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

KEPUSTAKAAN

1. Harris JC, Du Pont HL, Hornick RB. Fecal leuqpcytes in diarrheal ilness. Am Intern Med 1972; 76 : 697-3.
2. Pickering LK, Du Pont HL, Olarte J, Conklin R, Ericsson C. Fecal leucocytes in enteric infections. Am J Clin Pathol 1977; 66 :562-5.
3. Vogtlin J, Stalder H, Hurzcler L dkk. Modified Guaiac test may replace search for faecal leucocytes in acute infectious diarrheal. Lancet 1983; ii : 1204.
4. Hoesadha J. Disentri. Dalam: Ilmu Penyakit Dalam jilid I Ed II, hal: 46-8. Penerbit: Balai Penerbit FKUI. 1983.
5. Taylor DN, Echeverria P, Pal T dkk. The role of Shigella spp, Enteroinvasive E. coli, and other Enteropathogens as causes of childhood dysentry in Thailand. J Inf Dis 1986; 153 (6) : 1132-8 .
6. Simanjuntak CH, Harjining S, Hasibuan MA, Pyjarwoto, Koiman I (1988). Laboratory aspects of Gastrointestinal Infections in Indonesia, 19 80 -19 85 . Gastrointestinal infections in South East Asia (V); Proceedings of the 14 th SEAMIC Workshop. Ed. SEAMIC.
7. Goh KT. Of communicable diseases in Singapore: Epidemiological surveilance. Eds SEAMIC, Tokyo, 1983; hal. 8 9 -1 3 0 .
8. Nayyar S, Bhan MK, Gupta dkk. Campylobacter jejuni as a cause of childhood diarrhoea in a North Indian community. J Diaz Dis Res 1983; 1 (1) : 2 6 - 8 .
9. Silvia RM, Toledo MRF, Trabalsi LR. Biochemical and cultural characteristics of invasive E. coli. J Chin Microbiol .1980; 11, 441 - 4 .
10. Ewing WH. Serological relationship between Shigella and Coliform Culture. J Bacteriol 1965; 66 : 333-40.
11. Sereny B. Experimental Shigella heraticonjuctivity. Acta Microbiol Hung 1955; 2 : 193-6 .

sumber: cdk

loading...